LAPORAN
PRAKTIKUM
DASAR-DASAR GENETIKA
PERSILANGAN
JAGUNG
Disusun oleh :
Nama :
Mahmud Ismai (13169/Ketua)
Reynaldo
C ( 13396/Anggota)
Apriliana (13254/Angggota)
Ribka Gupita (13322 /Anggota)
Dhinai Saraswati (13180/Anggota)
Rendyka W (13482 /Anggota)
Gol/Kel :
B4 / 2
LABORATORIUM PEMULIAAN TANAMAN DAN GENETIKA
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014
ACARA V
PERSILANGAN JAGUNG
A.
Hasil
Pengamatan (Foto Tongkol)
1.
Persilangan
untuk mengetahui sifat dominansi bentuk bulir
a.
♀ Jagung
hibrida × ♂ Jagung
manis (pembastaran)
b.
♀ Jagung
manis × ♂ Jagung
hibrida (pembastaran resiprok)
2.
Silang
sendiri (selfing)
a.
♀Jagung hibrida × ♂ Jagung hibrida (selfing)
b.
♀ Jagung
manis × ♂ Jagung
manis (selfing)
B. Pembahasan
Tanaman jagung
memiliki variasi genetic yang luas dalam diversitas garis keturunan, varietas,
dan suku – suku jagung menyebar di seluruh dunia. Penelitian mengenai keragaman
jagung dibuat sesuai dengan pengamatan yang sistematik pada unit faktor(gen)
yang terbukti mempengaruhi warna, bentuk, stuktur, atau proses yang terjadi
dalam jaringan atau seluruh bagian tanaman. Pembelajaran terhadap tanaman
jagung telah mengidentifikasi variasi genetic yang dipengaruhi oleh sekitar
600-1000 lokus atau lebih. Pembentukan sistematika dan deskripsi terhadap
variasi genetic tanaman jagung didasari oleh konvensi nomenklatur (penamaan dan
pengelompokan), pendataan faktor- faktor yang diketahui, dan peta linkage,
serta sedikit perhatian terhadap effect dosis gen, pleiotropism, anatomi sel,
dan duplicate faktor (Sprague,1977).
Secara alami
penyerbukan pada jagung terjadi ketika serbuk sari kuning mencapai kedewasaan
dan terlepas dari anther yang kemudian terbawa oleh angin. Beberapa serbuk
menempel pada putik dan mulai melakukan pembuahan dengan membentuk pollen tube.
2 nuclei dari sel sperma akan bergerak didalam polen tube hingga mencapai
embryo sac. Salah sari dari nuclei akan bersatu dengan sel telur dan membentuk
embrio dan nuclei lainya akan bersatu dengan 2 polar nuclei dalam embryo sac
membentuk endosperm dalam perkembangan tiap bulir jagung. Kedua nuclei jantan
memiliki sifat yang identic, sama halnya dengan sel telur dan endosperm, tetapi
nuclei endosperm memiliki ukuran yang lebih besar dibanding dengan sel telur.
Karakterisik penyerbukan jagung tersebut memungkan setiap tongkol jagung dapat
diserbuk oleh pollen dari tanaman jantan lainya.
Pada ekperimen persilangan jagung, metode yang
biasa digunakan adalah pengontrolan penyerbukan dengan membungkus tongkol dan
malai jagung. Seluruh proses tersebut bertujuan untuk mengendalikan penyerbukan
sendiri atau selfing. Ada 2 metode yang sering diganaman untuk melakukan
selfing, yaitu “tassel-bagging method”
dan “bottle method”.
Langkah awal dalam tassel-bagging method adalahtongkol muda
jagung dibungkus dengan plastic transparan, dan bungkus kemudian dilepas ketika
rambut putik mulai muncul. Rambut putik dipotong sekitar 3.25 inch( 8.255 cm)
dari pangkalnya, dan kemudian dibungkus kembali. Pada saat yang bersamaan malai
dibungkus dengan kantung besar(dikerodong). Selama 24-48 jam, rambut putik akan
tumbuh kembali sepanjang 1.5-2 inch, yang kemudian akan diserbuki oleh pollen
yang dikumpulkan dari kantung besar yang membungkus malai. Kemudian tongkol
yang sudah dibuahi kembali di tutup dengan kantung hingga waktu pemanenan
(Wallace,1936).
Pada praktikum ini,
metode yang digunakan adalah metode tassel-bagging,
serta varietas yang digunakan adalah jagung manis dan jagung hibrida. Persilanngan
yang dilakukan dibagi menjadi 2 kategori yaitu selfing dan pembastaran serta
resiproknya. Selfing dilakukan dengan menyerbuk pollen suatu varietas pada
tongkol dengan varietas yang sama. Persilangan selfing yang dilakukan adalah
antara betina hibrida dengan jantan hibrida dan betina manis dan jantan manis.
Pembastaran dilakukan dengan menyerbuk pollen dari satu varietas ke tongkol
varietas lainya, sedangan resiproknya merupakan persilangan yang sama dengan
menukar jenis klamin pollen maupun tongkol. Pembastaran yang dilakukan adalah
antara betina hibrida dengan jantan manis dan resiproknya betina manis dengan jantan hibrida.
Menurut
Wallace,(1936) jagung hibrida merupakan hasil pengembangan dalam penilitian
genetika. Sebuah tipe jagung hibrida merupakan generasi pertaman dari hibridisasi 2 jenis jagung. Jagung
hibrida menunjukan kelebihannya dalam tingkat produktivitas dan ketahanan
terhadap angin, hama penyakit, dan kondisi yang tidak dikehendaki. Produksi
jagung hibrida harus dilakukan secara terus menerus, atau memproduksi generasi
baru.
Bulir jagung
merupakan instrument yang sangat baik dalam pembelajaran terhadap ekspresi
genetic. Karena sebuah tongkol jagung terdiri dari kumpulan indivual yang
dihasilkan dari tersegregasinya karakter – karakter yang mempengaruhi
karakteristik bulir dan mudah diamati atau bahkan dibuat rasio dengan menghitung
bulir yang dihasilkan (Sprague,1977). Setelah kurang lebih 3-4 minggu setelah
penyerbukan, jagung mulai dipanen dan diamati. Sifat – sifat yang dipengaruhi oleh
genetic jagung sangat beragam tetapi dalam percobaan ini sifat yang diamati
adalah bentuk tongkol, ukuran tongkol, warna bulir, permukaan bulir, dan bentuk
bulir.
Hasil persilangan
pada percobaan ini merupakan generasi pertama atau F1, dengan demikian hasil
bulir akan seragam pada tiap – tiap persilangan.Hasil akan seragam karna F1
merupakan hasil dari segregasi dari kedua alel dari orang tua yang homozigot,
sehingga pada selfing akan menghasilkan genotip yang sama dengan induk jantan
maupun betinanya dan pembastaran akan menghasilkan genotip yang kemungkinan
besar heterozigot. Sifat homozigot dan heterozigot akan terekspresi merata pada
setiap bulir hasil masing - masing persilangan. Segregasi pada alel yang
bersifat heterozigot mungkin saja terjadi dalam persilangan ini dan akan
mengasilkan keberagaman karena salah satu induk akan mensegregasi 2 macam gamet
yang berbeda.Persilangan jagung manis dan hibrida menghasilkan keturunan
sebagai berikut:
Tabel
1. Karakteristik hasil persilangan jagung
|
Jagung
|
Sifat
|
||||||
|
Bentuk Tongkol
|
Ukuran Tongkol
|
Warna Bulir
|
Permukaan Bulir
|
Bentuk Bulir
|
|||
|
Jantan
|
Betina
|
||||||
|
Manis
|
Manis
|
Mengerucut
|
Pendek
|
Kuning
|
Berkerut
|
Lonjong
|
|
|
Hibrida
|
Hibrida
|
Memanjang
|
Panjang
|
Kuning muda
|
Halus
|
Bulat
|
|
|
Manis
|
Hibrida
|
Memanjang
|
Panjang
|
Kuning muda
|
Berkerut
|
Bulat
|
|
|
Hibrida
|
Manis
|
Mengerucut
|
Pendek
|
Kuning muda
|
Berkerut
|
Lonjong
|
|
Warna
bulir pada jagung hibrida dan manis memiliki perbedaan yang tidak terlalu
signifikan, yaitu kuning pada jagung manis dan kuning muda pada hibrida,
sehingga hasil dari persilangan akan dipengarui oleh alel Y1. Selfing antara manis x manis menghasilkan jangung berwarna
kuning(sesuai dengan induk) dan selfing antara hibrida x hibrida menghasilkan
jagung berwarna kuning muda (sesuai dengan induk). Hasil pembastaran jagung manis
dengan hibrida beserta resiproknya menghasilkan warna kuning muda (lebih
mengarah pada sifat warna hibrida). Menurut Ford(2000), warna kuning pada
jagung disebabkan oleh prodkuksi carotenoid yang diproduksi oleh endosperm yang
berpati serta aleuron yang transparan.Intesitas warna kuning dipengaruhi oleh banyaknya gen Y1(berwana kuning) dan
y1(berwarna putih), peristiwa ini dikenal sebagai gene dosage effect.Contohnya
warna kuning pada keturunan selfing manis x manis memiliki genotip Y1Y1Y1( ♀Y1Y1 x ♂ Y1), atau warna
kuning muda pada hibrida manis memiliki genotif Y1Y1y1 (♀Y1Y1 x ♂y1).
Karakter
bulir lainya yang dapat diamati adalah kerutan pada kondisi segar jagung.
Pengamatan hasil persilangan menujukan bahwa karakter berkerut dari jagung
manis bersifat dominan. Persilangan antara manis x hibrida dan resiproknya
memberikan hasil yang sama yaitu bulir yang berkerut dengan tekstur permukaan
yang halus, berbeda dengan sifat bulir hibrida yang tidak berkerut. Pengamatan
terhadap bulir dapat dilanjutkan dengan melihat kondisi bulir pada masa
pengeringan yaitu ketika jagung siap dipanen ( pemanenan jagung yang sekarang
dilakukan terbilang premature). Kerut atau bahkan menyusut akan lebih dapat
diamati ketika jagung dewasa.
Sifat bulir yang
berkerut berkaitan dengan sifat manis ataupun sifat berpati. Bulir bertipe
Brittle merupakan bulir dengan endosperm yang sangat berkerut. Sifat brittle
dipengaruhi oleh 4 loci yaitu bt, bt2,
sh2, sh4, dan mutanya, memberikan fenotif yang hampir serupa. Endosperm
dengan sifat sh2 sebelum mengalami
pengeringan memiliki bentuk yang mengembembung, seperti balon, dan sebagiannya
transparan serta memproduksi pati yang sangat sedikit. Bulir jagung mulai
berkerut dan menyusut ketika masa pengeringan. Pada dasarnya mutasi pada
keempat gen tersebut berakibat pada gagalnya produksi pati pada bulir. Bulir
dengan sh2 dapat mempertahankan kadar
gula lebih lama jika dibandingkan dengan bulir dengan su, sehingga sh2 sering disebut dengan bentuk faktor
alternative dari jangung manis. Varietas yang sering digunakan yaitu jagung
manis merupakan jenis yang memiliki sifat homozigot pada sh2(Sprague,1977).
Sifat bulir tidak
terlalu berkerut dibandingkan dengan tipe brittle ditentukan oleh loci sh. Endosperm sebelum mengalami
pengeringan memiliki ciri terisi cairan, mengembung dan memiliki kuantitas
padatan yang kurang. Setelah mengering, bentuk bulir mulai berkerut pada
beberapa bagia menciptakan garis-garis halus, selain itu tekstur kulitnya
halus. Sifat sugary (su) ditunjukan
pada hasil bulir jagung dengan endosperm yang memiliki tingkat transparansi
yang lebih tinggi. Bulir su kering memiliki penampilan yang seperti kaca, dan
terdapat sebuah kerutan yang merupakan karakteristik yang paling mudah
dikenali. Sebelum pengeringan bulir su menggembung dan bersifat kohesif. Pada
dasarnya sifat homozigot su menentukan rasa manis dan konsistensi pada jagung
manis. Data mengenai enzim dan struktur polisakarida menunjukan su merupakaan
faktor penting dalam regulasi percabangan pati dan polisakarida
lainya(Sprague,1977).
Karakter
bentuk tongkol, ukuran tongkol, dan bentuk bulir memiliki pola keturunan yang dipengaruhi
oleh maternal inheritance. Karena ketiga karakteristik tersebut mengikuti pola
pertumbuhan tongkol dari tetua betina dan mengabaikan jenis polen yang
membuahinya. Hasil pada setiap persilangan dengan tongkol dari varietas manis
akan miliki tongkol yang mengerucut dan pendek, sedangkan susunan calon bulir
yang padat menyebabkan pertumbuhan bulir berbentuk lonjong. Sedangkan hasil pada
setiap persilangan dengan tongkol dari varietas hibrida akan memiliki tongkol
yang memanjang dengan ukuran yang lebih panjang dibanding dengan tongkol dari
varietas manis, dan susunan calon bulir renggang menyebabkan pertumbuhan bulir
terus membulat.
Kesimpulan
Genetika tanaman
jagung dapat dilihat melaui persilangan dengan sesama ataupun varietas
lainya. Sifat – sifat yang dapat diamati pada hasil persilangan adalah ukuran
tongkol, bentuk tongkol, bentuk bulir, warna bulir, dan permukaan bulir.Sifat
ukuran dan besar tongkol serta bentuk bulir dipngaruhi oleh maternal
inheritance. Warna bulir dipengaruhi oleh alel Y1dengan jagung hibrida lebih cendrung berwarda kuning pudar (Y1y1y1, Y1Y1y1, atau y1y1y1) dan jagung
manis berwarna kuning (Y1Y1Y1).
Permukaaan bulir ditentukan oleh banyak faktor gen seperti bt, sh, dansu, jagung
manis memiliki sifat berkerut yang bersifat dominan. Sifat berkerut dapat
dihubungkan pada sifat berpati maupun manis pada jagung.
Daftar
Pustaka
Ford,R.H.2000.Inheritance
of Kernel Color in Corn: Explanation and Investigation.The American Biology
Teacher Vol.62:181-184
Sprague,
G.F. 1977.Corn and Corn Improvement.American Society of
Agronomy,Inc.,Publisher.USA
Wallace,H.A.1936.Yearbook
of Agriculture. United States Government Printing Office.Washington
LAMPIRAN
|
|
|
|
Gambar
1. Pemilihan tongkol
|
Gambar
2. Pengkrodongan malai
|
|
|
|
|
Gambar
3. Proses persilangan
|
Gambar
4. panen
|

Tidak ada komentar:
Posting Komentar