LAPORAN
RESMI
PRAKTIKUM
DASAR – DASAR EKOLOGI
ACARA
II
KOMPETISI INTER DAN INTRA SPESIFIK
SEBAGAI FAKTOR PEMBATAS ABIOTIK
Disusun oleh:
Nama :
Mahmud ismail
NIM : 13169
Gol/Kel : B2/IV
Asisten :
1. Aditya
Yasyafa M.
2. Diestalia A.
3. Yasinta B.
LABORATORIUM EKOLOGI TANAMAN
JURUSAN
BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014
ACARA II
KOMPETISI INTER DAN INTRA
SPESIFIK
SEBGAI FAKTOR PEMBATAS ABIOTIK
I.
TUJUAN
1. Mengetahui pengaruh aktor biotik
terhadap pertumbuhan tanaman.
2. mengetahui tanggapan tanaman terhadap tekanan kompetisi inter dan
intra spesifik
II. TINJAUAN PUSTAKA
Kompetisi
adalah interaksi antara dua organisme yang berusaha untuk hal sama. Interaksi
kompetisi biasanya interspesifik berpengaruh terhadap pertumbuhan dan proses
bertahan hidup oleh dua atau lebih spesies populasi. Interaksi kompetisi
biasanya melibatkan ruang lingkup, makanan, nutrisi, cahaya matahari, dan
tipe-tipe lain dari interaksi. Kompetisi interspesifik dapat menghasilkan
penyesuaian keseimbangan oleh dua spesies atau dari satu populasi menggantikan
yang lain (Odum, 1983).
Kompetisi terjadi apabila tanaman mencapai
tingkat pertumbuhan tertentu dan akan semakin keras dengan pertambahan ukuran
tanaman dengan umur. Kemampuan suatu tanaman dipengaruhi oleh kemampuan suatu
organ yang melakukan kompetisi. Daun dan akar merupakan bagian yang berperan
aktif dalam kompetisi. Akar yang memiliki luas permukaan lebar, daun yang
banyak, lebar, dan tersebar di seluruh tubuh tanaman akan meningkatkan
kompetisi, akibatnya kompetisi tanaman pun tinggi (Fuller and Coronthus, 1964).
Kompetisi
tergolong faktor pembatas yang dependen, artinya hanya akan berpengaruh pada
populasi dengan tingkat kepadatan yang tinggi. Kompetisi dapat terjadi di
antara banyak organisme yang hidup pada habitat yang sama. Sumber alam yang
terbatas membuat antarorganisme harus berkompetisi untuk makanan, air, ruang gerak,
dan naungan (Campbell and Reece, 2009).
Interaksi
adalah hubungan antara makhluk hidup yang satu dengan makhluk hidup yang
lainnya. Ada dua macam interaksi berdasarkan jenis organisme yaitu
intraspesifik dan interspesifik. Interaksi interspesifik adalah hubungan yang
terjadi antara organisme yang berasal dari satu spesies, sedangkan interaksi
intra spesifik adalah hubungan antara organisme yang berasal dari spesies yang
berbeda. Secara garis besar, interaksi interspesifik dan intraspesifik dapat
dikelompokkan menjadi beberapa bentuk dasar hubungan, yaitu (1) netralisme
yaitu hubungan antara makhluk hidup yang tidak saling menguntungkan dan saling
merugikan satu sama lain, (2) mutualisme yaitu hubungan antara dua jenis
makhluk hidup yang saling menguntungkan, (3) parasitisme yaitu hubungan yang
hanya menguntungkan satu jenis makhluk hidup saja, sedangkan yang lainnya
dirugikan, (4) predatorisme yaitu hubungan pemangsaan antara satu jenis makhluk
hidup terhadap makhluk hidup lain, (5) kooperasi yaitu hubungan antara dua
makhluk hidup yang bersifat saling membantu antara keduanya, (6) komensalisme
yaitu hubungan antara dua makhluk hidup yang satu mendapat keuntungan sedang
yang lain dirugikan, (7) antagonis yaitu hubungan dua makhluk hidup yang saling
bermusuhan (Elfidasari, 2007).
Selain antar tumbuhan, kompetisi
juga terjadi dalam tumbuhan itu sendiri. Kompetisi yang terjadi adalah
kompetisi antara organ maupun sel di dalam tumbuhan. Contoh kompetisi yang
terjadi adalah perebutan hasil asimilasi. Perebutan hasil amilasi ini dapat
berakibat buruk pada organ-organ tertentu. Untuk mengatasi hal ini diperlukan
penambahan hasil asimilasi (Reynolds, 2010).
Tumpang
sari digunakan di sebagian besar belahan dunia untuk produksi pangan mengingat
lahan tanam yang semakin sempit dan terbatas. Maka dari itu, intercroppingdianggap sebagai metode
pertanian yang berkelanjutan yang efisien dan efektif. Intercropping antara tanaman serealia dan kacang-kacangan telah
populer di lingkungan tropis lembab dalam kaitannya dengan keuntungan yang
diperoleh seperti kontrol gulma lebih mudah, kenaikan fungsi lahan, biaya
produksi murah, pengembangan kesuburan tanah, menaikkan stabilitas lahan, dan
lainnya (Rezaei-Chianeh et.al.,
2010).
III.
METODE PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Praktikum Dasar-Dasar Ekologi
Acara 2 yang berjujul “Kompetisi Intra dan Inter Spesifik Sebagai Faktor Pembatas Abiotik”
dilaksanakan di Laboratorium Ekologi Tanaman, Jurusan Budidaya Pertanian,
Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada hari Selasa 23
April 2014.
Alat yang digunakan yaitu timbangan analitik, penggaris, peralaralatan tanam
dan oven. Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini antara lain 3
macam tanaman, kacang tanah (Arachis hypogeae), kacang panjang (Vigna
sinensis), jagung(Zea mays), polybag, pupuk kandang, kantong kertas,
dan kertas label.
Pada praktikum ini pertama
polybag disiapkan dan diisi tanah sebanyak kurang lebih 3 kg. Bila ada kerikil,
sisa-sisa akar tanaman lain dan kotoran harus dihilangkan supaya tidak
mengganggu pertumbuhan tanaman. Biji yang sehat dipilih dari jenis tanaman yang
akan diperlakukan, selanjutnya ditanam sejumlah biji ke dalam masing-masing
polybag. Penanaman dilakukan sesuai perlakuan: (a). Monokultur kacang tanah
sejumlah 3, 4, dan 6 tanaman, (b). Polikultur kancang tanah – jagung sejumlah
(1+1,2+2,3+3) tanaman, (c). Polikultur kacang tanah – kacang panjang sejumlah
(1+1,2+2,3+3) tanaman. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Tiap
polybag di beri label sesuai perlakuan dan ulangannya. Label harus mudah di
baca untuk mencegah tertukarnya dengan perlakuan lain saat pengamatan.
Penyiraman dilakukan setiap hari sampai tanaman berumur 21 hari, selanjutnya
dilakukan pemanenan. Setelah diamati, selanjutnya tanaman dikeringkan
dimasukkan kantong kertas dan dioven
selama 80 ͦ C2 hari, sampai berat konstan. Pengamatan yang dilakukan meliputi
tinggi tanaman Pengamatan yang dilakukan
meliputi tinggi tanaman Pengamatan yang
dilakukan meliputi tinggi tanaman setiap
2 hari sekali, berat segar tanaman
kacang tanah pada masing-masing polybag diakhir pengamatan dan berat
kering tanaman kacang tanah pad masing-masing polybag setela di oven. Pada
akhir percobaan, dari seluruh data yang terkumpul, dihitung rerata tiga ulangan pada tiap perlakuan, selanjutnya
digambar grafik garis tinggi tanaman dan jumlah daun masing-masing perlakuan
serta histogram berat kering tanaman masing-masing perlakuan.
IV.
HASIL PENGAMATAN
Tabel Tinggi Tanaman Monokultur dan
Polikultur Kacang Tanah
|
Pengamatan
hari ke-
|
Monokultur
Kacang
|
Polikultur
Kacang-Jagung
|
Polikultur
Kacang-Kedelai
|
||||||
|
2
|
4
|
6
|
1+1
|
2+2
|
3+3
|
1+1
|
2+2
|
3+3
|
|
|
1
|
5.12
|
5.21
|
4.89
|
5.40
|
4.58
|
4.98
|
5.94
|
5.05
|
4.58
|
|
2
|
7.85
|
7.76
|
7.56
|
7.02
|
7.88
|
9.12
|
7.54
|
8.46
|
7.30
|
|
3
|
12.00
|
12.73
|
12.60
|
12.24
|
13.23
|
12.47
|
12.10
|
11.90
|
11.40
|
|
4
|
16.95
|
16.16
|
15.85
|
16.54
|
16.33
|
16.14
|
17.78
|
15.43
|
14.90
|
|
5
|
18.95
|
18.53
|
16.28
|
18.86
|
19.32
|
17.98
|
18.96
|
18.45
|
17.80
|
|
6
|
21.75
|
20.95
|
19.12
|
20.60
|
21.90
|
22.10
|
20.80
|
20.85
|
20.56
|
|
7
|
23.52
|
23.53
|
20.59
|
20.10
|
23.42
|
24.75
|
23.40
|
23.62
|
23.02
|
|
8
|
24.52
|
24.60
|
21.74
|
25.40
|
26.10
|
26.36
|
24.80
|
25.25
|
24.36
|
Tabel Jumlah Daun Monokultur dan
Polikultur Kacang Tanah
|
Perhitungan
ke-
|
Monokultur
Kacang
|
Polikultur
Kacang-Jagung
|
Polikultur
Kacang-Kedelai
|
||||||
|
2
|
4
|
6
|
1+1
|
2+2
|
3+3
|
1+1
|
2+2
|
3+3
|
|
|
1
|
3.10
|
2.77
|
3.06
|
3.40
|
2.70
|
2.60
|
3.40
|
2.60
|
2.66
|
|
2
|
4.20
|
4.15
|
3.63
|
4.20
|
4.00
|
4.06
|
4.20
|
3.80
|
3.80
|
|
3
|
5.30
|
4.90
|
4.53
|
4.60
|
5.30
|
4.86
|
5.60
|
5.00
|
4.66
|
|
4
|
6.10
|
5.85
|
5.23
|
6.20
|
5.80
|
5.62
|
6.60
|
6.20
|
5.86
|
|
5
|
7.00
|
6.20
|
8.52
|
7.60
|
6.10
|
6.00
|
7.50
|
6.27
|
6.46
|
|
6
|
7.30
|
6.70
|
5.87
|
7.83
|
6.80
|
6.33
|
7.60
|
6.60
|
6.60
|
|
7
|
7.80
|
7.00
|
6.27
|
8.00
|
7.60
|
7.20
|
8.60
|
7.70
|
6.70
|
|
8
|
8.50
|
7.50
|
7.00
|
9.00
|
7.70
|
7.40
|
9.80
|
7.90
|
7.40
|
Tabel Panjang Akar, Berat Segar, dan
Berat Kering
|
|
Monokultur
Kacang
|
Polikultur
Kacang-Jagung
|
Polikultur
Kacang-Kedelai
|
||||||
|
2
|
4
|
6
|
1+1
|
2+2
|
3+3
|
1+1
|
2+2
|
3+3
|
|
|
Panjang Akar
|
20.19
|
18.4
|
17.4
|
16.40
|
16.49
|
18.71
|
14.9
|
20.2
|
20.29
|
|
Berat Segar
|
7.13
|
7.04
|
6.32
|
5.75
|
8.87
|
6.71
|
6.26
|
5.85
|
5.82
|
|
Berat Kering
|
1.40
|
3.00
|
4.39
|
0.66
|
1.22
|
1.68
|
0.83
|
1.51
|
2.04
|
V. PEMBAHASAN
Suatu
ekosistem terdapat komponen abiotik dan biotik didalamnya. Dimana komponen
tersebut saling berinteraksi satu sama lainnya. Interaksi yang terjadi salah
satunya adalah kompetisi yang terjadi antar berbeda jenis atau sesama jenis
tumbuhan. Kompetisi adalah interaksi antar dua organisme atau lebih dalam
memperebutkan suatu kebutuhan yang sama dan jumlahnya terbatas dengan tujuan
memenuhi kebutuhan hidupnya. Kompetisi yang terjadi biasa yang bersifat
interspesifik atau intraspesifik. Kompetisi interspesifik adalah kompetisi yang
terjadi pada organisme yang memilki spesies yang berbeda, sedangkan intraspesifik
adalah kompetisi yang terjadi pada organisme yang memilki spesies yang sama.
Kompetisi pada tanaman terjadi dalam hal memperebutkan unsur abiotik seperti
air, cahaya matahari, dan unsur hara, yang sangat diperlukan bagi kebutuhan
hidup tanaman atau tumbuhan. Air sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk
melarutkan unsur-unsur kimia dan juga sebagai pelarut dalam reaksi kimia yang
terjadi dalam tubuh tanaman. Cahaya matahari merupakan unsur penting dalam
tanaman, dimana cahaya matahari membantu dalam proses fotosintesis pada tanaman
menghasilkan makanannya yang juga hasil fotosintesis berupa oksigen yang
digunakan dalam bernafas pada hewan dan manusia. Unsur hara juga komponen yang dapat
memunculkan kompetisi antar tanaman. Hal ini disebabkan karena unsur hara yang
terdapat dalam tanah jumlahnya sangat terbatas, sehingga tanaman berkompetisi
untuk mendapatkan unsur hara tersebut dan memenuhi kebutuhan hidupnya.
Terdapat
beberapa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap persaingan intraspesifik
dan interspesifik pada tumbuhan, yaitu :
a). Jenis tanaman
Jenis
tanaman merupakan faktor yang meliputi
sifat biologi tumbuhan,seperti sistem perakaran, bentuk pertumbuhan secara
fisiologis. Misalnya pada percobaan pada pratikum kali ini adalah pada tanaman
kacang tanah yang memiliki sistem perakaran yang menyebar luas sehingga
menyebabkan persaingan dalam memperebutkan unsur hara antar tanaman. Persaingan
atau kompetisi tersebut antara tanaman kacang tanah dengan jagung dan kacang
tanah dengan kedelai.
b). Waktu
Waktu
adalah lamanya tanaman sejenis hidup bersama. Waktu yang dibutuhkan untuk
pertumbuhan dan perkembangan awal dalam pembentukan sistem tubuh merupakan periode yang sangat peka terhadap kerugian
yang disebabkan oleh kompetisi. Sehingga pada praktikum kali ini
dilakukan untuk menunjukkan berbagai tanggapan tanaman terhadap kompetisi inter
dan intra spesifik yang diujikan dengan penanaman secara monokultur, yaitu pada
tanaman kacang tanah, dan polikultur, yaitu dengan penanaman pada tanaman
kacang tanah dengan jagung dan kacang tanah dengan kedelai.
c). Kepadatan tumbuhan
Kepadatan
tumbuhan ini merupakan faktor yang dapat menyebabkan timbulnya pesaingan atau
kompetisi dengan mininya lahan dan jarak
yang sempit antar tanaman pada suatu lahan dapat menyebabkan persaingan
terhadap memperoleh zat-zat makanan. Hal ini karena zat hara yang tersedia
dalam jumlah yang terbatas dan tidak mencukupi bagi pertumbuhan semua tanaman
yang ada pada lahan yang sempit dan jarak tanam yang sempit.
d). Penyebaran tanaman
Dalam
penyebarkan tanaman dilakukan dengan menggunakan penyebaran biji mempunyai
kemampuan daya bersaing yang lebih tinggi dari pada tanaman dengan penyebaran
lainnya. Akan tetapi persaingan dapat terjadi karena faktor penyebaran tanaman dipengaruhi
oleh faktor-faktor lingkungan lain seperti suhu, cahaya, oksigen, dan air.

Grafik 1. Tinggi Tanaman Monokultur Kacang Tanah (Arachis hypogaea)
Berdasarkan grafik tinggi tanaman monokultur kacang tanah (Arachis hypogaea) dapat dilihat bahwa
pertumbuhan tinggi tanaman yang paling baik adalah pada monokultur dua tanaman.
Hal ini disebabkan karena dalam suatu polybag hanya terdapat 2 tanaman yang
saling berkompetisi untuk memperoleh unsur hara sehingga pada monokultu 2
kompetisi yang terjadi lebih rendah dibandingkan dengan monokultur 4 dan 6 .
Kompetisi yang terjadi pada monokultur kacang tanah terjadi karena
memperebutkan komponen seperti air, unsur hara, oksigen, dan cahaya matahari untuk
proses pertumbuhan. Pada penyerapan optimal dapat dilihat pada tanaman
monokultur 2 tanaman, karena jumlah kompetisi yang terjadi sedikit sehingga
pertumbuhannya lebih baik dibandingkan monokultur 4 dan 6 jika dilihat pada
pola jarak tanam yang sempit dan suplai air yang sama banyaknya dengan ke-2
monokultur, menyebabkan pertumbuhan kurang optimal. Monokultur 6 lebih banyak
membutuhkan suplai air karena jumlah tanaman yang terdapat di polybag lebih
banyak dari monokultur yang lainnya. Pertumbuhan tinggi tanaman terhambat pada
perlakuan monokultur 6 dapat disebabkan karena kepadatan tumbuhan yang
menyebabkan cahaya matahari terhalang oleh tanaman yang lainnya, sehingga
fotosintesis yang terjadi di dalam daun menjadi kurang optimal dan pertumbuhan menjadi
terhambat. Hal ini sangat sesuai dengan teori bahwa pertumbuhan tanaman optimum
jika tingkat kompetisi atau persaingan yang terjadi rendah, kemudian jika
kompetisi atau persaingan yang tinggi akan menyebabkan pertumbuhan yang rendah
karena unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam tanah hanya berjumlah terbatas.

Grafik 2. Tinggi Tanaman Polikultur Kacang Tanah (Arachis hypogaea) dan Jangung (Zea
mas)
Berdasarkan pada grafik tinggi tanaman polikultur di atas terjadi persaingan
atau kompetisi interspesifik, yaitu kompetisi yang terjadi antar dua individu
atau lebih dalam dalam spesies yang berbeda jenis dalam hal ini adalah kacang
tanah (Arachis hypogaea) dan jangung
(Zea mas). Grafik pertumbuhan tinggi
tanaman polikultur kacang tanah dan jagung di atas dapat dilihat pertumbuhan
paling baik pada perlakuan polikultur 3+3, sedangkan pada pertumbuhan polikultur
2+2 dilihat dari grafik diatas masih tergolong baik dan polikultur 1+1 pertumbuhan tinggi tanaman
tidak begitu baik dilihat pada pengamatan ke-7 yang mengalami penurunan grafik
pertumbuhan. Dimana seharusnya pertumbuhan yang baik terjadi pada polikultur
1+1 karena persaingan atau kompetisi yang terjadi sangat sedikit dengan
intensitas cahaya matahari sangat berlimpah, dan juga terdapat unsur hara yang
banyak sebab ruang tumbuhnya luas dalam polybag. Hal ini tidak sesuai dengan
teori karena pertumbuhan yang baik terjadi pada tingkat persaingan atau
kompetisi yang terjadi pada polikultur 1+1 sangat rendah dibandingkan
polikultur 2+2 dan polikultur 3+3. Akan tetapi dilihat pada polikultur jagung dan
kacang tanah terdapat suatu dampak dari persaingan atau kompetisi yang baik
atau bisa disebut mutual cooperation.
Ini karena tanaman kacang tanah merupakan tanaman yang dapat bersimbiosis
dengan bakteri penambat nitrogen diudara. Sedangkan tanaman jagung sangat membutuhkan
unsur nitrogen dalam jumlah banyak yang digunakan untuk pertumbuhan dan
perkembangannya. Sehingga kacang tanah dapat mempengaruhi dalam pertumbuhan
jagung secara baik atau positif dengan mengikat dan menyediakan suplai nitrogen
pada tanaman jagung. Hal tersebut yang menyebabkan pertumbuhan tanaman jagung
menjadi optimal.

Grafik 3. Tinggi Tanaman Polikultur
Kacang Tanah (Arachis hypogaea) dan Kedelai (Glycine
max)
Berdasarkan
grafik pertumbuhan polikultur kacang tanah (Arachis
hypogaea) dan kedelai (Glycine max)
diatas pertumbuhan paling baik terjadi pada polikultur 1+1 karena pertumbuhan pada
pengamatan ke-4 lebih tinggi pada polikultur 1+1,kemudian pertumbuhan baik pada
polikultur 2+2 dan diikuti polikultur 3+3. Hal ini sesuai dengan teori dimana
pertumbuhan yang paling baik terjadi pada persaingan atau kompetisi yang
rendah, karena ruang untuk yang dibutuhkan untuk pertumbuhan lebih luas pada
polikultur 1+1 sehingga dalam penyerapan unsur hara yang lebih optimal dan
intensitas cahaya matahari berlimpah maka pertumbuhan pada polikultur 1+1
menjadi sangat baik. Selain itu pada polikultur kacang tanah dan kedelai juga
terdapat dampak kompetisi yang baik atau mutual cooperation.

Grafik 1.4 Jumlah Daun Tanaman Monokultur
Kacang Tanah (Arachis hypogaea)
Berdasarkan
grafik jumlah daun tanaman monokultur kacang tanah (Arachis hypogaea) pertumbuhan jumlah daun paling baik dan konstan
pada perlakuan monokultur 2. Dimana tanaman akan tumbuh dengan baik apabila
semakin sedikit persaingan atau kompetisi yang ada dalam lingkungan tersebut.
Hal tersebut sesuai dengan teori karena jumlah daun pada monokultur 2 lebih
banyak dibandingkan dengan jumlah daun monukultur 4 dan 6. Hal ini menandakan
bahwa unsur hara yang terdapat pada monokultur 4 dan 6 tidak mencukupi untuk
memenuhi kebutuhan untuk tanaman dalam jumlah yang banyak maka akan menimbulkan
terhambatnya pembentukan daun. Berkurangnya jumlah daun akan membuat
fotosintesin yang dihasilkan juga sedikit dibandingkan tanaman yang memilki
jumlah daun yang lebih banyak.

Grafik 1.5 Jumlah Daun Tanaman
Polikultur Kacang Tanah (Arachis
hypogaea) dan Jangung (Zea mas)
Berdasarkan grafik jumlah daun
tanaman polikultur kacang tanah dan jagung diatas menunjukan bahwa jumlah daun
terbanyak adalah pada perlakuan polikultur 1+1. Pada tanaman kacang tanah
dengan polikultur 2+2 pertumbuhan tanaman kurang baik akibat banyaknya
persaingan dalam memperoleh unsur hara. Kemudian pada pertumbuhan jumlah daun
perlakuan polikultur 3+3 juga menunjukan pertumbuhan hampir sama pada tingkat
laju pertumbuhan pada perlakuan polikultur 2+2. Sehingga dapat disimpulkan pada
perlakuan 1+1 tanaman kacang tanah memilki jumlah daun yang banyak kerena
tingkat persaingan atau kompetisi antar tanaman rendah dan unsur hara yang
tersedia juga cukup untuk pertumbuhan bagi tanaman yang tumbuh dalam polybag
tersebut. Hal tersebut sudah sesuai dengan teori bahwa persaingan atau kompetisi
yang rendah maka pertumbuhan tanaman juga akan baik dan optimal dalam
pertumbuhan.

Grafik 1.6 Jumlah Daun Tanaman
Polikultur Kacang Tanah (Arachis
hypogaea) dan Kedelai (Zea mas)
Berdasarkan grafik jumlah daun
tanaman polikultur diatas, terlihat bahwa jumlah daun paling banyak pada
perlakuan polikultur 1+1 jika dibadingkan dengan perlakuan polikultur 2+2 dan
3+3. Berdasarkan grafik jumlah daun diatas sesuai dengan teori bahwa tingkat pertumbuhan
lebih baik jika persaingan atau kompetisi yang terjadi juga semakin sedikit
disuatu tempat. Dimana dalam proses pertumbuhan daun atau jumlah daun unsur
hara sangat berperan penting dalam pembentukan klorofil dan pertumbuhan daun
untuk melakukan proses fotosintesis yang dibantu oleh cahaya matahari. Sehingga
unsur hara yang tersedia dalam tanah harus terpenuhi kebutuhan tanaman untuk
pertumbuhan daun karena jika unsur hara kurang maka dapat mengganggu kebutuhan
utamanya untuk tumbuh dan berkembang .

Histogram 1. Panjang Akar Tanaman
Monokultur Kacang Tanah (Arachis
hypogaea)
Berdasarkan
histogram panjang akar kacang tanah (Arachis
hypogaea) diatas pada monokultur 2 memilki panjang akar yang lebih panjang
dari pada perlakuan monokultur 4 dan 6. Hal ini sesuai dengan teori,
pertumbuhan akar yang semakin panjang karena adaptasi tanaman sangat baik dan
juga memudahkan tanaman dalam menyerap air. Akan tetapi jika semakin banyak
jumlah kompetitor di sekitar lingkungan maka seharusnya pertumbuhan akar
tanaman semakin panjang, karena tingkat persaingan atau kompetisi yang tinggi.
Maka pada monokultur 2 tanaman mempunyai akar yang lebih pendek dibandingkan
monokultur 4 dan 6, karena kebutuhan air sudah tercukupi. Akan tetapi dengan
laju pertumbuhan akar tetap harus diimbangi dengan kebutuhan nutrisi sebagai
bahan metabolisme dan jumlah daun juga mempengaruhi, pada perlakuan monokultur
6+6 jumlah daun yang dihasilkan sedikit, maka akan berpengaruh pada proses
fotosistesis dan metabolisme dalam pembentukan energi akan terhambat dan
pemanjangan akar menjadi terganngu.

Histogram
1.2 Panjang Akar Tanaman Polikultur Kacang Tanah (Arachis hypogaea) dan
Jangung (Zea mas)
Berdasarkan histogram panjang akar
tanaman polikultur kacang tanah (Arachis
hypogaea) dan jagung (Zea mas) di
atas, dapat terlihat pertumbuhan akar pada perlakuan polikultur 3+3 tanaman
dengan pertumbuhan akar yang paling panjang yaitu 18.71 cm dibandingkan dengan
perlakuan polikultur 2+2 dengan panjang akar yaitu 16.49 cm dan polikultur 1+1 sengan panajng akar yaitu
16.40 cm, hal ini karena adanya adaptasi akar sebagaimana teori plastisitas
akar. Menurut teori, semakin rapat suatu organisme pada suatu tempat, maka
unsur hara yang terdapat dalam tempat tersebut akan semakin cepat berkurang dan
mempengaruhi asupan unsur hara pada tanaman akibat kompetisi yang besar selain
daripada itu dipengaruhi oleh proses
fotosintesis pada tanaman dalam membuat energi dan makananya. Pada perlakuan
polikultur 1+1 dan polikultur 2+2 panjang akar hampir sama yaitu 16.40 cm dan
16.49 cm, hal ini dapat dikarenakan kompetisi yang terjadi tidak berpengaruh
secara penuh pada tanaman, sehingga akar tidak perlu beradaptasi untuk
penyesuaian lingkungannya.

Histogram 1.3 Panjang Akar Tanaman
Polikultur Kacang Tanah (Arachis
hypogaea) dan Kedelai (Zea mas)
Berdasarkan histogram panjang akar
tanaman polikultur kacang tanah (Arachis
hypogaea) dan kedelai (Zea mas) diatas,
panjang akar yang paling panjang adalah polikultur 2+2 dengan panjang yaitu 20.20 cm dan
polikultur 3+3 dengan panjang yaitu 20.29 cm jika dibandingkan dengan
polikultur 1+1 dengan panjang yaitu 14.90 cm. Pada perlakuan polikultur 2+2 dan
polikultur 3+3 adanya persaingan atau kompetisi yang terjadi pada kacang tanah
dan kedelai yang cukup tinggi dalam memenuhi kebutuhan unsur hara yang sangat
diperlukan dalam proses fotosintesis dan pertumbuhan panjang akar sehingga
memiliki panjang akar yang lebih panjang kemudian dipengaruhi oleh fator lain seperti
air dan intensitas sinar matahari yang diterima.
Histogram 1.4 Berat
Segar dan Kering Tanaman Monokultur Kacang Tanah (Arachis hypogaea)
Berdasarkan histogram berat segar dan berat kering tanaman monokultur
kacang tanah (Arachis hypogaea) diatas
didapat bahwa pada monokultur 2 memiliki berat segar yang paling tinggi yaitu
7.13 gr, kemudian pada monokultur 4 memiliki berat segar yaitu 7.04 gr dan
monokultur 6 memiliki berat segar yaitu 6.32 gr dimana berat segar merupakan
berat tanaman sebelum dioven, atau berat segar tanaman sebelum kehilangan
kandungan airnya, sehingga berat segar tanaman sangat ditentukan oleh kemampuan
penyerapan air tanaman. Pada monokultur 6 tanaman terdapat persaingan atau
kompetisi dalam menyerap air sangat tinggi, sedangkan jumlah air yang diberikan
terbatas sehingga berat segar pada monokultur 6 terendah dibandingkan pada
monokultur 2 tanaman berat segar paling tinggi menandakan bahwa air pada
lingkungan sekitar jumlahnya banyak, berbeda dengan monokultur 6 tanaman yang
memilki berat segar yang terendah. Pada berat kering monokultur 6 dan
monokultur 4 tanaman lebih tinggi bila dibandingkan berat kering pada
monokultur 2 tanaman.

Histogram 1.5 Berat Segar dan Kering
Tanaman Polikultur Kacang Tanah (Arachis hypogaea) dan Jagung (Zea mas)
Berdasarkan histogram berat segar
dan berat kering tanaman polikultur kacang tanah (Arachis hypogaea) dan jagung (Zea
mas) diatas, penyerapan air yang baik terdapat pada perlakuan Polikultur
2+2 dilihat dengan berat segar tertinggi yaitu 8.87 gr,kemudian pada perlakuan
polikultur 3+3 dengan berat segar yaitu 6.71 gr dan polikultur 1+1 dengan berat
segar 5.75 gr. Berdasarkan pada hasil histogram diatas ini tidak sesuai dengan teori, dimana pada
tanaman polikultur 1+1 ini memiliki daya serap air yang tinggi, hal ini
dikarenakan adanya persaingan atau kompetisi yang terjadi pada perlakuan
tersebut rendah. Pada berat kering paling tinggi terdapat pada perlakuan
polikultur 3+3 dengan berat kering yaitu 1.68 gr kemudian pada perlakuan
monokultur 2+2 dengan berat kering yaitu 1.22 gr dan perlakuan 1+1 dengan berat
kering yaitu 0.66 gr. Pada berat kering tertinggi terdapat pada perlakuan
polikultur 3+3 ini kurang sesuai karena seharusnya pada polikultur 2+2, karena
memilki berat segar tertinggi.

Histogram 1.6 Berat Segar dan Kering
Tanaman Polikultur Kacang Tanah (Arachis hypogaea) dan Kedelai
(Zea mas)
Berdasarkan
histogram berat segar dan berat kering tanaman polikultur kacang tanah (Arachis hypogaea) dan kedelai (Zea mas) diatas, dapat terlihat
penyerapan air yang baik adalah pada pola penanaman polikultur 1+1 karena
memiliki berat segar yang paling tinggi yaitu 6.26 gr, kemudian pada polikultur
2+2 dengan berat segar yaitu 5.85 gr dan polikultur 3+3 dengan berat segar
yaitu 5.82 gr. Pada perlakuan polikultur 1+1 tanaman dapat tumbuh dengan baik
dan tercukupi kebutuhan akan unsure hara karena persaingan atau kompetisi yang
terjadi sedikit. Oleh karena itu, hal ini sesuai dengan teori, penyerapan air
yang baik terdapat pada tanaman menandakan tingkat persaingan atau kompetisi
dalam menyerap air competitor yang rendah. Sehingga pada polikultur 1+1 kacang
tanah dengan jagung tanaman dapat tumbuh dengan baik dilihat dari beberapa
faktor yaitu tinggi tanaman dan jumlah daun serta panjang akar yang dapat menunjukkan
adaptasi akar dalam persaingan atau kompetisi di dalam tanah. Akan tetapi,
berat kering tertinggi terdapat pada perlakuan polikultur 3+3 dengan berat
kering yaitu 2.04 gr. Hal ini tidak sesuai karena berat kering tertinggi
seharusnya terdapat pada perlakuan polikultur 1+1 yang memiliki berat segar
tertinggi.
VI. KESIMPULAN
1.
Faktor biotik sangat berpengaruh dalam
pertumbuhan dan perkembangan tanaman karena makhluk hidup dapat menjadi
kompetitor atau pesaing bagi makhluk
hidup lain, dimana dalam persaingan atau kompetisi intra maupun inter
spesifik sehinga faktor biotik dapat berupa unsur hara yang tersedia dalam
tanah dengan jumlah yang terbatas.
2.
Kompertisi yang terjadi dalam pertumbuhan dan
perkembangan tanaman adalah kompetisi interspesifik dan intraspesifik. Kompetisi
interspesifik merupakan persaingan antara dua atau lebih individu secara
polikultur dengan tanaman kedelai dan jagung. Sedangkan, kompetisi
intraspesifik merupakan persaingan antara dua atau lebih individu spesies yang
berbeda jenis, dalam hal ini ditunjukkan pada persaingan antar kacang tanah
yang ditanam baik secara monokultur.
DAFTAR
PUSTAKA
Campbell, N.A.
and J.B. Reece. 2009. Biology. Fifth Edition. Pearson. Benjamincummings, San
Fransisco.
Elfidasari, D. 2007. Jenis interaksi
intraspesifik dan interspesifik pada tiga jenis kuntul saat mencari makan di
sekitar cagar alam Pulau Serang Dua, Provinsi Banten. Jurnal Biodiversitas 8:
266-269.
Fuller,
J.H. and L.B. Caronthus. 1964. The Plant World 4th ed. Holt Richard Winston
Inc, USA.
Odum,E.P.
1983. Basic Ecology. CBS Collage Publising, USA.
Reynolds,M. 2010 Rasing yield potential of
wheat. I. Overview of a consortium approach and greeding strategics. Journal of
experimental Butany 62:439-452.
Rezaei-Chianeh,
E., A.D.M. Nassab, M.R. Shakiba, K. Ghassemi-Golezani, S. Aharizad, and F.
Shekari. 2011. Intercropping of maize (Zeamays
L.) andfababean (Viciafaba L.) atdifferentplant
Population densities. African Journal of Agricultural Research 6:1786—1793.
LAMPIRAN

Tidak ada komentar:
Posting Komentar