Kamis, 23 April 2015

LAPORAN PRAKTIKUM DASAR – DASAR EKOLOGI ACARA 2



LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM DASAR – DASAR EKOLOGI
ACARA II
KOMPETISI INTER DAN INTRA SPESIFIK
SEBAGAI FAKTOR PEMBATAS ABIOTIK

                                       

Disusun oleh:
Nama                  :  Mahmud ismail
NIM                   :  13169
Gol/Kel              :  B2/IV
Asisten               :  1. Aditya Yasyafa M.
                              2. Diestalia A.
                              3. Yasinta B.

LABORATORIUM  EKOLOGI TANAMAN
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014

 
ACARA II
KOMPETISI INTER DAN INTRA SPESIFIK
SEBGAI FAKTOR PEMBATAS ABIOTIK

I.     TUJUAN
1. Mengetahui pengaruh aktor biotik  terhadap pertumbuhan tanaman.
2. mengetahui tanggapan tanaman terhadap tekanan kompetisi inter dan intra spesifik

II.  TINJAUAN PUSTAKA
          Kompetisi adalah interaksi antara dua organisme yang berusaha untuk hal sama. Interaksi kompetisi biasanya interspesifik berpengaruh terhadap pertumbuhan dan proses bertahan hidup oleh dua atau lebih spesies populasi. Interaksi kompetisi biasanya melibatkan ruang lingkup, makanan, nutrisi, cahaya matahari, dan tipe-tipe lain dari interaksi. Kompetisi interspesifik dapat menghasilkan penyesuaian keseimbangan oleh dua spesies atau dari satu populasi menggantikan yang lain (Odum, 1983).
Kompetisi terjadi apabila tanaman mencapai tingkat pertumbuhan tertentu dan akan semakin keras dengan pertambahan ukuran tanaman dengan umur. Kemampuan suatu tanaman dipengaruhi oleh kemampuan suatu organ yang melakukan kompetisi. Daun dan akar merupakan bagian yang berperan aktif dalam kompetisi. Akar yang memiliki luas permukaan lebar, daun yang banyak, lebar, dan tersebar di seluruh tubuh tanaman akan meningkatkan kompetisi, akibatnya kompetisi tanaman pun tinggi (Fuller and Coronthus, 1964).
Kompetisi tergolong faktor pembatas yang dependen, artinya hanya akan berpengaruh pada populasi dengan tingkat kepadatan yang tinggi. Kompetisi dapat terjadi di antara banyak organisme yang hidup pada habitat yang sama. Sumber alam yang terbatas membuat antarorganisme harus berkompetisi untuk makanan, air, ruang gerak, dan naungan (Campbell and Reece, 2009).
Interaksi adalah hubungan antara makhluk hidup yang satu dengan makhluk hidup yang lainnya. Ada dua macam interaksi berdasarkan jenis organisme yaitu intraspesifik dan interspesifik. Interaksi interspesifik adalah hubungan yang terjadi antara organisme yang berasal dari satu spesies, sedangkan interaksi intra spesifik adalah hubungan antara organisme yang berasal dari spesies yang berbeda. Secara garis besar, interaksi interspesifik dan intraspesifik dapat dikelompokkan menjadi beberapa bentuk dasar hubungan, yaitu (1) netralisme yaitu hubungan antara makhluk hidup yang tidak saling menguntungkan dan saling merugikan satu sama lain, (2) mutualisme yaitu hubungan antara dua jenis makhluk hidup yang saling menguntungkan, (3) parasitisme yaitu hubungan yang hanya menguntungkan satu jenis makhluk hidup saja, sedangkan yang lainnya dirugikan, (4) predatorisme yaitu hubungan pemangsaan antara satu jenis makhluk hidup terhadap makhluk hidup lain, (5) kooperasi yaitu hubungan antara dua makhluk hidup yang bersifat saling membantu antara keduanya, (6) komensalisme yaitu hubungan antara dua makhluk hidup yang satu mendapat keuntungan sedang yang lain dirugikan, (7) antagonis yaitu hubungan dua makhluk hidup yang saling bermusuhan (Elfidasari, 2007).
Selain antar tumbuhan, kompetisi juga terjadi dalam tumbuhan itu sendiri. Kompetisi yang terjadi adalah kompetisi antara organ maupun sel di dalam tumbuhan. Contoh kompetisi yang terjadi adalah perebutan hasil asimilasi. Perebutan hasil amilasi ini dapat berakibat buruk pada organ-organ tertentu. Untuk mengatasi hal ini diperlukan penambahan hasil asimilasi (Reynolds, 2010).
Tumpang sari digunakan di sebagian besar belahan dunia untuk produksi pangan mengingat lahan tanam yang semakin sempit dan terbatas. Maka dari itu, intercroppingdianggap sebagai metode pertanian yang berkelanjutan yang efisien dan efektif. Intercropping antara tanaman serealia dan kacang-kacangan telah populer di lingkungan tropis lembab dalam kaitannya dengan keuntungan yang diperoleh seperti kontrol gulma lebih mudah, kenaikan fungsi lahan, biaya produksi murah, pengembangan kesuburan tanah, menaikkan stabilitas lahan, dan lainnya (Rezaei-Chianeh et.al., 2010).


III.    METODE PELAKSANAAN PRAKTIKUM
     Praktikum Dasar-Dasar Ekologi Acara 2 yang berjujul “Kompetisi Intra dan Inter  Spesifik Sebagai Faktor Pembatas Abiotik” dilaksanakan di Laboratorium Ekologi Tanaman, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada hari Selasa 23 April 2014. Alat yang digunakan yaitu timbangan analitik, penggaris, peralaralatan tanam dan oven. Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini antara lain 3 macam tanaman, kacang tanah (Arachis hypogeae), kacang panjang (Vigna sinensis), jagung(Zea mays), polybag, pupuk kandang, kantong kertas, dan kertas label.
     Pada praktikum ini pertama polybag disiapkan dan diisi tanah sebanyak kurang lebih 3 kg. Bila ada kerikil, sisa-sisa akar tanaman lain dan kotoran harus dihilangkan supaya tidak mengganggu pertumbuhan tanaman. Biji yang sehat dipilih dari jenis tanaman yang akan diperlakukan, selanjutnya ditanam sejumlah biji ke dalam masing-masing polybag. Penanaman dilakukan sesuai perlakuan: (a). Monokultur kacang tanah sejumlah 3, 4, dan 6 tanaman, (b). Polikultur kancang tanah – jagung sejumlah (1+1,2+2,3+3) tanaman, (c). Polikultur kacang tanah – kacang panjang sejumlah (1+1,2+2,3+3) tanaman. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Tiap polybag di beri label sesuai perlakuan dan ulangannya. Label harus mudah di baca untuk mencegah tertukarnya dengan perlakuan lain saat pengamatan. Penyiraman dilakukan setiap hari sampai tanaman berumur 21 hari, selanjutnya dilakukan pemanenan. Setelah diamati, selanjutnya tanaman dikeringkan dimasukkan kantong kertas  dan dioven selama 80 ͦ C2 hari, sampai berat konstan. Pengamatan yang dilakukan meliputi tinggi tanaman  Pengamatan yang dilakukan meliputi tinggi tanaman  Pengamatan yang dilakukan meliputi tinggi tanaman  setiap 2 hari sekali, berat segar tanaman  kacang tanah pada masing-masing polybag diakhir pengamatan dan berat kering tanaman kacang tanah pad masing-masing polybag setela di oven. Pada akhir percobaan, dari seluruh data yang terkumpul, dihitung rerata  tiga ulangan pada tiap perlakuan, selanjutnya digambar grafik garis tinggi tanaman dan jumlah daun masing-masing perlakuan serta histogram berat kering tanaman masing-masing perlakuan.
IV. HASIL PENGAMATAN
Tabel Tinggi Tanaman Monokultur dan Polikultur Kacang Tanah
Pengamatan hari ke-
Monokultur Kacang
Polikultur Kacang-Jagung
Polikultur Kacang-Kedelai
2
4
6
1+1
2+2
3+3
1+1
2+2
3+3
1
5.12
5.21
4.89
5.40
4.58
4.98
5.94
5.05
4.58
2
7.85
7.76
7.56
7.02
7.88
9.12
7.54
8.46
7.30
3
12.00
12.73
12.60
12.24
13.23
12.47
12.10
11.90
11.40
4
16.95
16.16
15.85
16.54
16.33
16.14
17.78
15.43
14.90
5
18.95
18.53
16.28
18.86
19.32
17.98
18.96
18.45
17.80
6
21.75
20.95
19.12
20.60
21.90
22.10
20.80
20.85
20.56
7
23.52
23.53
20.59
20.10
23.42
24.75
23.40
23.62
23.02
8
24.52
24.60
21.74
25.40
26.10
26.36
24.80
25.25
24.36

Tabel Jumlah Daun Monokultur dan Polikultur Kacang Tanah
Perhitungan ke-
Monokultur Kacang
Polikultur Kacang-Jagung
Polikultur Kacang-Kedelai
2
4
6
1+1
2+2
3+3
1+1
2+2
3+3
1
3.10
2.77
3.06
3.40
2.70
2.60
3.40
2.60
2.66
2
4.20
4.15
3.63
4.20
4.00
4.06
4.20
3.80
3.80
3
5.30
4.90
4.53
4.60
5.30
4.86
5.60
5.00
4.66
4
6.10
5.85
5.23
6.20
5.80
5.62
6.60
6.20
5.86
5
7.00
6.20
8.52
7.60
6.10
6.00
7.50
6.27
6.46
6
7.30
6.70
5.87
7.83
6.80
6.33
7.60
6.60
6.60
7
7.80
7.00
6.27
8.00
7.60
7.20
8.60
7.70
6.70
8
8.50
7.50
7.00
9.00
7.70
7.40
9.80
7.90
7.40





Tabel Panjang Akar, Berat Segar, dan Berat Kering

Monokultur Kacang
Polikultur Kacang-Jagung
Polikultur Kacang-Kedelai
2
4
6
1+1
2+2
3+3
1+1
2+2
3+3
Panjang Akar
20.19
18.4
17.4
16.40
16.49
18.71
14.9
20.2
20.29
Berat Segar
7.13
7.04
6.32
5.75
8.87
6.71
6.26
5.85
5.82
Berat Kering
1.40
3.00
4.39
0.66
1.22
1.68
0.83
1.51
2.04























V. PEMBAHASAN
            Suatu ekosistem terdapat komponen abiotik dan biotik didalamnya. Dimana komponen tersebut saling berinteraksi satu sama lainnya. Interaksi yang terjadi salah satunya adalah kompetisi yang terjadi antar berbeda jenis atau sesama jenis tumbuhan. Kompetisi adalah interaksi antar dua organisme atau lebih dalam memperebutkan suatu kebutuhan yang sama dan jumlahnya terbatas dengan tujuan memenuhi kebutuhan hidupnya. Kompetisi yang terjadi biasa yang bersifat interspesifik atau intraspesifik. Kompetisi interspesifik adalah kompetisi yang terjadi pada organisme yang memilki spesies yang berbeda, sedangkan intraspesifik adalah kompetisi yang terjadi pada organisme yang memilki spesies yang sama. Kompetisi pada tanaman terjadi dalam hal memperebutkan unsur abiotik seperti air, cahaya matahari, dan unsur hara, yang sangat diperlukan bagi kebutuhan hidup tanaman atau tumbuhan. Air sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk melarutkan unsur-unsur kimia dan juga sebagai pelarut dalam reaksi kimia yang terjadi dalam tubuh tanaman. Cahaya matahari merupakan unsur penting dalam tanaman, dimana cahaya matahari membantu dalam proses fotosintesis pada tanaman menghasilkan makanannya yang juga hasil fotosintesis berupa oksigen yang digunakan dalam bernafas pada hewan dan manusia. Unsur hara juga komponen yang dapat memunculkan kompetisi antar tanaman. Hal ini disebabkan karena unsur hara yang terdapat dalam tanah jumlahnya sangat terbatas, sehingga tanaman berkompetisi untuk mendapatkan unsur hara tersebut dan memenuhi kebutuhan hidupnya.
            Terdapat beberapa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap persaingan intraspesifik dan interspesifik pada tumbuhan, yaitu :
a). Jenis tanaman
            Jenis tanaman merupakan faktor yang  meliputi sifat biologi tumbuhan,seperti sistem perakaran, bentuk pertumbuhan secara fisiologis. Misalnya pada percobaan pada pratikum kali ini adalah pada tanaman kacang tanah yang memiliki sistem perakaran yang menyebar luas sehingga menyebabkan persaingan dalam memperebutkan unsur hara antar tanaman. Persaingan atau kompetisi tersebut antara tanaman kacang tanah dengan jagung dan kacang tanah dengan kedelai.
b). Waktu
            Waktu adalah lamanya tanaman sejenis hidup bersama. Waktu yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan awal dalam pembentukan sistem tubuh merupakan   periode yang sangat peka terhadap kerugian yang disebabkan oleh kompetisi. Sehingga pada praktikum kali ini dilakukan untuk menunjukkan berbagai tanggapan tanaman terhadap kompetisi inter dan intra spesifik yang diujikan dengan  penanaman secara monokultur, yaitu pada tanaman kacang tanah, dan polikultur, yaitu dengan penanaman pada tanaman kacang tanah dengan jagung dan kacang tanah dengan kedelai.
c). Kepadatan tumbuhan
            Kepadatan tumbuhan ini merupakan faktor yang dapat menyebabkan timbulnya pesaingan atau kompetisi dengan mininya lahan dan  jarak yang sempit antar tanaman pada suatu lahan dapat menyebabkan persaingan terhadap memperoleh zat-zat makanan. Hal ini karena zat hara yang tersedia dalam jumlah yang terbatas dan tidak mencukupi bagi pertumbuhan semua tanaman yang ada pada lahan yang sempit dan jarak tanam yang sempit.
d). Penyebaran tanaman
            Dalam penyebarkan tanaman dilakukan dengan menggunakan penyebaran biji mempunyai kemampuan daya bersaing yang lebih tinggi dari pada tanaman dengan penyebaran lainnya. Akan tetapi persaingan dapat terjadi karena faktor penyebaran tanaman dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan lain seperti suhu, cahaya, oksigen, dan air.


Grafik 1. Tinggi Tanaman Monokultur Kacang Tanah (Arachis hypogaea)

Berdasarkan grafik tinggi tanaman monokultur kacang tanah (Arachis hypogaea) dapat dilihat bahwa pertumbuhan tinggi tanaman yang paling baik adalah pada monokultur dua tanaman. Hal ini disebabkan karena dalam suatu polybag hanya terdapat 2 tanaman yang saling berkompetisi untuk memperoleh unsur hara sehingga pada monokultu 2 kompetisi yang terjadi lebih rendah dibandingkan dengan monokultur 4 dan 6 . Kompetisi yang terjadi pada monokultur kacang tanah terjadi karena memperebutkan komponen seperti air, unsur hara, oksigen, dan cahaya matahari untuk proses pertumbuhan. Pada penyerapan optimal dapat dilihat pada tanaman monokultur 2 tanaman, karena jumlah kompetisi yang terjadi sedikit sehingga pertumbuhannya lebih baik dibandingkan monokultur 4 dan 6 jika dilihat pada pola jarak tanam yang sempit dan suplai air yang sama banyaknya dengan ke-2 monokultur, menyebabkan pertumbuhan kurang optimal. Monokultur 6 lebih banyak membutuhkan suplai air karena jumlah tanaman yang terdapat di polybag lebih banyak dari monokultur yang lainnya. Pertumbuhan tinggi tanaman terhambat pada perlakuan monokultur 6 dapat disebabkan karena kepadatan tumbuhan yang menyebabkan cahaya matahari terhalang oleh tanaman yang lainnya, sehingga fotosintesis yang terjadi di dalam daun menjadi kurang optimal dan pertumbuhan menjadi terhambat. Hal ini sangat sesuai dengan teori bahwa pertumbuhan tanaman optimum jika tingkat kompetisi atau persaingan yang terjadi rendah, kemudian jika kompetisi atau persaingan yang tinggi akan menyebabkan pertumbuhan yang rendah karena unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam tanah hanya berjumlah terbatas.
Grafik 2. Tinggi Tanaman Polikultur Kacang Tanah (Arachis hypogaea) dan                                      Jangung (Zea mas)
Berdasarkan pada grafik tinggi tanaman polikultur di atas terjadi persaingan atau kompetisi interspesifik, yaitu kompetisi yang terjadi antar dua individu atau lebih dalam dalam spesies yang berbeda jenis dalam hal ini adalah kacang tanah (Arachis hypogaea) dan jangung (Zea mas). Grafik pertumbuhan tinggi tanaman polikultur kacang tanah dan jagung di atas dapat dilihat pertumbuhan paling baik pada perlakuan polikultur 3+3, sedangkan pada pertumbuhan polikultur 2+2 dilihat dari grafik diatas masih tergolong baik dan  polikultur 1+1 pertumbuhan tinggi tanaman tidak begitu baik dilihat pada pengamatan ke-7 yang mengalami penurunan grafik pertumbuhan. Dimana seharusnya pertumbuhan yang baik terjadi pada polikultur 1+1 karena persaingan atau kompetisi yang terjadi sangat sedikit dengan intensitas cahaya matahari sangat berlimpah, dan juga terdapat unsur hara yang banyak sebab ruang tumbuhnya luas dalam polybag. Hal ini tidak sesuai dengan teori karena pertumbuhan yang baik terjadi pada tingkat persaingan atau kompetisi yang terjadi pada polikultur 1+1 sangat rendah dibandingkan polikultur 2+2 dan polikultur 3+3. Akan tetapi dilihat pada polikultur jagung dan kacang tanah terdapat suatu dampak dari persaingan atau kompetisi yang baik atau bisa disebut mutual cooperation. Ini karena tanaman kacang tanah merupakan tanaman yang dapat bersimbiosis dengan bakteri penambat nitrogen diudara. Sedangkan tanaman jagung sangat membutuhkan unsur nitrogen dalam jumlah banyak yang digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Sehingga kacang tanah dapat mempengaruhi dalam pertumbuhan jagung secara baik atau positif dengan mengikat dan menyediakan suplai nitrogen pada tanaman jagung. Hal tersebut yang menyebabkan pertumbuhan tanaman jagung menjadi optimal.
Grafik 3. Tinggi Tanaman Polikultur Kacang Tanah (Arachis hypogaea) dan                          Kedelai (Glycine max)

            Berdasarkan grafik pertumbuhan polikultur kacang tanah (Arachis hypogaea) dan kedelai (Glycine max) diatas pertumbuhan paling baik terjadi pada polikultur 1+1 karena pertumbuhan pada pengamatan ke-4 lebih tinggi pada polikultur 1+1,kemudian pertumbuhan baik pada polikultur 2+2 dan diikuti polikultur 3+3. Hal ini sesuai dengan teori dimana pertumbuhan yang paling baik terjadi pada persaingan atau kompetisi yang rendah, karena ruang untuk yang dibutuhkan untuk pertumbuhan lebih luas pada polikultur 1+1 sehingga dalam penyerapan unsur hara yang lebih optimal dan intensitas cahaya matahari berlimpah maka pertumbuhan pada polikultur 1+1 menjadi sangat baik. Selain itu pada polikultur kacang tanah dan kedelai juga terdapat dampak kompetisi yang baik atau mutual cooperation.

Grafik 1.4 Jumlah Daun Tanaman Monokultur Kacang Tanah (Arachis hypogaea)

            Berdasarkan grafik jumlah daun tanaman monokultur kacang tanah (Arachis hypogaea) pertumbuhan jumlah daun paling baik dan konstan pada perlakuan monokultur 2. Dimana tanaman akan tumbuh dengan baik apabila semakin sedikit persaingan atau kompetisi yang ada dalam lingkungan tersebut. Hal tersebut sesuai dengan teori karena jumlah daun pada monokultur 2 lebih banyak dibandingkan dengan jumlah daun monukultur 4 dan 6. Hal ini menandakan bahwa unsur hara yang terdapat pada monokultur 4 dan 6 tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan untuk tanaman dalam jumlah yang banyak maka akan menimbulkan terhambatnya pembentukan daun. Berkurangnya jumlah daun akan membuat fotosintesin yang dihasilkan juga sedikit dibandingkan tanaman yang memilki jumlah daun yang lebih banyak.

Grafik 1.5 Jumlah Daun Tanaman Polikultur Kacang Tanah (Arachis hypogaea) dan                 Jangung (Zea mas)

            Berdasarkan grafik jumlah daun tanaman polikultur kacang tanah dan jagung diatas menunjukan bahwa jumlah daun terbanyak adalah pada perlakuan polikultur 1+1. Pada tanaman kacang tanah dengan polikultur 2+2 pertumbuhan tanaman kurang baik akibat banyaknya persaingan dalam memperoleh unsur hara. Kemudian pada pertumbuhan jumlah daun perlakuan polikultur 3+3 juga menunjukan pertumbuhan hampir sama pada tingkat laju pertumbuhan pada perlakuan polikultur 2+2. Sehingga dapat disimpulkan pada perlakuan 1+1 tanaman kacang tanah memilki jumlah daun yang banyak kerena tingkat persaingan atau kompetisi antar tanaman rendah dan unsur hara yang tersedia juga cukup untuk pertumbuhan bagi tanaman yang tumbuh dalam polybag tersebut. Hal tersebut sudah sesuai dengan teori bahwa persaingan atau kompetisi yang rendah maka pertumbuhan tanaman juga akan baik dan optimal dalam pertumbuhan.
Grafik 1.6 Jumlah Daun Tanaman Polikultur Kacang Tanah (Arachis hypogaea) dan                Kedelai (Zea mas)

            Berdasarkan grafik jumlah daun tanaman polikultur diatas, terlihat bahwa jumlah daun paling banyak pada perlakuan polikultur 1+1 jika dibadingkan dengan perlakuan polikultur 2+2 dan 3+3. Berdasarkan grafik jumlah daun diatas sesuai dengan teori bahwa tingkat pertumbuhan lebih baik jika persaingan atau kompetisi yang terjadi juga semakin sedikit disuatu tempat. Dimana dalam proses pertumbuhan daun atau jumlah daun unsur hara sangat berperan penting dalam pembentukan klorofil dan pertumbuhan daun untuk melakukan proses fotosintesis yang dibantu oleh cahaya matahari. Sehingga unsur hara yang tersedia dalam tanah harus terpenuhi kebutuhan tanaman untuk pertumbuhan daun karena jika unsur hara kurang maka dapat mengganggu kebutuhan utamanya untuk tumbuh dan berkembang .
Histogram 1. Panjang Akar Tanaman Monokultur Kacang Tanah (Arachis hypogaea)

            Berdasarkan histogram panjang akar kacang tanah (Arachis hypogaea) diatas pada monokultur 2 memilki panjang akar yang lebih panjang dari pada perlakuan monokultur 4 dan 6. Hal ini sesuai dengan teori, pertumbuhan akar yang semakin panjang karena adaptasi tanaman sangat baik dan juga memudahkan tanaman dalam menyerap air. Akan tetapi jika semakin banyak jumlah kompetitor di sekitar lingkungan maka seharusnya pertumbuhan akar tanaman semakin panjang, karena tingkat persaingan atau kompetisi yang tinggi. Maka pada monokultur 2 tanaman mempunyai akar yang lebih pendek dibandingkan monokultur 4 dan 6, karena kebutuhan air sudah tercukupi. Akan tetapi dengan laju pertumbuhan akar tetap harus diimbangi dengan kebutuhan nutrisi sebagai bahan metabolisme dan jumlah daun juga mempengaruhi, pada perlakuan monokultur 6+6 jumlah daun yang dihasilkan sedikit, maka akan berpengaruh pada proses fotosistesis dan metabolisme dalam pembentukan energi akan terhambat dan pemanjangan akar menjadi terganngu.


Histogram 1.2 Panjang Akar Tanaman Polikultur Kacang Tanah (Arachis hypogaea)                                    dan Jangung (Zea mas)
Berdasarkan histogram panjang akar tanaman polikultur kacang tanah (Arachis hypogaea) dan jagung (Zea mas) di atas, dapat terlihat pertumbuhan akar pada perlakuan polikultur 3+3 tanaman dengan pertumbuhan akar yang paling panjang yaitu 18.71 cm dibandingkan dengan perlakuan polikultur 2+2 dengan panjang akar yaitu 16.49 cm  dan polikultur 1+1 sengan panajng akar yaitu 16.40 cm, hal ini karena adanya adaptasi akar sebagaimana teori plastisitas akar. Menurut teori, semakin rapat suatu organisme pada suatu tempat, maka unsur hara yang terdapat dalam tempat tersebut akan semakin cepat berkurang dan mempengaruhi asupan unsur hara pada tanaman akibat kompetisi yang besar selain daripada itu  dipengaruhi oleh proses fotosintesis pada tanaman dalam membuat energi dan makananya. Pada perlakuan polikultur 1+1 dan polikultur 2+2 panjang akar hampir sama yaitu 16.40 cm dan 16.49 cm, hal ini dapat dikarenakan kompetisi yang terjadi tidak berpengaruh secara penuh pada tanaman, sehingga akar tidak perlu beradaptasi untuk penyesuaian lingkungannya.

Histogram 1.3 Panjang Akar Tanaman Polikultur Kacang Tanah (Arachis hypogaea)                     dan Kedelai (Zea mas)
            Berdasarkan histogram panjang akar tanaman polikultur kacang tanah (Arachis hypogaea) dan kedelai (Zea mas) diatas, panjang akar yang paling panjang adalah polikultur  2+2 dengan panjang yaitu 20.20 cm dan polikultur 3+3 dengan panjang yaitu 20.29 cm jika dibandingkan dengan polikultur 1+1 dengan panjang yaitu 14.90 cm. Pada perlakuan polikultur 2+2 dan polikultur 3+3 adanya persaingan atau kompetisi yang terjadi pada kacang tanah dan kedelai yang cukup tinggi dalam memenuhi kebutuhan unsur hara yang sangat diperlukan dalam proses fotosintesis dan pertumbuhan panjang akar sehingga memiliki panjang akar yang lebih panjang kemudian dipengaruhi oleh fator lain seperti air dan intensitas sinar matahari yang diterima.
Histogram 1.4 Berat Segar dan Kering Tanaman Monokultur Kacang Tanah (Arachis                     hypogaea)
Berdasarkan histogram berat segar dan berat kering tanaman monokultur kacang tanah (Arachis hypogaea) diatas didapat bahwa pada monokultur 2 memiliki berat segar yang paling tinggi yaitu 7.13 gr, kemudian pada monokultur 4 memiliki berat segar yaitu 7.04 gr dan monokultur 6 memiliki berat segar yaitu 6.32 gr dimana berat segar merupakan berat tanaman sebelum dioven, atau berat segar tanaman sebelum kehilangan kandungan airnya, sehingga berat segar tanaman sangat ditentukan oleh kemampuan penyerapan air tanaman. Pada monokultur 6 tanaman terdapat persaingan atau kompetisi dalam menyerap air sangat tinggi, sedangkan jumlah air yang diberikan terbatas sehingga berat segar pada monokultur 6 terendah dibandingkan pada monokultur 2 tanaman berat segar paling tinggi menandakan bahwa air pada lingkungan sekitar jumlahnya banyak, berbeda dengan monokultur 6 tanaman yang memilki berat segar yang terendah. Pada berat kering monokultur 6 dan monokultur 4 tanaman lebih tinggi bila dibandingkan berat kering pada monokultur 2 tanaman.

Histogram 1.5 Berat Segar dan Kering Tanaman Polikultur Kacang Tanah (Arachis                        hypogaea) dan Jagung (Zea mas)
            Berdasarkan histogram berat segar dan berat kering tanaman polikultur kacang tanah (Arachis hypogaea) dan jagung (Zea mas) diatas, penyerapan air yang baik terdapat pada perlakuan Polikultur 2+2 dilihat dengan berat segar tertinggi yaitu 8.87 gr,kemudian pada perlakuan polikultur 3+3 dengan berat segar yaitu 6.71 gr dan polikultur 1+1 dengan berat segar 5.75 gr. Berdasarkan pada hasil histogram diatas  ini tidak sesuai dengan teori, dimana pada tanaman polikultur 1+1 ini memiliki daya serap air yang tinggi, hal ini dikarenakan adanya persaingan atau kompetisi yang terjadi pada perlakuan tersebut rendah. Pada berat kering paling tinggi terdapat pada perlakuan polikultur 3+3 dengan berat kering yaitu 1.68 gr kemudian pada perlakuan monokultur 2+2 dengan berat kering yaitu 1.22 gr dan perlakuan 1+1 dengan berat kering yaitu 0.66 gr. Pada berat kering tertinggi terdapat pada perlakuan polikultur 3+3 ini kurang sesuai karena seharusnya pada polikultur 2+2, karena memilki berat segar tertinggi.
Histogram 1.6 Berat Segar dan Kering Tanaman Polikultur Kacang Tanah (Arachis                        hypogaea) dan Kedelai (Zea mas)
            Berdasarkan histogram berat segar dan berat kering tanaman polikultur kacang tanah (Arachis hypogaea) dan kedelai (Zea mas) diatas, dapat terlihat penyerapan air yang baik adalah pada pola penanaman polikultur 1+1 karena memiliki berat segar yang paling tinggi yaitu 6.26 gr, kemudian pada polikultur 2+2 dengan berat segar yaitu 5.85 gr dan polikultur 3+3 dengan berat segar yaitu 5.82 gr. Pada perlakuan polikultur 1+1 tanaman dapat tumbuh dengan baik dan tercukupi kebutuhan akan unsure hara karena persaingan atau kompetisi yang terjadi sedikit. Oleh karena itu, hal ini sesuai dengan teori, penyerapan air yang baik terdapat pada tanaman menandakan tingkat persaingan atau kompetisi dalam menyerap air competitor yang rendah. Sehingga pada polikultur 1+1 kacang tanah dengan jagung tanaman dapat tumbuh dengan baik dilihat dari beberapa faktor yaitu tinggi tanaman dan jumlah daun serta panjang akar yang dapat menunjukkan adaptasi akar dalam persaingan atau kompetisi di dalam tanah. Akan tetapi, berat kering tertinggi terdapat pada perlakuan polikultur 3+3 dengan berat kering yaitu 2.04 gr. Hal ini tidak sesuai karena berat kering tertinggi seharusnya terdapat pada perlakuan polikultur 1+1 yang memiliki berat segar tertinggi.

VI. KESIMPULAN

1.        Faktor biotik sangat berpengaruh dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman karena makhluk hidup dapat menjadi kompetitor atau pesaing bagi makhluk  hidup lain, dimana dalam persaingan atau kompetisi intra maupun inter spesifik sehinga faktor biotik dapat berupa unsur hara yang tersedia dalam tanah dengan jumlah yang terbatas.
2.        Kompertisi yang terjadi dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman adalah kompetisi interspesifik dan intraspesifik. Kompetisi interspesifik merupakan persaingan antara dua atau lebih individu secara polikultur dengan tanaman kedelai dan jagung. Sedangkan, kompetisi intraspesifik merupakan persaingan antara dua atau lebih individu spesies yang berbeda jenis, dalam hal ini ditunjukkan pada persaingan antar kacang tanah yang ditanam baik secara monokultur.













DAFTAR PUSTAKA
Campbell, N.A. and J.B. Reece. 2009. Biology. Fifth Edition. Pearson. Benjamincummings, San Fransisco.

Elfidasari, D. 2007. Jenis interaksi intraspesifik dan interspesifik pada tiga jenis kuntul saat mencari makan di sekitar cagar alam Pulau Serang Dua, Provinsi Banten. Jurnal Biodiversitas 8: 266-269.

Fuller, J.H. and L.B. Caronthus. 1964. The Plant World 4th ed. Holt Richard Winston Inc,    USA.

Odum,E.P. 1983. Basic Ecology. CBS Collage Publising, USA.

Reynolds,M. 2010 Rasing yield potential of wheat. I. Overview of a consortium approach and greeding strategics. Journal of experimental Butany 62:439-452.   

Rezaei-Chianeh, E., A.D.M. Nassab, M.R. Shakiba, K. Ghassemi-Golezani, S. Aharizad, and F. Shekari. 2011. Intercropping of maize (Zeamays L.) andfababean (Viciafaba L.) atdifferentplant Population densities. African Journal of Agricultural Research 6:1786—1793.







LAMPIRAN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar