Kamis, 23 April 2015

Laporan lapangan dasar-dasar ilmu tanah



ABSTRAKSI
Praktikum lapangan Dasar-Dasar Ilmu Tanah (fieldtrip) dilaksanakan pada tanggal 26 April 2014 dengan 5 stop site yang diamati, yaitu Piyungan, Patuk, Hutan Bunder, Playen, dan Mulo. Fieldtrip ini dilaksanakan untuk mengetahui dan mengamati ciri-ciri dan keadaan masing-masing jenis tanah pada stop site. Alat-alat yang digunakan antara lain klinometer, GPS, meteran, soil munsell color chart, kertas pH universal, palu pedologi, dan pisau, sedangkan khemikalia yang digunakan yaitu H2O2 10%, H2O2 3%, dan HCl 2 N. Praktik yang dilakukan adalah pengamatan morfologi tapak, meliputi fisiografi, topografi, lereng, vegetasi, arah lereng, landform, litologi, jeluk, dan lain sebagainya lalu ditentukan karakteristik profil, yaitu dibagi lapisan-lapisan tanah, diamati jeluk, warna, tekstur, struktur, konsistensi, perakaran, bahan kasar, serta diuji kandungan khemikalianya meliputi BO, Mn, dan kapur, dan ditentukan pH aktual menggunakan larutan H2O. Setelah itu dapat diketahui klasifikasi tanahnya menurut sifat fisik dan sifat kimianya. Semua metode tersebut dilakukan pada tiap-tiap stop site yang diamati, yaitu Banguntapan, Patuk, Hutan Bunder, Playen,dan Mulo. Hasil yang diperoleh pada daerah banguntapan adalah tanah entisol yang merupakan tanah muda dan belum terbentuk horison, daerah Patuk adalah tanah ultisol dengan kenampakan yang paling terlihat yaitu tanahnya berwarna merah dan konsistensinya lunak, daerah Hutan Bunder adalah tanah rendzina dengan vegetasi yang nampak yaitu kayu putih dan mahoni, daerah Playen adalah tanah vertisol dengan konsistensi yang agak kuat dan sifat kembang-kerut yang besar, dan daerah Mulo adalah tanah alfisol  dengan konsistensi yang kuat dan kandungan BO yang tinggi.

Kata kunci : site, profil, klasifikasi tanah

I.                   PENDAHULUAN
Pengenalan jenis tanah yaitu melihat sifat, ciri, dan kenampakan tanah di lapangan terutama tanah-tanah yang digunakan untuk praktikum. Dengan ini diharapkan akan terjadi keruntutan informasi mengenai sifat dan ciri masing-masing jenis tanah antara sifat fisik dan kimia di laboratorium dengan kondisinya di lapangan. Disamping itu dengan dilakukannya pengamatan lapangan dapat diketahui informasi langsung tentang sifat-sifat tanah.
Dalam pengamatan tanah di lapangan tidaklah mungkin akan mengamati tanah tiap jengkal untuk mengetahui sifat dan cirinya berkaitan dengan penggunaan tertentu. Untuk itu diperlukan suatu pendekatan pengamatan tanah agar kesalahan pencanderaan sifat dan ciri dapat seminimal mungkin. Salah satu pendekatan tersebut adalah membuat kelompok tanah berdasar atas sifat tertentu. Dari hasil temuan kelompok-kelompok tersebut selanjutnya dibuat pewakil kelompok agar dapat diurai lebih mendalam mengenai sifat fisika dan kimianya sehingga diketahui potensi dan kendala untuk suatu penggunaan. Dari konsep demikian lahir suatu pewakil tanah yang disebut dengan istilah profil tanah
Survey tanah adalah suatu kegiatan untuk memperoleh infomasi tentang keadaan tanah pada masing-masing loka (site) atau geografi berbagai sifat dan watak tanah. Tiap profil tanah mempunyai daerah sebaran tertentu sesuai dengan factor-faktor pembentuk tanah tersebut, atau dengan perkataaan lain suatu profil tanah merupakan anasir dari suatu bentang darat yang khas. Ini berarti bahwa tnah tidak saja mempunyai tebal tapi juga luasan atau dikatakan sebagai bentuka yang berdimensi tiga. Profil tanah mempunyai seprangkat sifat dan cirri-ciri yang merupakan karakternya dan yang membedakannya dari profil-profil yang lain. Karakter profil tersebut dapat dipakai ntuk membedakan atau menyamakan dua atau lebih profil tanah dan merupakan dasar penyusunan system klasifikasi tanah (Siradz, 1990).
Jenis-jenis tanah ditentukan berdasar pengamatan profil tanah di lapangan dibantu dengan hasil analisis tanah di labotratorium terhadap contoh-contoh tanah yang diambil dari masing-masing horison tanah tersebut. Batas-batas penyebaran jenis tanah ditentukan dengan dengan pemboran baik secara sistematis atau secara taktis. Cara sistematis dapat dilakukan pemeta tanah yang belum berpengalaman dalam survei tanah, sedang cara taktis dapat memberi hasil baik dan lebih cepat bila dilakukan oleh pemeta tanah yang mampu menafirkan hubungan sifat-sifat tanah dengan faktor lingkungan didaerah tersebut (Hardjowigeno, 2003). 
Dalam lapisan tanah atas terkandung bahan-bahan organik atau “humus” serta macam-macam zat hara mineral yang sangat diperlukan oleh tanaman. Di dalam lapisan itu juga terkandung pula jasad-renik biologis seperti bakteri, cacing-cacing tanah, serangga-serangga tanah, yang dalam botani dikenal sebagai “mikro flora dan mikro fauna” (Nugroho dan Niswati,2000).
Sifat tanah berbeda-beda, misalnya ada yang berwarna merah, kelabu yang ada bertekstur pasir, debu, liat dan sebagainya. Membedakan tanah menjadi tanah merah, tanah hitam tanah kelabu, atau tanah pasir, tanah debu, tanah liat dan sebagainya, berarti kita telah melakukan klasifikasi tanah meskipun dengan cara yang sederhana. Jadi, klasifikasi tanah adalah usaha untuk membeda-bedakan tanah berdasar atas sifat-sifat yang dimilikinya. Dengan cara ini maka tanah-tanah dengan sifat yang sama dimasukkan kedalam satu kelas yang sama (Hardjowigeno, 2003).
Pada praktikum lapangan ini kami menguji sifat fisika dan kimia tanah. Sifat fisika tanah yang kami uji antara lain adalah tekstur tanah, struktur tanah, konsistensi, warna tanah, dan lain-lain. Sifat kimia tanah yang kami uji adalah kadar bahan organik dengan larutan H2O2 10%, kadar unsur Mn dengan larutan H2O2 3%, kadar kapur tanah dengan larutan HCl 2N, dan pengukuran pH aktual tanah.
Tekstur tanah adalah perbandingan relatif (dalam persen) fraksi-fraksi pasir, debu, dan lempung. Tekstur tanah penting untuk kita ketahui karena komposisi ketiga fraksi butir-butir tanah tersebut akan menentukan sifat-sifat fisika, fisika-kimia tanah (Bailey, 1984). Berdasarkan ukurannya, bahan padatan tanah digolongkan menjadi tiga partikel atau separate penyusun tanah yaitu pasir, debu, dan liat. Peranan ketiga separate tersebut didalam menentukan sifat dan kemampuan tanah tidak sama. Separate pasir dan debu yang sebagian besar tersusun atas SiO2 tidak banyak perannya dalam usaha penyediaan unsur hara tanaman. Sebaliknya, bahan liat (lempung) yaitu bahan yang berukuran <2µm, terdiri dari mineral liat silikat, bahan amorf, dan merupakan bahan aktif penyusun tanah. Artinya adanya bahan ini dalam tanah sangat menentukan sifat dan kemampuan tanah (Islami dan Utomo, 1995).
Struktur tanah ialah penyusun zarah-zarah tanah individual satu terhadap yang lain menjadi satu pola. Disebabkan zarah-zarah tanah berbeda dalam bentuk, ukuran, dan orientasinya dapat berbentuk beragam cara pengelompokan maka bentuk pengelompokannya sangat kompleks dan konfigurasinya tidak beraturan (Hillel, 1980).
Konsistensi tanah adalah satu sifat fisika tanah yang menggambarkan ketahanan tanah pada saat memperoleh gaya atau tekanan dari luar yang menggambarkan bekerjanya gaya kohesi dan adhesi dengan berbagai kelengasan tanah. Sifat fisik yang ditunjukkan adalah kekerasan, keliatan dan kelekatan. Konsistensi tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu tekstur tanah, bahan organik, kadar koloid dan sifat atau jenis koloid tanah. Konsistensi basah dibagi atas dua sifat, yaitu kelekatan dan plastisitas. Kelekatan tanah diuji dengan menekan di antara ibu jari dan jari telunjuk. Jika tidak ada tanah yang melekat di jari tangan maka tanah tidak lekat. Plastisitas adalah pengujian tanah dengan membuat pasta tanah dan kemudian dibentuk huruf O, S, dan angka 8. Tanah yang melekat menunjukkan daya adhesinya tinggi, sehingga mudah menempel (Mc.Cullagh, 1989).
Bahan organik adalah bagian tanah yang merupakan suatu sitem kompleks dan dinamis yang bersumber dari sisa tanaman dan atau binatang yang terdapat di dalam tanah yang terus mengalami perubahan bentuk, karena dipengaruhi oleh faktor biologi, fisika, dan kimia. Bahan organik tanah adalah semua jenis senyawa organik yang terdapat di dalam tanah, termasuk serasah, fraksi bahan organik ringan, biomassa mikroorganisme, bahan organik terlarut di dalam air, bahan organik yang stabil atau humus (Atmojo, 2009).
pH tanah adalah salah satu dari ukuran sifat tanah yang paling sering dan umum digunakan dan kemungkinan juga dapat untuk mengetahui karakteristik kimiawi tanah. pH tanah akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman melalui 2 cara yaitu melalui pengaruh langsung ion hidrogen dan pengaruh tidak langsung, yakni tidak tersedianya unsur hara tertentu dan tersedianya unsur hara beracun (Courchesne, 1995).
Kapur tanah adalah suatu unsur hara yang terkena dampak buruk degradasi lahan hutan di bagian tenggara Nigeria. Tingginya curah hujan dan jangka waktu yang lama tersebut mendorong pelarutan kation dasar, seperti zat kapur dari horizon atas yang berakibat zat kapur terse4but tidak tersedia bagi rumput dan tanaman panenan yang cocok untuk bertanam bahkan dari hutan hujan yang tidak berigmadasi tanahnya yang mengakibatkan penurunanya kadar zat kapur yang sangat jelas. Penemuan serupa kemunduran pertukaran zat kapur telah ditemukan di lahan Eropa dan lahan hutan amerika utara. Ada kemungkinan terdapat banyak asam organik  di dalam tanah hutan diakibatkan pengasaman dan pelarutan asam dari tanah hutan tersebut (Onweremadu and Uhuegbu, 2007).
Dalam program pembukaan dan penyiapan tanah, lebih-lebih kalau tujuannya untuk keperluan penyediaan tanah pertanian, maka kondisi tanah mengambil peranan yang besar dan menentukan. Hal ini bukan saja dikaitkan kepada faktor-faktor kesuburan tanah yang akan menentukan sekali bagi kelangsungan dan kelestarian usaha tani yang bakal dikembangkan pada tahun-tahun berikutnya, tetapi juga akan berkaitan dengan cara atau metode serta peralatan mekanis yang akan dipilih untuk dipakai dalam proses pembukaan dan penyiapan tanah. Disamping itu akan menentukan pula corak pola usaha tani (cropping pattern) yang akan dikembangkan setempat dibelakang hari. Yang dimaksudkan dengan faktor kondisi tanah disini akan mencakup hal-hal seperti : 1. ketebalan lapisan tanah atas (top soil), 2. solum tanah, 3. jenis tanah, 4. kandungan air-lengas pada tanah (soil moisture content), 5. ada tidaknya batu-batuan (Sosroatmodjo, 2004).


II.                METODOLOGI
Praktikum Lapangan Dasar-dasar Ilmu Tanah ini dilakukan pada hari Sabtu tanggal 26 April 2014 di lima stopsite yang telah ditentukan.  Stopsite I bertempat di Banguntapan, stopsite II di Karang Sari Bukit Pathuk, stopsite III di Hutan Bunder, stopsite IV di Playen, dan stopsite V di daerah Mulo. Alat dan bahan yang diperlukan dalam praktikum lapangan ini yaitu sekop, klinometer, GPS, palu pedologi, pisau, alat-alat tulis, pH meter, Soil Munshell Colour Charts, kertas saring, test kits, cangkul, dan kamera, .
Langkah pertama dalam pengamatan morfologi profil adalah dipilih tanah yang tidak tergenang air, datar dan mewakili tempat sekitarnya. Lalu pada tanah tersebut digali dan dibuat profil tanahnya dengan ukuran panjang ± 1-1,5 m dan lebar ± 1m. Dari galian tanah tersebut dilakukan pengamatan karakteristrik profil tanah yang dimulai dari penentuan batas horison tanah. Penentuannya dilihat dari warna tanah yang berbeda antar horison yang ada, apabila warna tanah hampir sama maka penentuan horison dilakukan dengan mengamati konsistensi tanah dengan cara memukul-mukulkan palu ke profil tanah yang telah dibuat. Setelah horison tanah telah ditentukan kemudian dilakukan pengamatan dari tiap jenis horison yang ada. Pengamatan yang dilakukan dimulai dari penentuan jeluk tanah dari tiap horison dengan meteran, lalu dilakukan pengamatan warna tanah dengan menggunakan Soil Munshell Colour Charts, lalu dilakukan pengamatan tekstur tanah secara kualitatif dengan memilin-milin tanah hingga membentuk pita, lalu dilakukan pengamatan struktur tanah dengan cara kualitatif juga yaitu dengan melempar-lempar tanah dari tiap horison di atas permukaan tangan kita, kemudian ditentukan konsistensi tanah di tiap horisonnya, dan diamati jumlah dan ukuran perakarannya. Bahan-bahan kasar yang terdapat di tiap horison juga harus diamati. Setelah dilakukan pengamatan-pengamatan sifat fisik tanah dilakukan pengamatan sifat-sifat kimia tanah dengan uji khemikalia H2O2 10% untuk uji kandungan bahan organik yang terkandung dalam tanah, uji khemikalia H2O2 3% untuk uji kandungan Mn dalam tanah, uji HCl 2N untuk uji kandungan kapur dalam tanah, dan uji pH H2O (pH aktual). Morfologi tapak dari tanah dilakukan dengan mengamati lingkungan sekitar dari daerah tempat profil tanah dibuat.  Lereng dan arah lereng ditentukan dengan menggunakan klinometer, letak lintang dilakukan dengan GPS dan jeluk air dilakukan dengan melihat kedalaman sumur di daerah tersebut. Dari data-data hasil pengamatan tersebut lalu ditentukan klasifikasi tanah menurut PPT, USDA dan FAO.

III.             HASIL DAN PEMBAHASAN

1.      Stop site 1
a.      Morfologi Tapak
Nama pengamat
: Kelompok 3/A4
Letak Lintang
: 507o.48’.325”T
Lokasi
: Banguntapan

  110o.24’.838”
Fisiografi
: Kaki Merapi
Kode
: II
Topografi
: Datar
Landform
: Aluvial
Lereng
: 0-5%
Litologi
: Aluvium
Landuse
: Kebun campuran
Arah Lereng
: 850 NE
Vegetasi
: Jati, pisang
Pertumbuhan
: subur
Pola Drainase
: Dendritik
Jeluk Air Tanah
: 5-8m
Erosi
: Rendah, lembar
Tingkat Erosi
: rendah
Cuaca
: Cerah
Altitude
: 533 mdpl


Tanggal
: 26 April 2014




b.      Tabel 1 Karakteristik Profil
No.
Pengamatan
Lapisan I
Lapisan II
Lapisan III
1
Jeluk (cm)
0-20 cm
20-66 cm
66-134 cm
2
Warna Tanah




a.       Matrik
5 YR 3/2
5 YR 4/3
5 YR 4/3

b.      Karatan
-
-
-

c.       Campuran
-
-
-
3
Tekstur
Pasir Geluhan
Pasir Geluhan
Pasir Geluhan
4
Struktur




a.       Tipe
Gumpal Menyudut
Gumpal Menyudut
Gumpal Menyudut

b.      Kelas
Sedang
Sedang
Sedang

c.       Derajat
Sedang
Sedang
Sedang
5
Konsistensi
Lemah
Lemah
Lemah
6
Perakaran




a.       Ukuran
Meso dan Mikro
meso
Tidak ada

b.      Jumlah
Sedikit
sedang
Tidak ada
7
Bahan Kasar




a.       Jenis
-
-
-

b.      Jumlah
-
-
-

c.       Ukuran
-
-
-
8
Uji Khemikalia




a.       BO(H2O2) 10%
+++++
+++++
+++

b.      Mn(H2O2) 3%
+
+
+

c.       Kapur (HCl 2N)
-
-
-
9
pH H2O
6
5
5
10
Catatan khusus
Ciri tanah ada horizon almolik dan tanah berwarna hitam (gelap)
c.       Klasifikasi Tanah
a.       PPT                    : Alluvial
b.      FAO                   : Kambisol
c.       Soil Taxonomy    : Inseptisol


d. Pembahasan

Stopsite pertama pada praktikum lapangan tanggal 26 April 2014 berlokasi di Kaki Merapi daerah Banguntapan bercuaca cerah. Topografi disini yaitu datar, dengan lereng 0-5%, memiliki landuse kebun campuran dengan vegetasi dominan jati dan pisang. Pertumbuhan pada stopsite ini termasuk subur. Kaki Merapi memiliki pola drainase dendritik, erosi rendah dan lembar. Letak lintang pada stopsite ini yaitu 507°.48’.325°.T110° 24 menit 838s dan arah lereng north east 85°. Diketahui landformnya Aluvial dengan litologi Aluvium. Jeluk air tanah 5-8m dengan altitude 133 mdpl. Pada daerah Kaki Merapi di Banguntapan, didapatkan hasil bahwa daerah ini memiliki tiga lapisan tanah. Lapisan satu didapatkan hasil yaitu jeluk berkisar antara 0-20 cm. Warna tanah yaitu matrik YR 3/2. Memiliki tekstur pasir geluhan, tipe struktur gumpal menyudut, kelas tekstur dan derajat tekstur sedang. Konsistensi lapisan pertama lemah. Perakaran pada lapisan pertama yaitu ukuran perakaran meso dan mikro dengan jumlah yang sedikit. Ketika dilakukan uji khemakalia, lapisan pertama mendapatkan hasil yaitu memiliki kandungan bahan organik yang banyak, kandungan unsur Mn sedikit, dan tidak terdapat adanya kandungan kapur. PH yang didapatkan yaitu 6.
Lapisan kedua pada tanah di Kaki Merapi ini tidak jauh berbeda dengan lapisan pertama. Jeluk yang didapatkan yaitu 20-66cm, warna tanah matrik 5 YR 4/3, berteksur pasir geluhan. Tipe struktur gumpal menyudut, dan kelas serta derajat strukturnya sedang. Konsistensi yang didapatkan yaitu lemah, Terdapat ukuran perakaran meso dengan jumlah sedang. Lapisan kedua memiliki kandungan bahan organik yang banyak, kandungan unsur Mn sedikit, dan tidak ada kandungan kapur. Memiliki nilai pH 5.
Lapisan terakhir yaitu lapisan ketiga didapatkan hasil jeluk 66-134cm dengan warna tanah matrik 5 YR 4/3, bertekstur pasir geluhan. Tipe strukturnya gumpal menyudut dengan kelas dan derajat struktur sedang. Konsistensi lapisan ketiga pun lemah. Pada lapisan ketiga tidak ditemukan adanya perakaran. Ketika diuji dengan khemikalia diketahui kandungan bahan organik pada lapisan ketiga sedang, unsur Mn sedikit, dan tidak ada kandungan kapur. PH lapisan ketiga yaitu 5.
Dari hasil pengamatan diketahui tanah tersebut memiliki tiga lapisan. Hasil pada ketiga lapisan tidak jauh berbeda. Tanah ini tergolong subur karena memiliki kandungan bahan organik yang relatif banyak dan unsur Mn sedang pada setiap lapisannya sehingga baik untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Tanah ini memiliki tekstur pasir geluhan sehingga kandungan pada tanah ini terdiri dari pasir dan lempung.
Gambar 1.3
Gambar 1.2
Gambar 1.1
 


2.      Stop site 2
a.      Morfologi Tapak

Nama Pengamat    : Kelompok 3
Lokasi                   : Karang Sari, Patuk
Fisiografi               : Baturagung
Topografi              : Bergumuh
Lereng                   : 18%
Landuse                : Tegalan
Vegetasi                : Ubi Kayu
Pola Drainase        : Dendritik
Erosi                      : Rendah
Cuaca                    : Mendung

Letak Lintang       : LS     : 07o 51, 144’
                                E        : 110o 29, 353’
Kode                     : II
Landform              : Perbukitan
Litologi                 : -
Arah Lereng          : 255 Ne
Pertumbuhan         : Baik
Jeluk Air Tanah     : -
Tingkat Erosi         : Rendah
Altitude                 : 287 mdpl
Tanggal                 : 26 April 2014

b.      Tabel 2 Morfologi Profil
No
Pengamatan
Lapisan I
Lapisan II
Lapisan III
Lapisan IV
1
Jeluk (cm)
0-30
30-77
77-123
123-163
2
Warna Tanah





a. Matrik
7,5 YR 5/4
10 YR 5/4
10 YR 5/4
10 YR 5/4

b. Karatan
-
-
-
-

c. Campuran
-
-
-
-
3
Tekstur
geluh lempung
lempung pasir
lempung
lempung debuan
4
Struktur





a. Tipe
Gumpal Membulat
Gumpal Membulat
Gumpal Membulat
Gumpal Membulat

b. Kelas
sedang
sedang
sedang
kasar

c. Derajat




5
Konsistensi
sangat liat
sangat liat
sangat liat
sangat liat
6
Perakaran





a. Ukuran
Meso
Meso
Meso
-

b. Jumlah
sedikit
sedikit
sedikit
-
7
Bahan Kasar





a. Jenis
-
-
-
-

b. Jumlah
-
-
-
-

c. Ukuran
-
-
-
-
8
Uji Khemikalia





a. BO (H2O2 10%)
++
++++
+++
+++++

b. Mn (H2O2 3%)
++
+++
++++
+++++

c. Kapur (HCl 2N)




9
pH H2O
5
5
5
5,5
10
Catatan Khusus
Kongres Mn

c.    Karakteristik Tanah
a.       PPT                             : Mediteran
b.      FAO                            : Mediteran
c.       Soil Taxonomy            : Alfisol

d. Pembahasan

            Pada stop site ke dua ini kami melakukan pengamatan tanah di daerah Karang Sari, Patuk dengan fisiografi Baturagung. Hal pertama yang kami lakukan adalah membuka profil tanah yang ada di daerah tersebut dengan syarat profil yang sudah ditetapkan yaitu baru, tidak terkena sinar matahari langsung, dan bersifat representative atau mewakili sifat tanah yang ada di sekitarnya. Pembukaan profil tanah dimulai dengan membuat potongan melintang tanah dengan kedalaman sekitar satu sampai dua meter. Pembukaan tanah menggunakan alat yang disebut palu pedologi, setelah selesai melakukan pemotongan melintang tanah tersebut lalu akar-akar tanaman yang ada di bersihkan, hal ini bertujuan agar memudahkan praktikan dalam menentukan lapisan-lapisan tanah atau horizon-horizon tanah. Setelah akar dibersihkan selanjutnya adalah menentukan lapisan tanah atau menentukan tanah tersebut dibagi menjadi berapa lapisan. Cara menentukan lapisan tanah ada tiga yaitu yang pertama melihat warna tanah, tanah yang warnanya sudah berbeda menandakan bahwa lapisan tanah tersebut juga berbeda, namun kalau tidak bisa dilakukan dengan menentukan perbedaan warna maka cara kedua adalah menentukan kerapatan tanah dengan cara menepuk atau memukul tanah dari atas ke bawah secara berurutan dan teratur jaraknya lalu didengarkan bunyinya. Jika terdapat perbedaan bunyi menandakan bahwa terdapat perbedaan lapisan tanah. Lalu cara yang ketiga adalah dengan penentuan tekstur, struktur, dan konsistensi tanah. Namun pada pembukaan profil tanah di stopsite kedua ini kami melakukan penentuan lapisan tanah dengan menguji kerapatan tanah yaitu dengan cara memukul tanah vertical dari atas ke bawah dengan teratur dan jarak pukulan yang sama lalu didengarkan perbedaan bunyinya. Setelah didapat perbedaan bunyinya lalu di beri tanda menggunakan pisau agar dapat membedakan lapisan-lapisan tadi dengan mudah.
            Setelah menemukan lapisan-lapisan tanah yang didapat dari uji kerapatan tanah tadi, selanjutnya adalah menentukan panjang dari tiap lapisan yang telah didapat dan telah ditandai menggunakan pisau tadi. Cara menentukan panjang lapisannya adalah menarik meteran dari permukaan tanah sampai ke dasar permbukaan profil yang dibuka. Setelah itu dilihat panjang tiap lapisan yang dihitung dari permukaan tanah. Dan panjang tiap lapisan yang kami dapatkan pada stopsite kedua ini adalah sebagai berikut : Lapisan 1 : 0-30cm, Lapisan 2 : 30-77cm, Lapisan 3 : 77-123cm, dan Lapisan 4 : 123-163cm.
            Setelah didapat profil tanah yang telah dibuka dan ditentukan lapisan-lapisannya, hal berikutnya yang dilakukan adalah penentuan warna tanah, tekstur tanah, struktur tanah, dan konsistensi tanah. Cara menentukan warna tanah adalah dengan menggunakan Soil Munsell Color Charts. Dan kami mendapatkan data warna matrik yaitu : lapisan 1 : 7,5YR 5/4, lapisan 2 : 10YR 5/4, lapisan 3 : 10YR 5/4, dan lapisan 4 : 10YR 5/4. Setelah menentukan warna dilanjutkan dengan menentukan tekstur tanah. Tekstur tanah ditentukan dengan cara dibasahi terlebih dahulu lalu dipilin. Dari pilinan yang dilakukan akan diketahui dan dapat dirasakan fraksi apa yag dominan ataupun proporsinya. Pengamatan tekstur ini bersifat kualitatif dengan menggunakan indra peraba. Dari stopsite kedua ini kami mendapatkan data bahwa tekstur yang ada di stopsite ini adalah sebagai berikut: lapisan 1 : geluh lempungan, lapisan 2 : lempung pasiran, lapisan 3 : lempung, lapisan 4 : lempung debuan. Setelah penentuan tekstur, dilakukan penentuan struktur dengan melakukan tiga pengamatan yaitu tipe, kelas, dan derajat. Cara menentukan struktur adalah dengan cara meletakkan tanah yang berbentuk bongkah di kedua telapak tangan kemudian di goyangkan atau digojok ke atas dan kebawah. Dari stopsite kedua ini struktur yang kami dapat untuk tipe yaitu lapisan 1 : gumpal membulat, lapisan 2 : gumpal membulat, lapisan 3 : gumpal membulat, lapisan 4 : gumpal membulat. Dan untuk kelasnya dari lapisan 1 sampai 3 sama yaitu sedang, dan lapisan ke 4 adalah kasar.
            Setelah menentukan struktur tanah, langkah selanjutnya adalah menentukan konsistensi tanah, konsistensi tanah dapat ditentukan dengan cara memijat tanah dengan ibu jari dan telunjuk dalam tiga keadaan yaitu basah, lembab, dan kering. Keadaan basah menunjukan keliatan atau kelekatan tanah, kondisi lembab menunjukan kemudahan untuk dibentuk dan kondisi kering digolongkan menjadi lepas-lepas atau tidak. Dari hasil yang kami dapatkan di stopsite kedua ini konsistensi tanah dari lapisan 1 sampai lapisan 4 adalah sama yaitu sangat liat.
            Morfologi tapak pada stopsite 2 yang berlokasi di Karang Sari, Patuk pada tanggal 26 April 2014. Dengan letak lintang LS: 07o51,144’,  E: 110o29,353, dan ketinggian lokasinya adalah 287meter dari permukaan laut. Cara menentukan letak lintang dan ketinggian adalah dengan menggunakan GPS (Global Positioning System). Kelerengan atau kemiringan pada stopsite kedua ini adalah 18%. Cara untuk menghitung kelerengan adalah menggunakan Klinometer. Cara mengukurnya menggunakan kedua mata, mata kanan untuk melihat angka pada klinometer dan mata kiri untuk menembak atau melihat objek yang memiliki tinggi yang sama dengan tinggi badan kita. Landform pada stopsite kedua ini adalah perbukitan dan landusenya adalah tegalan. Vegetasi yang terdapat di daerah ini adalah ubi kayu. Pola drainase pada stopsite ini adalah dendritic.
            Pada uji khemikalia ini dilakukan empat pengujian tanah yaitu pengujian kadar bahan organic (BO) dengan menggunakan H2O2 10%, kadar senyawa Mn dengan menggunakan H2O2 3%, kadar kapur dalam tanah dengan menggunakan larutan HCl, dan penentuan pH tanah menggunakan aquadest. Penentuan keempat hal diatas dilakukan pada empat lapisan tanah. Hasil yang kami dapatkan untuk kadar BO, lapisan tanah yang memiliki kadar BO tertinggi adalah lapisan keempat. Seharusnya lapisan yang paling bawah mengandung BO paling sedikit, namun pada hasil yang kami dapatkan ternyata BO terbanyak ada di lapisan terbawah, hal ini dikarenakan pada profil yang kami buka tinggi profilnya lebih tinggi dari tanah disekitarnya dan pada lapisan terbawah atau lapisan keempat yang kami buka memiliki tinggi sama dengan permukaan tanah disekitarnya sehingga banyak ditumbuhi oleh tumbuhan dan menyebabkan kadar BO nya menjadi tinggi. Lalu pH yang kami dapatkan berkisar 5 kecuali lapisan keempat yaitu sebesar 5,5 tanah ini tergolong tanah yang agak masam.
Gambar 2.3
Gambar 2.1
Gambar 2.2


3.      Stop Site 3
a.      Morfologi tapak
Nama pengamat
: Kelompok 3/A4
Letak Lintang
: 07o.54.141’ LS
Lokasi
: Hutan Bunder

  110o.33.153’ LU
Fisiografi
: Cekungan Merapi
Kode
: III
Topografi
: Bergumuk
Landform
: lipatan dan angkatan
Lereng
: 18%
Litologi
: Sedimen marin
Landuse
: Hutan sekunder
Arah Lereng
: 12 NE
Vegetasi
: Akasia dan Kayu putih
Pertumbuhan
: baik, subur
Pola Drainase
: Dendritik
Jeluk Air Tanah
: 7-10m
Erosi
: Lembar
Tingkat Erosi
: rendah
Cuaca
: Mendung
Altitude
: 215 mdpl


Tanggal
: 26 April 2014

b.      Tabel 3 Karakteristik Profil
No.
Pengamatan
Lapisan I
Lapisan II
Lapisan III
1
Jeluk (cm)
0-36 cm
36-58 cm
58-70 cm
2
Warna Tanah




d.      Matrik
7,5 YR 3/2
7,5 YR 3/4
7,5 YR 3/4

e.       Karatan
-
-
-

f.       Campuran
-
-
-
3
Tekstur
Lempung
Lempung
Lempung
4
Struktur




d.      Tipe
Granuler
Gumpal Menyudut
Gumpal Menyudut

e.       Kelas
-
-
-

f.       Derajat
-
-
-
5
Konsistensi
Lembab
Lembab
Lembab
6
Perakaran




c.       Ukuran
Makro
meso
meso

d.      Jumlah
Banyak
sedang
sedang
7
Bahan Kasar




d.      Jenis
-
-
-

e.       Jumlah
-
-
-

f.       Ukuran
-
-
-
8
Uji Khemikalia




d.      BO(H2O2) 10%
+++++
+++++
+++++

e.       Mn(H2O2) 3%
+
+
+

f.       Kapur (HCl 2N)
-
-
-
9
pH H2O
6
5,5
5,5
10
Catatan khusus
Ciri tanah ada horizon almolik dan tanah berwarna hitam (gelap)

c.    Klasifikasi Tanah
·         PPT                      : Rendzina
·         FAO                     : Rendzina
Soil Taxonomy            : Mollisol

d. Pembahasan

            Praktikum Lapangan Dasar-dasar Ilmu Tanah di stopsite 4 ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 26 April 2014, adapun stopsite 4 ini berlokasi di hutan bunder yang secara fisiografi merupakan cekungan Merapi. Hutan bunder sendiri secara geografis terletak pada 07o.54.141’ LS dan 110o.33.153’ LU dengan letak ketinggian  215 mdpl. Keadaan cuaca pada saat praktikan sedang melakukan pengamatan adalah mendung dan berawan. Topografi daerah hutan bunder adalah bergumuk dan kemiringan lerengnya 18% dengan arah lereng 12NE. Lahan hutan bunder merupakan hutan sekunder dengan vegetasi akasia dan kayu putih yang tumbuh dengan baik dan subur. Pola drainasenya dendritik dan erosinya lembar. Landform hutan bunder terbentuk atas lipatan dan angkatan. Litologinya berjenis sedimen marin, tingkat erosinya pun rendah. Jeluk air tanahnya hanya sekitar 7-10m.
            Pada profil tanah yang dibuat, hanya ada 3 lapisan tanah; lapisan I dengan kedalaman 0-36cm, lapisan II 36-58 cm dan lapisan III sedalam 58-70cm. Untuk warnanya, lapisan pertama adalah 7,5 YR 3/2 dan untuk kedua lapisan dibawahnya memiliki warna yang sama yaitu 7,5 YR ¾. Tekstur dari profil tanah yang dibuat ini untuk ketiga lapisan sama, yaitu lempung. Sedangkan tipe strukturnya adalah granuler pada lapisan I dan gumpal menyudut pada lapisan II dan III. Untuk konsistensi tanahnya, diketiga lapisan profil tanah tadi adalah sama yaitu, lembab. Perakaran yang ada pada profil tanah yang dibuat rata-rata berukuran meso, kecuali pada lapisan pertama adalah berukuran makro. Jumlah perakaran yang bertipe makro pada lapisan pertama cukup banyak  sedangkan, jumlah perakaran meso pada lapisan II dan III tidak terlalu banyak (sedang).
            Berdasarkan uji khemikalia, ketiga lapisan tanah menghasilkan banyak buih saat diberikan BO(H2O2) 10% sedangkan saat ditetesi khemikalia Mn(H2O2) 3% ketiganya hanya menghasilkan sedikit buih. Setelah diuji dengan HCl 2N, diketahui ketiga lapisan tanah tidak mengandung kapur. Hal ini ditunjukkan dengan sedikitnya buih saat ditetesi khemikalia HCl 2N. Untuk nilai keasaman (pH) tanah, pada lapisan I pH-nya adalah 6 lalu untyk lapisan kedua dan ketiga pH-nya sama-sama 5,5. Tanah ini berciri khusus yaitu memiliki horizon almolik dan berwarna hitam.
            Berdasarakan hasil pengujian dan pengamatan, secara FAO dan PPT tanah di stopsite 4 ini dapat diklasifikasikan sebagai tanah rendzina. Sedangkan jika menggunakan dasar Soil Taxonomy, tanah dapat diklasifikasikan sebagai tanah mollisol. 
Gambar 3.3
Gambar 3.2
Gambar 3.1
 


4.      Stop Site 4
a.      Morfologi tapak
Nama pengamat
: Kelompok 3/A4
Letak Lintang
: S : 70 56’ 810”
Lokasi
: Playen

  E : 1100 34’ 373”
Fisiografi
: Cekungan Wonosari
Kode
: IV
Topografi
: Datar
Landform
: Karst
Lereng
: 1%
Litologi
: Koral
Landuse
: Kebun Campuran
Arah Lereng
: NE 1750
Vegetasi
: Jati, Rembesi, Bambu
Pertumbuhan
: Baik
Pola Drainase
: Dendritik
Jeluk Air Tanah
: 10-15 m
Erosi
: Lembar
Tingkat Erosi
: Rendah
Cuaca
: Hujan
Altitude
: 218 mdpl


Tanggal
: 26 April 2014
b.      Tabel 4 Karakteristik Profil
No.
Pengamatan
Lapisan I
1
Jeluk (cm)
0-67 cm
2
Warna Tanah


g.      Matrik
10 YR 3/4

h.      Karatan
-

i.        Campuran
-
3
Tekstur
Lempung
4
Struktur


g.      Tipe
Gumpal Menyudut

h.      Kelas
Halus

i.        Derajat
Halus
5
Konsistensi
Liat
6
Perakaran


e.       Ukuran
Mikro, Meso, Makro

f.       Jumlah
Banyak
7
Bahan Kasar


g.      Jenis
-

h.      Jumlah
-

i.        Ukuran
-
8
Uji Khemikalia


g.      BO(H2O2) 10%
+++++

h.      Mn(H2O2) 3%
++++

i.        Kapur (HCl 2N)
-
9
pH H2O
6
10
Catatan khusus
1.Sifat mengembang-mengerut (Pedoturbasi)
2.Ada cracking yang saat basah menutup, saat kering membuka

c.       Klasifikasi Tanah
·         PPT                      : Grumusol
·         FAO                     : Vertisol
·         Soil Taxonomy     : Vertisol





d. Pembahasan

            Pengamatan stop site 4 adalah daerah Playen yang berada pada fisiografis Cekungan Wonosari dan dilaksanakan pada hari Sabtu, 26 April 2014. Playen berada pada letak lintang S : 70 56’ 810” dan E : 1100 34’ 373” dengan ketinggian 218 mdpl. Pengamatan di Playen dilakukan ketika turun hujan dengan intensitas yang tidak terlalu deras. Topografi lahan di Playen adalah datar dengan kemiringan lereng hanya 1% dan arah lereng NE 1750.
            Landuse dari lahan di Playen adalah kebun campuran untuk berbagai komoditas. Vegetasi yang mayoritas dijumpai adalah pohon jati, rembesi, dan bambu. Pertumbuhan tanaman di lokasi playen bersifat baik. Kedalaman jeluk air tanah adalah antara 10 m sampai 15 m. Pola drainase dari lahan yang kami teliti adalah dendritik dengan tingkat erosi yang rendah. Tipe erosinya lembar.
            Morfologi profil yang kami lakukan hanya menemukan 1 lapisan dengan jeluk sedalam 0-67 cm. Warna tanah pada lapisan 1 ini adalah 10 YR ¾, menunjukkan tanah vertisol yang memang berwarna gelap hampir hitam pekat. Tidak dijumpai karatan dan campuran dari warna tanah pada lapisan yang kami uji. Dengan pengujian secara kualitatif, kami menyimpulkan teksturnya adalah lempung. Sedangkan struktur tanahnya betipe gumpal menyudut dengan kelas dan derajat halus. Pengujian konsistensi tanah secara kualitatif menunjukkan sifat liat. Perakaran tanaman di daerah playen cukup kompleks, kami menemukan ukuran perakaran baik mikro, meso, maupun makro dalam jumlah yang banyak. Tidak ada bahan kasar yang kami temukan di tanah tersebut.
            Uji khemikalia menunjukkan kandungan bahan organik pada tanah vertisol Playen sangat tinggi, ditunjukkan dengan buih yang banyak saat pengujian dengan larutan H2O2 10%. Kandungan unsur Mn pun cukup tinggi, namun tidak setinggi kandungan bahan organiknya, diuji dengan larutan H2O2 3%. Pada tanah vertisol ini kami tidak menemukan kandungan kapur dalam pengujian dengan larutan HCl 2N. Sementara pH H2O atau pH aktual yang terukur adalah6.
            Catatan khusus untuk pengamatan tanah di lahan Playen adalah adanya proses pedoturbasi, yaitu sifat mengembang dan mengkerut tanah. adanya rentang kembang-kerut tanah yang tinggi ini ditunjukkan dengan adanya retakkan (cracking) pada saat tanah bersifat kering, dan akan menutup pada saat tanah bersifat basah. Sifat ini terjadi terus menerus seiring waktu dan merupakan karakteristik umum dari tanah vertisol.
            Tanah yang kami teliti di lahan Playen dalam klasifikasi PPT termasuk tanah Grumusol. Klasifikasi FAO tanah tersebut termasuk tanah Vertisol. Pada klasifikasi Soil Taxonomy termasuk tanah Vertisol.
Gambar 4.3
Gambar 4.2
Gambar 4.1
 


5.      Stop site 5
a.      Morfologi Tapak (Site)
      Nama pengamat    :  Gol. A4 Klp. 3      Letak lintang         : S:8o.2.2,18
      Lokasi                   :  Mulo                                                    : E:110o 35,971’
      Fisiografi               :  Peg. Seribu            Kode                     :  5
      Topografi/Relief    :  Bergelombang       Landform              :  Kartst (h)
      Lereng                   :  10 %                      Litologi/Bhn.Indk :  Sedimen koral      
      Land Use              :  Hutan                    Arah Lereng          :  NE 95o
      Vegetasi                :  Akasia,dan            Pertumbuhan         :  baik
                                       kayu putih             Jeluk air tanah       :  -
      Pola Drainase        :  Dendritik               Tingkat Erosi         :  Rendah
      Erosi                      :  Alur                       Altitute                  :  223 m dpl
      Cuaca                    :  Cerah                    Tanggal                  :  26 April 2014
     
b.      Tabel 5 Karakteristik Profil
No.
Pengamatan
Lapisan l
Lapisan ll
Lapisan lll
Lapisan lV
1.
Jeluk (cm)
0 – 59
59 - 85
85 - 107
107 - 120
2.
Warna tanah





a. matrik
5 R 3/4 
5 R 3/4 
5 R 3/4 
5 R 3/4 

b. kerapatan
 -
 -

c. Campuran
 -
 -
3.
Tekstur
Lempung pasiran
Lempung pasiran
lempung
Lempung debuan
4.
Struktur





a. Tipe
Gumpal membulat
Granular
Remah-remah
Gumpal menyudut

b. Kelas
Kasar
halus
halus
halus

c. Derajad
Sedang
sedang
sedang
sedang
5.
Konsistensi
Lemah
lemah
lemah
lemah
6.
Perakaran





a. Ukuran
Meso
mikro
mikro
mikro

b. Jumlah
Banyak
banyak
Sedikit
sedikit
7.
Bahan kasar





a. Jenis

b. Jumlah

c. Ukuran
-
-
8.
Uji Chemicalia





a. BO (H2O2 10 %)
+ +
+ + + + +
+ + +
+ + + +

b. Mn (H2O2 3 %)
+ + + +
+ +
+ + + + +
+ + +

c. Kapur (HCl 2 N)
-
+ +
-
9.
pH H2O
5
5
5
5
10.
Catatan khusus
Horizon B-argilik




c.         Klasifikasi Tanah
  1. PPT                                   :     Mediteran
  2. FAO                                  :     Mediteran
3.      Soil Taxonomy                  :     Alvisol

d. Pembahasan

            Tanah Mediteran adalah salah satu jenis tanah yang dapat kita temui di beberapa wilayah Pegunungan Seribu. Pegunungan kaki seribu ini terbentang dari daerah Gunung Kidul sampai dengan daerah Pacitan sehingga rentang jarak ini akan dapat kita jumpai lokasi-lokasi yang bertanah Mediteran.
            Lokasi yang diambil adalah di dusun Mulo dimana lokasi inilah salah satu contoh tempat yang memiliki tanah jenis Mediteran. Vegetasi yang tumbuh di daerah ini adalah jenis tanaman tahunan seperti akasia dan kayu putih. Namun kebanyakan wilayah ini hanya digunakan sebagai hutan dan hanya sedikit saja yang digunakan sebagai lahan pertanian mengingat pengairan yang hanya mengandalkan air hujan karena tidak adanya sungai.
            Di tanah ini terdapat lapisan-lapisan yang dijumpai aktivitas-aktivitas pencucian karbon. Biasanya di daerah gua-gua bawah tanah yang terdapat stalaktit maupun stalakmitnya. Dilihat dari sisi topografi, daerah ini adalah daerah berbukit yang cukup kering. Pola drainasenya adalah pola karstik karena tidak ditemukannya sungai-sungai. Tingkat atau proses erosi yang terjadi di daerah ini adalah erosi alur dimana terjadi karena aliran-aliran permukaan saja. Jeluk air tanah adalah 223 m dari permukaan laut.
            Selain itu wilayah dusun Mulo ini memiliki arah lereng ke sebelah Selatan sebesar 10 %. Para penduduknya biasa mengolah lahan ini untuk pertanian ketela pohon dengan cara melubangi dengan linggis. Soil taxonomy dari tanah Mediteran adalah Vertikal Alfisol. Dari pengamatan, dulunya tanah ini adalah dasaran laut yang mengalami pengangkatan. Hal ini terbukti adanya kapur-kapur batuan. Disebut tanah Mediteran karena tanahnya mirip dengan tanah yang terdapat di daerah tanah Mediterania Eropa. Mengenai tingkat kesuburannya, untuk tanaman tahunan cukup karena cenderung kering.
            Landform dari tanah ini adalah pengangkatan sehingga memang dapat menjadi bukti adanya pengangkatan dasar laut di wilayah tersebut. Namun dari sisi lain terdapat tingkat erosi dari sedang sampai dengan berat dengan jenis erosi adalah erosi alur. Daerah ini ternyata juga memiliki posisi atau letak ketinggian 223 m di atas permukaan laut.
Tanah yang teramati terdiri atas 4 lapisan yaitu dari lapisan I, II, III, dan IV. Warna tanah di keempat lapisan tersebut yaitu 5 R 3/4. Tekstur tanah pada lapisan I dan II adalah lempung pasiran, strukturnya lapisan I gumpal membulat, kelas kasar dal lapisan II granular dan kelas halus. Pada lapisan III dan IV mempunyai tekstur lempung dan lempung debuan, struktur remah-remah, gumpal menyudut dan kelas pada lapisan III dan IV halus.
            Konsistensinya lemah pada keempat lapisan dengan perakaran lapisan I meso kemudian lapisan II, III, dan IV perakarannya mikro. Bahan kasar sedikit sekali hapir tidak ada. Selain itu ketika diadakan uji khemikalia terhadap masing-masing lapisan ternyata bahan organiknya setiap lapisan berbeda-beda pada lapisan I merupakan lapisan bahan organik paling sedikit kemudian lapisan III, lapisan IV dan kandungan bahan organik terbanyak terdapat pada lapisan II dan Kapur juga terdapat pada lapisan II dalam tanah. Derajat pH H2O pada lapisan I, II, III, dan IV adalah 5, dengan catatan khusus horizon B-argilik.
 
Gambar 5.2
Gambar 5.1
Gambar 5.3

 

IV.KESIMPULAN
Daerah Piyungan adalah tanah entisol yang merupakan tanah muda dan belum terbentuk horison, daerah Patuk adalah tanah ultisol dengan kenampakan yang paling terlihat yaitu tanahnya berwarna merah dan konsistensinya lunak, daerah Hutan Bunder adalah tanah rendzina dengan vegetasi yang nampak yaitu kayu putih dan mahoni, daerah Playen adalah tanah vertisol dengan konsistensi yang agak kuat dan sifat kembang-kerut yang besar, dan daerah Mulo adalah tanah alfisol  dengan konsistensi yang kuat dan kandungan BO yang tinggi.
Manfaat melakukan praktikum lapangan ini adalah membuat praktikan menjadi tahu keadaan tanah secara langsung di alam. Selain itu praktikan menjadi lebih mengetahui cara menentukan sifat fisik dan sifat kimianya. Sehingga praktikan mampu mengklasifikasikan jenis tanah di suatu lahan.



DAFTAR PUSTAKA
Atmojo, S.W. 2009. Peranan Bahan Organik terhadap Kesuburan Tanah dan Upaya          Pengelolaanya. http://Suntoro.Staff.UNS.ac.id. Diakses senin 29 April 2014
Bailey, H.h., et all. 1984. Kuliah Ilmu Tanah. Badan Kerjasama Ilmu Tana : Palembang.
Courchesne, F.S., Sovoie, and A. Dufnesne. 1995. Effects of air drying on the measurement of soil pH in acidic forest soils of Quebec, Canada. Soil Science 16:56-57
Hardjowigeno, S. 2003. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo. Jakarta.
Hillel, D. 1980. Fundamental of Soil Physics. Acad Press. New York.
Islami, T dan W.H. Utomo. 1995. Hubungan Air, Tanah, dan Tanaman. IKIP Semarang Press: Semarang
Mc. Cullagh, P. and J.A. Nelder. 1989. Generalized Liner Models : Interacting process in soil science. Lewis publication. Florida.
Nugroho, S.G dan A. Niswati. 2000. Efikasi pembenah tanah alami dan sintetik terhadap stabilitas agregat tanah. Jurnal Tanah Tropika.
Onweremadu, E. U and Uhuegbu. 2007. Pedogenesis of calcium in degmaged tropical mangeland soil. Journal of America Science 3 : 23-24.
Sosroatmodjo, Pribadyo, Ir. 2004. Pembukaan Lahan dan Pengelolaan Tanah. Leppenas, Jakarta.
Siradz, S. A. 1990. Taksonomi Tanah Bagian 1 : Morfologi dan Kunci Determinasi Tanah. Yogyakarta.




LAMPIRAN

Stop site 1
Gambar 1.3
Gambar 1.2
Gambar 1.1
 

Stopsite 2
Gambar 2.3
Gambar 2.1
Gambar 2.2

Stopsite 3
Gambar 3.3
Gambar 3.2
Gambar 3.1
 






Stopsite 4
Gambar 4.3
Gambar 4.2
Gambar 4.1
 

Stopsite 5
 
Gambar 5.2
Gambar 5.1
Gambar 5.3
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar