LAPORAN
RESMI
PRAKTIKUM
DASAR – DASAR EKOLOGI
ACARA
I
SALINITAS
SEBAGAI FAKTOR PEMBATAS ABIOTIK
Disusun oleh:
Nama :
Mahmud ismail
NIM : 13169
Gol/Kel : B2/IV
Asisten :
1. Aditya
Yasyafa M.
2. Diestalia A.
3. Yasinta B.
LABORATORIUM EKOLOGI TANAMAN
JURUSAN
BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014
ACARA I
SALINITAS SEBAGAI FAKTOR
PEMBATAS ABIOTIK
I.
TUJUAN
1. Mengetahui
dampak salinitas terhadap pertumbuhan tanaman.
2. Mengetahui tanggapan
beberapa macam tanaman terhadap tingkat salinitas yang berbeda.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Ekologi adalah ilmu yang mempunyai
hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya yaitu lingkungan
abiotik dan biotik (Harum, 2009). Ada berbagai faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan tumbuhan. Salah satunya adalah faktor salinitas dan kekeringan
(Syakir, et al.,2009). Dimana setiap jenis
tumbuhan mempunyai kebutuhan terhadap tiap faktor yang berbeda. Kebutuhan yang
terpenuhi akan menyebabkan tumbuhan tumbuh secara optimum. Suatu jenis tumbuhan
mempunyai batas-batas yang masih dapat dostolerir untuk suatu faktor.
Batas-batas ini dinamakan batas toleransi. Toleransi bagi tumbuhan adalah batas
maksimum dan minimum suatu faktor dibutuhkan tumbuhan untuk tumbuh (Brinker et al., 2010).
Salinitas dapat merusak tanaman
dengan berbagai tingkat kerusakan. Kerusakan berbagai jenis tanaman salinitas
dapat melalui dua aspek yaitu osmotik dan komposisi unsur hara. Salinitas
mempengaruhi serapan dan keseimbangan tanaman. Cekaman salinitas pada tanaman pangan dapat menyebabkan
peertumbuhan tanaman menjadi terganggu dan pada jenis yang rentan, menyebabkan
tanaman tidak dapat tumbuh. Perbedaan tingkat toleransi dapat terjadi antar
varietas juga dapat terjadi antar varietas karena perbedaan sifat genetik.
(Isnawan, 1997).
Tanah salin adalah tanah yang
mengandung NaCl cukup tinggi sehingga mengganggu pertumbuhan tanaman.
Larutan garam pada tanah biasanya tersusun dari ion Na+, Ca2+, Mg2+, Cl-,
CO42-dan CO3-. Ion dari kadar garam yang tinggi meracuni mekanisme metabolit
dan dapat mengganggu serapan berbagai unsure hara esensial dan metabolisme.
Ion-ion tersebut dapat meracuni tanaman melalui berbagai cara, antara lain :
1.) dapat menjadi anti metabolit, 2.) mengendapkan atau mengikat berbagai
metabolit, 3.) dapat menjadi katalisator dalam mempercepat dekomposisi, 4.)
merusak sel sehingga permeabilitasnya terganggu, 5.) berada pada tempat-tempat
unsure essensial tetapi tidak menggantikan perananya (Keany and John, 1985).
Dalam
kaitannya dengan lingkungan salin, tanaman dapat dikelompokkan menjadi tiga. Yang pertama halofit (toleran, seperti Cakilemaritima dan tanaman pangan). Kemudian glikofit (rentan, seperti Arabidopsisthaliana dan kacang-kacangan), serta euhalofit (kebal,
seperti Suaedaphysophora dan tanaman
daerah pantai) (Ellouzietal., 2011).
Dengan demikian benar bahwa salinitas dapat dikatakan sebagai faktor pembatas
abiotik yang membatasi organisme untuk beraktivitas (Feldmanetal., 2009).
III.
METODE PELAKSANAAN PRAKTIKUM
PraktikumDasar-Dasar Ekologi Acara I
dengan judul “Salinitas Sebagai Faktor Pembatas Abiotik” dilaksanakan pada hari Selasa, 16 April 2014 di Laboratorium Ekologi Tanaman, Jurusan
Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini
diantaranya adalah 3 macam benih tanaman, yaitu tanaman padi (Oryzasativa), kedelai (Glycine max), dan mentimun (Cucumissativus), polybag, kertas
label, dan NaCl teknis. Alat-alat yang
digunakan dalam praktikum ini adalah timbangan analitis, gelas ukur,
erlenmeyer, alat pengaduk, peralatan tanam, dan penggaris.
Cara kerja praktikum kali ini, pertama polybag bejumlah
12 disiapkan dan diisi tanah kurang lebih 3 kg atau ¾ bagian polybag. Bila ada kerikil, sisa-sisa akar tanaman lain dan kotoran harus
dihilangkan agar nantinya tidak menggangu
pertumbuhan tanaman. Kemudian biji dipilih yang sehat dari jenis tanaman yang
akan diperlaukan. Selanjutnya lima biji ditanam ke dalam masing-masing polybag.
Penyiraman dilakukan setetiap hari
dengan air biasa. Setelah bibit berumur 1 minggu, bibit dijarangkan menjadi 2
tanaman/polybag dan dipilih bibit yang sehat. Kemudian larutan NaCl dibuat dengan konsentrasi 2500 dan 5000 ppm. Sebagi pembanding di gunakan
aquades atau 0 ppm. Masing-masing perlakuan diulang tiga
kali. Masing-masing konsentrasi larutan dituangkan pada tiap-tiap polybag
sesuai perlakuan, sampai kapasitas lapang. Voluume masing-masing larutan yang
digunakan untuk tiap-tiap polybag harus
sama. Tiap polybag diberi label sesuai sesuai perlakuan dan ulangannya serta
label harus mudah dibaca, untuk mencegah tertukarnya dengan perlakuan lain saat pengamatan. Selanjutanya pemberian
larutan garam dilakukan setiap dua hari sekali sampai 7 kali pemberian. Selang
hari diantaranya tetap dilakukan penyiraman dengan air biasa dengan volume yang
sama. Kemudian percobaan dilaksanakan
sampai tanaman berumur 21 hari, lalu dilakukan pemanenan dan pada bagian
akar diusakanan jangan sampai rusak atau
terpotong. Pengamatan yang dilakukan meliputi: tinggi tanaman setiap 2 hari
sekali (cm), jumah berat segar tanaman pada akhir pengamatan (gram), panjang
akar utama, dan abnormalitas tanaman (klorosis pada daun dsb). Pada akhir
percobaan, dari seluruh data yang ada, dihitung rerata 3 ulangan pada tiap perlakuan. Digambar grafik tinggi tanaman pada
masing-masing konsentrasi garam vs hari pengamatan untuk masing-masing tannaman
dan grafik panjang akar pada masing konsentrasi gram vs hari pengamatan untuk
masing- masing tanaman.
IV.
HASIL PENGAMATAN
|
Tabel 1. Pertambahan
Tinggi
|
|||||||||||||||
|
Pengamatan
hari ke-
|
Kacang
Hijau (ppm)
|
Timun
(ppm
|
Padi
(ppm)
|
||||||||||||
|
0
|
2500
|
5000
|
0
|
2500
|
5000
|
0
|
2500
|
5000
|
|||||||
|
1
|
16.75
|
16.22
|
17.13
|
8.325
|
8.93
|
8.29
|
9.45
|
9.28
|
9.28
|
||||||
|
2
|
18.47
|
18.70
|
19.01
|
9.825
|
10.65
|
10.22
|
15.24
|
15.62
|
15.57
|
||||||
|
3
|
20.19
|
20.55
|
20.08
|
11.84
|
11.50
|
11.28
|
17.95
|
18.18
|
18.52
|
||||||
|
4
|
20.85
|
21.50
|
22.21
|
13.61
|
14.81
|
14.09
|
18.71
|
18.82
|
19.78
|
||||||
|
5
|
21.07
|
22.31
|
22.63
|
14.35
|
15.58
|
14.41
|
18.76
|
18.90
|
19.92
|
||||||
|
6
|
23.93
|
22.60
|
25.22
|
16.19
|
17.49
|
15.43
|
18.82
|
19.61
|
19.98
|
||||||
|
7
|
25.48
|
23.83
|
25.47
|
20.19
|
20.32
|
18.80
|
19.89
|
19.43
|
20.46
|
||||||
|
8
|
28.03
|
25.74
|
26.14
|
23.47
|
22.13
|
20.19
|
20.91
|
20.46
|
21.87
|
||||||
|
Tabel 2. Jumlah Daun
|
|||||||||||||||||
|
Pengamatan
hari ke-
|
Kacang
Hijau (ppm)
|
Timun
(ppm
|
Padi
(ppm)
|
||||||||||||||
|
0
|
2500
|
5000
|
0
|
2500
|
5000
|
0
|
2500
|
5000
|
|||||||||
|
1
|
0.0
|
0.0
|
0.5
|
0.0
|
0.0
|
0.0
|
1.0
|
1.0
|
1.0
|
||||||||
|
2
|
0.5
|
1.0
|
1.0
|
1.0
|
0.5
|
0.0
|
1.5
|
1.5
|
1.5
|
||||||||
|
3
|
1.0
|
1.5
|
1.5
|
1.0
|
1.0
|
1.0
|
2.5
|
2.5
|
2.0
|
||||||||
|
4
|
1.0
|
2.0
|
2.0
|
1.5
|
1.0
|
1.0
|
2.5
|
2.5
|
2.5
|
||||||||
|
5
|
1.5
|
2.5
|
2.5
|
2.0
|
2.0
|
1.5
|
3.0
|
3.0
|
3.0
|
||||||||
|
6
|
2.0
|
2.5
|
3.0
|
2.5
|
2.5
|
2.0
|
3.5
|
3.5
|
3.5
|
||||||||
|
7
|
2.5
|
3.0
|
3.0
|
2.5
|
3.0
|
2.5
|
4.0
|
3.5
|
3.5
|
||||||||
|
8
|
3.0
|
3.5
|
4.0
|
3.0
|
3.5
|
2.5
|
4.5
|
4.5
|
4.5
|
||||||||
Tabel 3. Panjang Akar,
Berat Segar dan Berat Kering
|
Komoditas
|
Panjang
Akar (cm)
|
Berat
Segar (gr)
|
Berat
Kering (gr)
|
||||||
|
0
|
2500
|
5000
|
0
|
2500
|
5000
|
0
|
2500
|
5000
|
|
|
Kacang
Hijau
|
7.50
|
7.69
|
12.50
|
2.12
|
2.14
|
8.29
|
0.32
|
0.13
|
0.39
|
|
Timun
|
17.36
|
17.13
|
9.80
|
8.67
|
7.54
|
7.20
|
1.05
|
0.83
|
0.73
|
|
padi
|
5.07
|
5.04
|
5.54
|
0.35
|
0.27
|
0.27
|
0.08
|
0.08
|
0.07
|
V.
PEMBAHASAN
Salah satu faktor pembatas yang digunakan
dalam pertumbuhan tanaman adalah salinitas tanah. Salinitas dapat
diartikan sebagai kadar keasinan atau kandungan garam terlarut dalam tanah.
Kandungan garam dalam tanah ini bersifat reversible,
artinya dalam kadar yang rendah merupakan unsur yang esensial bagi pertumbuhan
tanaman, akan tetapi dalam kadar tinggi atau berlebih dalam tanah maka dapat
meracuni tanaman.
Dimana
prinsip dari faktor pembatas
sendiri adalah pertumbuhan
organisme yang baik dapat tercapai bila faktor lingkungan yang mempengaruhi
pertumbuhan berimbang dan menguntungkan. Bila salah satu faktor lingkungan
tidak seimbang dengan faktor lingkungan lain, faktor ini dapat menekan atau
dapat menghentikan pertumbuhan organisme. Faktor lingkungan yang paling tidak
optimum akan menentukan tingkat produktivitas organisme. Faktor pembatas adalah
suatu yang dapat menurunkan tingkat jumlah dan perkembangan suatu ekosistem.
Organisme mempunyai batas maksimum dan minimum ekologi, yaitu kisaran toleransi
dan ini merupakan konsep Hukum Toleransi
Shelford. Di dalam hukum toleransi Shelford dikatakan bahwa besar populasi
dan penyebaran suatu jenis makhluk hidup dapat dikendalikan dengan faktor yang
melampaui batas toleransi maksimum atau minimum dan mendekati batas toleransi
maka populasi atau makhluk hidup itu akan berada dalam keadaan stress atau tertekan, sehingga apabila
melampaui batas itu yaitu lebih rendah dari batas toleransi minimum atau lebih
tinggi dari batas toleransi maksimum, maka makhluk hidup itu akan mati dan
populasinya akan semakin menurun dari sistem tersebut hingga punah.
Dalam praktikum ini dilakukan pengamatan
tentang pengaruh salinitas terhadap pertumbuhan dan toleransi tanaman terhadap
tingkat salinitas yang berbeda. Tanaman yang diamati dalam percobaan ini adalah tanaman padi (Oryza sativa), Kacang hijau (Vigna
radiata), dan mentimun (Cucumis sativus) ).
Tiap tanaman akan mendapatkan 3 perlakuan salinitas 0 ppm, 2000 ppm, 4000 ppm.
Pada percobaan, kadar garam tersebut telah mengurangi potensial air yang ada
pada jaringan karena penambahan potensial konsentrasi tinggi dari ion Na dan
Cl. Sehigga didapat data hasil pengamatan di bawah ini akan diuraikan tentang
pengaruh salinitas terhadap pertumbuhan dan tanggapan tanaman terhadap tingkat
salinitas yang berbeda yang diperlihatkan
dalam beberapa grafik hasil pengamatan tinggi tanaman, jumlah daun, serta histogram berat basah, berat kering tanaman, dan panjang akar pada tiga jenis tanaman tersebut.
Grafik 1. Tinggi Tanaman Kacang hijau (Vigna radiata)pada Berbagai
Perlakuan
Berdasarkan grafik di atas, dapat diketahui pertumbuhan
tinggi tanaman Kacang hijau (Vigna radiata) dengan menggunakan
perlakuan 0 ppm, 2500 ppm, maupun 5000
ppm. Pada hari pengamatan ke-7
maka akan terlihat dari grafik diatas efek dari salinitas akan terlihat dengan
pertambahan tinggi pada tanaman dengan menggunakan perlakuan 0 ppm menunjukkan pertumbuhan yang paling tinggi yaitu dari 23.93 cm menjadi 25.48 cm, dibandingkan
perlakuan 2500 ppm yaitu dari 22.60 cm menjadi 23.83 cm, dan perlakuan 5000 ppm
yaitu dari 25.22 cm menjadi 25.47 cm, kemudian pada pengamatan terakhir atau ke-8 dapat dilihat bahwa
tanaman kedelai dengan menggunakan perlakuan 0
ppm lebih tinggi dibandingkan perlakuan dengan menggunakan penyiraman air salin
2500 ppm maupun 5000 ppm. Tanaman Kacang
hijau (Vigna radiata) dengan perlakuan konsentrasi 0 ppm
menunjukkan pertumbuhan yang paling tinggi yaitu dari 25.48 cm menjadi 28.03 cm, sedangkan
pertumbuhan tinggi tanaman Kacang hijau (Vigna radiata) dengan menggunakan perlakuan 2500 ppm yaitu dari 23.83 cm menjadi 25.74 cm dan
pertumbuhan tinggi tanaman Kedelai dengan menggunakan perlakuan 5000 ppm yaitu dari 25.47 cm menjadi 26.14 cm. Dari hal ini didapat bahwa
keadaan yang paling optimum untuk pertumbuhan Kacang hijau (Vigna radiata) adalah
dengan menggunakan perlakuan
0 ppm (non salin). Tinggi
tanaman Kacang hijau (Vigna radiata) dengan konsentrasi 2500 ppm dan 5000 ppm
lebih pendek dari pada perlakuan dengan menggunakan konsentrasi 0 ppm. Hal ini
disebabkan karena kadar garam
yang sudah terlalu berlebihan yang dapat
menghambat pertumbuhan batang dan meracuni tanaman. Jaringan meristem pada
tanaman Kacang hijau (Vigna radiata) yang merupakan jaringan vital bagi
pertumbuhan tanaman akan terhambat pertumbuhannya akibat dari salinitas yang
tinggi. Hal ini telah sesuai dengan teori, bahwa tanaman akan tumbuh secara optimal pada keadaan lingkungan
yang normal yaitu dengan kandungan garam mineral cukup bagi kebutuhan tanaman
tersebut.
Grafik
2. Jumlah Daun Tanaman Kacang
hijau (Vigna radiata) pada Berbagai Perlakuan
Jumlah
daun dengan faktor salinitas ini memiliki hubungan yaitu luas daun tanaman akan
dipengaruhi oleh jumlah daun. Pengurangan luas daun merupakan salah satu bentuk
mekanisme toleransi tanaman kacang hijau (Vigna radiata)
terhadap tanah salin yaitu secara morfologi. Berdasarkan data grafik jumlah daun kacang hijau (Vigna radiata)
di atas pada berbagai perlakuan
tampak bahwa salinitas berpengaruh terhadap pertumbuhan jumlah daun. Tetapi
pengaruh yang terlihat justru pada tingkat salinitas 5000 ppm jumlah daun yang
terbentuk lebih dari atau hampir sama dengan perlakuan 2500 ppm pada hari ke-1
pengamatan. Serta pada perlakuan salinitas 0 ppm jumlah daun yang terbentuk
lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan 2500 ppm dan 5000 ppm. Berdasarkan
teori tanaman kacang
hijau (Vigna radiata) merupaan tanaman yang
rentan terhadap kondisi lingkungan yang salin.
Tetapi dari data yang
didapatkan pada percobaan jumlah daun yang terbentuk tidak menunjukan bahwa
tanaman kedelai rentan pada kondisi lingkungan yang salin. Hal itu dibuktikan
dari grafik yang terbentuk, pada kondisi lingkungan dengan salinitas 2500 ppm
dan 5000 ppm, jumlah daun yang terbentuk justru lebih banyak daripada perlakuan
0 ppm. Tetapi dalam kondisi salin dengan
konsentrasi 2500 ppm dan 5000 ppm yang diberikan pada tanaman kacang hijau (Vigna radiata) tidak memberikan efek yang berarti bagi pertambahan
jumlah daun, lingkungan juga memberikan pengaruh lain pada jumlah daun tanaman
kedelai yang terbentuk. Kondisi lingkungan seperti tingkat penguapan air tanah,
kelembaban, suhu udara, serta kondisi benih, memberikan efek lebih besar dari pada
kondisi salinitas pada tanaman dengan konsentrasi 2500 ppm dan 5000 ppm yang
diberikan pada tanaman.
Histogram 1. Panjang Akar Tanaman Kacang hijau (Vigna radiata) pada Berbagai Perlakuan
Histogram
panjang akar diatas merupakan panjang akar tanaman kacang hijau (Vigna radiata) yang diamati pada perlakuan 0 ppm, 2500 ppm
dan 5000 ppm. Dapat dilihat bahwa akar tanaman kacang hijau (Vigna radiata) lebih panjang pada perlakuan 5000 ppm yaitu 12.50 cm dibandingkan dengan menggunakan perlakuan 0 ppm yaitu 7.50 cm dan
menggunakan perlakuan 2500 ppm yaitu 7.69 cm. Dengan hasil pengamatan tanaman kacang hijau (Vigna radiata) dapat tumbuh baik pada perlakuan 5000 ppm dengan
menggunakan parameter panjang akar, dapat diambil pengertian bahwa semakin
panjang akar, maka tanaman semakin giat mencari nutrisi di dalam tanah untuk
kebutuhan tumbuhnya. Hal ini selaras dengan jumlah daun yang tinggi di mana
tanaman dengan ukuran dan jumlah daun yang tinggi sehingga panjang akar pada
perlakuan 5000 ppm lebih panjang dibandingkan perlakuan 0 ppm dan 2500 ppm
karena beberapa faktor yang menyebabkan hal itu terjadi, terutama pada kondisi lingkungan seperti tingkat penguapan
air tanah, kelembaban, suhu udara, serta kondisi benih. Hal ini sesuai
dengan teori akar yang lebih panjang akan membantu penyerapan unsur hara yang
diperlukan tanaman. Akar tumbuh maksimum untuk menyesuaikan keadaan kadar garam
yang terkandung dalam tanah agar tanaman tetap dapat hidup. Akar akan mencari sumber
makanan di dalam tanah.
Histogram 2. Berat Segar dan Berat Kering
pada Kacang Hijau (Vigna
radiata) Berbagai Perlakuan
Berdasarkan histogram
berat segar dan berat kering kacang hijau(Vigna radiata) di atas
pada perlakuan 5000 ppm paling tinggi dibandingkan dengan menggunakan
perlakuan 0 ppm dan 2500 ppm, perlakuan 5000 ppm dengan berat segar tertinggi
yaitu 8.29 gr dan berat kering tertinggi
yaitu 0.39 gr. Bila di bandingkan perlakuan 0 ppm dengan berat segar yaitu 2.12
gr dan berat kering yaitu 0.32 gr dan
perlakuan 2500 ppm dengan berat segar yaitu 2.14 gr dan berat kering yaitu 0.13
gr. Hal ini menunjukkan bahwa pada kondisi lingkungan yang salin mempengaruhi
berat segar dan berat kering pada tanaman kacang hijau atau dapat dikatakan
tanaman kacang hijau sehingga pada kondisi lingkungan yang salinitas tinggi
memiliki berat segar dan berat kering yang tertinggi. Hal tersebut tidak sesuai
dengan teori dimana hubungan berat
segar dan berat kering tanaman dengan
pertumbuahan yaitu jumlah kadar air yang dapat diserap oleh tanaman. Jika
tanaman dapat menyerap secara optimal kadar air yang ada di dalam tanah tanah
maka berat segar dan berat keringnya akan tinggi dibandingkan dengan tanaman
yang menyerap air secara tidak optimal.
Kadar garam berlebih dalam tanah berbahaya bagi tanaman dalam pertumbuhannya.
Hal ini disebabkan tanaman kehilangan air akibat proses evaporasi/transpirasi. Kandungan garam yang tinggi pada tanah
akan mengganggu proses penyerapan air sehingga akan terjadi pengurangan berat
segar dan berat kering tanaman tergantung pada toleransi tanaman terhadap tanah
salin.
VI. KESIMPULAN
1.
Salinitas
tinggi dapat menghambat proses pertumbuhan tanaman budidaya, mempengauhi
aktivitas metabolisme, gangguan osmosis, keracunan ion, dan dapat mengakibatkan
kematian bagi tanaman.
2.
Setiap
tanaman memberikan tanggapan yang berbeda-beda pada berbagai perlakuan kadar
salinitas. Pada tanaman
kacang hijau dengan perlakuan 5000 ppm termasuk tanaman yang tidak terpengaruh terhadap salinitas media
tanam dengan menunjukkan berat segar tertinggi yaitu 8.29 gr dan berat
kering tertinggi yaitu 0.39 gr .
DAFTAR PUSTAKA
Brinker, M., B.B.V. Mikael, A. Atef , F. Payam,J. Dennis.
2010. Linking the salt trascriptome with physiological responses of a salt
resistant Popilas Species os a strategy to identify genes important for stress
acclimation. Plant Physiology. 153:1697-1709.
Ellouzi, H., K.B. Hamed, J. Cela, S. Munné-Bosch, and C. Abdelly.
2011. Earlyeffects of salt stres on thephysiologicalandoxidative status of Cakile Maritime (halophyte), andArabidopsisthaliana (glicophyte).
PhysolgiaPlantarum 142: 128—143.
Feldmann, F., D.V. Alford, and C. Furk. 2009. Crop plant resistance to biotic and
abiotic factors: current potential and future demands.
International Symposium of Plant Protection and Plant Health at Julus
Kűhn Institut, Germany.
Hanum, C. 2009. Ekologi Tanaman. Usu Press. Medan.
Isnawan, H., B. 1997.
Permasalahan Salinitas Tanaman Budidaya. Jakarta, Erlangga.
Keany and L. John.
1985. Soil and Plant Interaction with Salinity. Agriculture Experiment. Station University of California, California.
Syakir, M.N. Maslahah, dan M.Januwati. 2009. Pengaruh
Salinitas Terhadap Pertumbuhan,
Produksi, dan Mutu Sambiloto (Andrographis
Paniculntanees). Jurnal
Penelitian Tanaman Obat 19:130.
LAMPIRAN

Tidak ada komentar:
Posting Komentar