ABSTRAKSI
Praktikum lapangan Dasar-Dasar
Ilmu Tanah (fieldtrip) dilaksanakan pada tanggal 26 April 2014 dengan 5 stop
site yang diamati, yaitu Piyungan, Patuk, Hutan Bunder, Playen, dan Mulo. Fieldtrip
ini dilaksanakan untuk mengetahui dan mengamati ciri-ciri dan keadaan
masing-masing jenis tanah pada stop site. Alat-alat yang digunakan antara lain klinometer,
GPS, meteran, soil munsell color chart, kertas pH universal, palu pedologi, dan
pisau, sedangkan khemikalia yang digunakan yaitu H2O2
10%, H2O2 3%, dan HCl 2 N. Praktik yang dilakukan adalah
pengamatan morfologi tapak, meliputi fisiografi, topografi, lereng, vegetasi,
arah lereng, landform, litologi, jeluk, dan lain sebagainya lalu ditentukan
karakteristik profil, yaitu dibagi lapisan-lapisan tanah, diamati jeluk, warna,
tekstur, struktur, konsistensi, perakaran, bahan kasar, serta diuji kandungan
khemikalianya meliputi BO, Mn, dan kapur, dan ditentukan pH aktual menggunakan larutan H2O.
Setelah itu dapat diketahui klasifikasi tanahnya menurut sifat fisik dan sifat kimianya. Semua
metode tersebut dilakukan pada tiap-tiap stop site yang diamati, yaitu Banguntapan,
Patuk, Hutan Bunder, Playen,dan Mulo. Hasil yang diperoleh pada daerah banguntapan adalah tanah
entisol yang merupakan tanah muda dan belum terbentuk horison, daerah Patuk
adalah tanah ultisol dengan kenampakan yang paling terlihat yaitu tanahnya
berwarna merah dan konsistensinya lunak, daerah Hutan Bunder adalah tanah
rendzina dengan vegetasi yang nampak yaitu kayu putih dan mahoni, daerah Playen
adalah tanah vertisol dengan konsistensi yang agak kuat dan sifat kembang-kerut
yang besar, dan daerah Mulo adalah tanah alfisol dengan konsistensi yang kuat dan kandungan BO
yang tinggi.
Kata kunci : site, profil,
klasifikasi tanah
I.
PENDAHULUAN
Pengenalan jenis tanah yaitu melihat sifat, ciri,
dan kenampakan tanah di lapangan terutama tanah-tanah yang digunakan untuk
praktikum. Dengan ini diharapkan akan terjadi keruntutan informasi mengenai
sifat dan ciri masing-masing jenis tanah antara sifat fisik dan kimia di
laboratorium dengan kondisinya di lapangan. Disamping itu dengan dilakukannya
pengamatan lapangan dapat diketahui informasi langsung tentang sifat-sifat
tanah.
Dalam pengamatan tanah di
lapangan tidaklah mungkin akan mengamati tanah tiap jengkal untuk mengetahui
sifat dan cirinya berkaitan dengan penggunaan tertentu. Untuk itu diperlukan
suatu pendekatan pengamatan tanah agar kesalahan pencanderaan sifat dan ciri
dapat seminimal mungkin. Salah satu pendekatan tersebut adalah membuat kelompok
tanah berdasar atas sifat tertentu. Dari hasil temuan kelompok-kelompok
tersebut selanjutnya dibuat pewakil kelompok agar dapat diurai lebih mendalam
mengenai sifat fisika dan kimianya sehingga diketahui potensi dan kendala untuk
suatu penggunaan. Dari konsep demikian lahir suatu pewakil tanah yang disebut
dengan istilah profil tanah
Survey tanah adalah suatu kegiatan untuk memperoleh infomasi tentang keadaan tanah pada masing-masing loka (site) atau geografi berbagai
sifat dan watak tanah. Tiap profil tanah mempunyai daerah sebaran tertentu
sesuai dengan factor-faktor pembentuk tanah tersebut, atau dengan perkataaan
lain suatu profil tanah merupakan anasir dari suatu bentang darat yang khas.
Ini berarti bahwa tnah tidak saja mempunyai tebal tapi juga luasan atau
dikatakan sebagai bentuka yang berdimensi tiga. Profil tanah mempunyai
seprangkat sifat dan cirri-ciri yang merupakan karakternya dan yang
membedakannya dari profil-profil yang lain. Karakter profil tersebut dapat dipakai ntuk membedakan atau
menyamakan dua atau lebih profil tanah dan merupakan dasar penyusunan system
klasifikasi tanah (Siradz, 1990).
Jenis-jenis tanah ditentukan berdasar pengamatan profil tanah di lapangan
dibantu dengan hasil analisis tanah di labotratorium terhadap contoh-contoh tanah yang diambil dari
masing-masing horison tanah tersebut. Batas-batas penyebaran jenis tanah
ditentukan dengan dengan pemboran baik secara sistematis atau secara taktis. Cara sistematis dapat dilakukan pemeta
tanah yang belum berpengalaman dalam survei tanah, sedang cara taktis dapat
memberi hasil baik dan lebih cepat bila dilakukan oleh pemeta tanah yang mampu
menafirkan hubungan sifat-sifat
tanah dengan faktor lingkungan didaerah tersebut (Hardjowigeno, 2003).
Dalam lapisan tanah atas terkandung bahan-bahan organik atau “humus”
serta macam-macam zat hara mineral yang sangat diperlukan oleh tanaman. Di
dalam lapisan itu juga terkandung pula jasad-renik biologis seperti bakteri,
cacing-cacing tanah, serangga-serangga tanah, yang dalam botani dikenal sebagai
“mikro flora dan mikro fauna” (Nugroho dan Niswati,2000).
Sifat tanah berbeda-beda, misalnya ada yang berwarna merah, kelabu yang
ada bertekstur pasir, debu, liat dan sebagainya. Membedakan tanah menjadi tanah
merah, tanah hitam tanah kelabu, atau tanah pasir, tanah debu, tanah liat dan
sebagainya, berarti kita telah melakukan klasifikasi tanah meskipun dengan cara
yang sederhana. Jadi, klasifikasi tanah adalah usaha untuk membeda-bedakan
tanah berdasar atas sifat-sifat yang dimilikinya. Dengan cara ini maka
tanah-tanah dengan sifat yang sama dimasukkan kedalam satu kelas yang sama
(Hardjowigeno, 2003).
Pada praktikum lapangan ini
kami menguji sifat fisika dan kimia tanah. Sifat fisika tanah yang kami uji
antara lain adalah tekstur tanah, struktur tanah, konsistensi, warna tanah, dan
lain-lain. Sifat kimia tanah yang kami uji adalah kadar bahan organik dengan
larutan H2O2 10%, kadar unsur Mn dengan larutan H2O2 3%, kadar kapur tanah dengan
larutan HCl 2N, dan pengukuran pH aktual tanah.
Tekstur tanah adalah perbandingan relatif (dalam persen) fraksi-fraksi
pasir, debu, dan lempung. Tekstur tanah penting untuk kita ketahui karena
komposisi ketiga fraksi butir-butir tanah tersebut akan menentukan sifat-sifat
fisika, fisika-kimia tanah (Bailey, 1984). Berdasarkan ukurannya, bahan padatan
tanah digolongkan menjadi tiga partikel atau separate penyusun tanah yaitu
pasir, debu, dan liat. Peranan ketiga separate tersebut didalam menentukan sifat
dan kemampuan tanah tidak sama. Separate pasir dan debu yang sebagian besar
tersusun atas SiO2 tidak banyak perannya dalam usaha penyediaan
unsur hara tanaman. Sebaliknya, bahan liat (lempung) yaitu bahan yang berukuran
<2µm, terdiri dari mineral liat silikat, bahan amorf, dan merupakan bahan
aktif penyusun tanah. Artinya adanya bahan ini dalam tanah sangat menentukan
sifat dan kemampuan tanah (Islami dan Utomo, 1995).
Struktur tanah ialah penyusun
zarah-zarah tanah individual satu terhadap yang lain menjadi satu pola.
Disebabkan zarah-zarah tanah berbeda dalam bentuk, ukuran, dan orientasinya
dapat berbentuk beragam cara pengelompokan maka bentuk pengelompokannya sangat
kompleks dan konfigurasinya tidak beraturan (Hillel, 1980).
Konsistensi tanah adalah satu sifat fisika tanah yang
menggambarkan ketahanan tanah pada saat memperoleh gaya atau tekanan dari luar
yang menggambarkan bekerjanya gaya kohesi dan adhesi dengan berbagai kelengasan
tanah. Sifat fisik yang ditunjukkan adalah kekerasan, keliatan dan kelekatan.
Konsistensi tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu tekstur tanah, bahan
organik, kadar koloid dan sifat atau jenis koloid tanah. Konsistensi basah dibagi atas dua sifat, yaitu kelekatan dan
plastisitas. Kelekatan tanah diuji dengan menekan di antara ibu jari dan jari
telunjuk. Jika tidak ada tanah yang melekat di jari tangan maka tanah tidak
lekat. Plastisitas adalah pengujian tanah dengan membuat pasta tanah dan
kemudian dibentuk huruf O, S, dan angka 8. Tanah yang melekat menunjukkan daya
adhesinya tinggi, sehingga mudah menempel (Mc.Cullagh, 1989).
Bahan organik adalah bagian tanah yang merupakan suatu
sitem kompleks dan dinamis yang bersumber dari sisa tanaman dan atau binatang
yang terdapat di dalam tanah yang terus mengalami perubahan bentuk, karena
dipengaruhi oleh faktor biologi, fisika, dan kimia. Bahan organik tanah adalah
semua jenis senyawa organik yang terdapat di dalam tanah, termasuk serasah,
fraksi bahan organik ringan, biomassa mikroorganisme, bahan organik terlarut di
dalam air, bahan organik yang stabil atau humus (Atmojo, 2009).
pH tanah adalah salah satu dari ukuran sifat tanah yang
paling sering dan umum digunakan dan kemungkinan juga dapat untuk mengetahui
karakteristik kimiawi tanah. pH tanah akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman
melalui 2 cara yaitu melalui pengaruh langsung ion hidrogen dan pengaruh tidak
langsung, yakni tidak tersedianya unsur hara tertentu dan tersedianya unsur
hara beracun (Courchesne, 1995).
Kapur tanah adalah suatu unsur hara yang terkena dampak
buruk degradasi lahan hutan di bagian tenggara Nigeria. Tingginya curah hujan
dan jangka waktu yang lama tersebut mendorong pelarutan kation dasar, seperti
zat kapur dari horizon atas yang berakibat zat kapur terse4but tidak tersedia
bagi rumput dan tanaman panenan yang cocok untuk bertanam bahkan dari hutan
hujan yang tidak berigmadasi tanahnya yang mengakibatkan penurunanya kadar zat
kapur yang sangat jelas. Penemuan serupa kemunduran pertukaran zat kapur telah
ditemukan di lahan Eropa dan lahan hutan amerika utara. Ada kemungkinan
terdapat banyak asam organik di dalam
tanah hutan diakibatkan pengasaman dan pelarutan asam dari tanah hutan tersebut
(Onweremadu and Uhuegbu, 2007).
Dalam program pembukaan dan penyiapan tanah, lebih-lebih kalau tujuannya
untuk keperluan penyediaan tanah pertanian, maka kondisi tanah mengambil
peranan yang besar dan menentukan. Hal ini bukan saja dikaitkan kepada
faktor-faktor kesuburan tanah yang akan menentukan sekali bagi kelangsungan dan
kelestarian usaha tani yang bakal dikembangkan pada tahun-tahun berikutnya,
tetapi juga akan berkaitan dengan cara atau metode serta peralatan mekanis yang
akan dipilih untuk dipakai dalam proses pembukaan dan penyiapan tanah.
Disamping itu akan menentukan pula corak pola usaha tani (cropping pattern) yang
akan dikembangkan setempat dibelakang hari. Yang dimaksudkan dengan faktor
kondisi tanah disini akan mencakup hal-hal seperti : 1. ketebalan lapisan tanah
atas (top soil), 2. solum tanah, 3. jenis tanah, 4. kandungan air-lengas pada
tanah (soil moisture content), 5. ada tidaknya batu-batuan (Sosroatmodjo, 2004).
II.
METODOLOGI
Praktikum Lapangan Dasar-dasar
Ilmu Tanah ini dilakukan pada hari Sabtu tanggal 26 April 2014 di lima stopsite yang telah
ditentukan. Stopsite I bertempat di
Banguntapan, stopsite II di Karang Sari Bukit Pathuk, stopsite III di Hutan Bunder, stopsite IV di Playen, dan stopsite V di daerah
Mulo. Alat dan bahan yang
diperlukan dalam praktikum lapangan ini yaitu sekop, klinometer, GPS, palu
pedologi, pisau, alat-alat tulis, pH meter, Soil Munshell Colour Charts, kertas
saring, test kits, cangkul, dan kamera, .
Langkah pertama dalam pengamatan morfologi profil adalah dipilih tanah yang tidak tergenang air,
datar dan mewakili tempat sekitarnya. Lalu pada tanah tersebut digali dan
dibuat profil tanahnya dengan ukuran panjang ± 1-1,5 m dan lebar ± 1m. Dari galian tanah tersebut dilakukan pengamatan
karakteristrik profil tanah yang dimulai dari penentuan batas horison tanah. Penentuannya dilihat dari warna tanah yang berbeda antar
horison yang ada, apabila warna tanah hampir sama maka penentuan horison
dilakukan dengan mengamati konsistensi tanah dengan cara memukul-mukulkan palu
ke profil tanah yang telah dibuat. Setelah horison tanah telah ditentukan
kemudian dilakukan pengamatan dari tiap jenis horison yang ada. Pengamatan yang
dilakukan dimulai dari penentuan jeluk tanah dari tiap horison dengan meteran,
lalu dilakukan pengamatan warna tanah dengan menggunakan Soil Munshell Colour
Charts, lalu dilakukan pengamatan tekstur tanah secara kualitatif dengan
memilin-milin tanah hingga membentuk pita, lalu dilakukan pengamatan struktur
tanah dengan cara kualitatif juga yaitu dengan melempar-lempar tanah dari tiap
horison di atas permukaan tangan kita, kemudian ditentukan konsistensi tanah di
tiap horisonnya, dan diamati jumlah dan ukuran perakarannya. Bahan-bahan kasar
yang terdapat di tiap horison juga harus diamati. Setelah dilakukan pengamatan-pengamatan sifat fisik tanah dilakukan pengamatan sifat-sifat kimia
tanah dengan uji khemikalia H2O2 10% untuk uji kandungan
bahan organik yang terkandung dalam tanah, uji khemikalia H2O2
3% untuk uji kandungan Mn dalam tanah, uji HCl 2N untuk uji kandungan kapur
dalam tanah, dan uji pH H2O (pH aktual). Morfologi tapak dari tanah dilakukan dengan
mengamati lingkungan sekitar dari daerah tempat profil tanah dibuat. Lereng dan arah lereng ditentukan dengan
menggunakan klinometer, letak lintang dilakukan dengan GPS dan jeluk air
dilakukan dengan melihat kedalaman sumur di daerah tersebut. Dari data-data
hasil pengamatan tersebut lalu ditentukan klasifikasi tanah menurut PPT, USDA
dan FAO.
III.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.
Stop site 1
a.
Morfologi Tapak
|
Nama
pengamat
|
:
Kelompok 3/A4
|
Letak
Lintang
|
: 507o.48’.325”T
|
|
Lokasi
|
:
Banguntapan
|
|
110o.24’.838”
|
|
Fisiografi
|
:
Kaki Merapi
|
Kode
|
: II
|
|
Topografi
|
:
Datar
|
Landform
|
: Aluvial
|
|
Lereng
|
:
0-5%
|
Litologi
|
: Aluvium
|
|
Landuse
|
:
Kebun campuran
|
Arah
Lereng
|
: 850
NE
|
|
Vegetasi
|
: Jati,
pisang
|
Pertumbuhan
|
: subur
|
|
Pola Drainase
|
:
Dendritik
|
Jeluk
Air Tanah
|
: 5-8m
|
|
Erosi
|
:
Rendah, lembar
|
Tingkat
Erosi
|
: rendah
|
|
Cuaca
|
:
Cerah
|
Altitude
|
: 533 mdpl
|
|
|
|
Tanggal
|
: 26 April
2014
|
|
|
|
|
|
b.
Tabel
1 Karakteristik Profil
|
No.
|
Pengamatan
|
Lapisan I
|
Lapisan II
|
Lapisan III
|
|
1
|
Jeluk
(cm)
|
0-20 cm
|
20-66 cm
|
66-134 cm
|
|
2
|
Warna
Tanah
|
|
|
|
|
|
a.
Matrik
|
5 YR 3/2
|
5 YR 4/3
|
5 YR 4/3
|
|
|
b.
Karatan
|
-
|
-
|
-
|
|
|
c.
Campuran
|
-
|
-
|
-
|
|
3
|
Tekstur
|
Pasir Geluhan
|
Pasir Geluhan
|
Pasir Geluhan
|
|
4
|
Struktur
|
|
|
|
|
|
a.
Tipe
|
Gumpal Menyudut
|
Gumpal Menyudut
|
Gumpal Menyudut
|
|
|
b.
Kelas
|
Sedang
|
Sedang
|
Sedang
|
|
|
c.
Derajat
|
Sedang
|
Sedang
|
Sedang
|
|
5
|
Konsistensi
|
Lemah
|
Lemah
|
Lemah
|
|
6
|
Perakaran
|
|
|
|
|
|
a.
Ukuran
|
Meso dan Mikro
|
meso
|
Tidak ada
|
|
|
b.
Jumlah
|
Sedikit
|
sedang
|
Tidak ada
|
|
7
|
Bahan
Kasar
|
|
|
|
|
|
a.
Jenis
|
-
|
-
|
-
|
|
|
b.
Jumlah
|
-
|
-
|
-
|
|
|
c.
Ukuran
|
-
|
-
|
-
|
|
8
|
Uji
Khemikalia
|
|
|
|
|
|
a.
BO(H2O2) 10%
|
+++++
|
+++++
|
+++
|
|
|
b.
Mn(H2O2) 3%
|
+
|
+
|
+
|
|
|
c.
Kapur (HCl 2N)
|
-
|
-
|
-
|
|
9
|
pH
H2O
|
6
|
5
|
5
|
|
10
|
Catatan
khusus
|
Ciri tanah ada horizon almolik dan tanah berwarna hitam
(gelap)
|
||
c.
Klasifikasi Tanah
a. PPT
: Alluvial
b. FAO
: Kambisol
c. Soil Taxonomy : Inseptisol
d. Pembahasan
Stopsite pertama pada
praktikum lapangan tanggal 26 April 2014 berlokasi di Kaki Merapi daerah
Banguntapan bercuaca cerah. Topografi disini yaitu datar, dengan lereng 0-5%,
memiliki landuse kebun campuran dengan vegetasi dominan jati dan pisang.
Pertumbuhan pada stopsite ini termasuk subur. Kaki Merapi memiliki pola drainase
dendritik, erosi rendah dan lembar. Letak lintang pada stopsite ini yaitu
507°.48’.325°.T110° 24 menit 838s dan arah lereng north east 85°. Diketahui
landformnya Aluvial dengan litologi Aluvium. Jeluk air tanah 5-8m dengan
altitude 133 mdpl. Pada
daerah Kaki Merapi di Banguntapan, didapatkan hasil bahwa daerah ini memiliki
tiga lapisan tanah. Lapisan satu didapatkan hasil yaitu jeluk berkisar antara
0-20 cm. Warna tanah yaitu matrik YR 3/2. Memiliki tekstur pasir geluhan, tipe
struktur gumpal menyudut, kelas tekstur dan derajat tekstur sedang. Konsistensi
lapisan pertama lemah. Perakaran pada lapisan pertama yaitu ukuran perakaran
meso dan mikro dengan jumlah yang sedikit. Ketika dilakukan uji khemakalia,
lapisan pertama mendapatkan hasil yaitu memiliki kandungan bahan organik yang
banyak, kandungan unsur Mn sedikit, dan tidak terdapat adanya kandungan kapur.
PH yang didapatkan yaitu 6.
Lapisan kedua pada
tanah di Kaki Merapi ini tidak jauh berbeda dengan lapisan pertama. Jeluk yang
didapatkan yaitu 20-66cm, warna tanah matrik 5 YR 4/3, berteksur pasir geluhan.
Tipe struktur gumpal menyudut, dan kelas serta derajat strukturnya sedang.
Konsistensi yang didapatkan yaitu lemah, Terdapat ukuran perakaran meso dengan
jumlah sedang. Lapisan kedua memiliki kandungan bahan organik yang banyak,
kandungan unsur Mn sedikit, dan tidak ada kandungan kapur. Memiliki nilai pH 5.
Lapisan terakhir yaitu
lapisan ketiga didapatkan hasil jeluk 66-134cm dengan warna tanah matrik 5 YR
4/3, bertekstur pasir geluhan. Tipe strukturnya gumpal menyudut dengan kelas
dan derajat struktur sedang. Konsistensi lapisan ketiga pun lemah. Pada lapisan
ketiga tidak ditemukan adanya perakaran. Ketika diuji dengan khemikalia
diketahui kandungan bahan organik pada lapisan ketiga sedang, unsur Mn sedikit,
dan tidak ada kandungan kapur. PH lapisan ketiga yaitu 5.
Dari hasil pengamatan
diketahui tanah tersebut memiliki tiga lapisan. Hasil pada ketiga lapisan tidak
jauh berbeda. Tanah ini tergolong subur karena memiliki kandungan bahan organik
yang relatif banyak dan unsur Mn sedang pada setiap lapisannya sehingga baik
untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Tanah ini memiliki tekstur pasir
geluhan sehingga kandungan pada tanah ini terdiri dari pasir dan lempung.
|
Gambar 1.3
|
|
Gambar 1.2
|
|
Gambar 1.1
|
2.
Stop site 2
a.
Morfologi Tapak
Nama Pengamat :
Kelompok 3
Lokasi : Karang Sari, Patuk
Fisiografi : Baturagung
Topografi : Bergumuh
Lereng : 18%
Landuse : Tegalan
Vegetasi : Ubi Kayu
Pola Drainase : Dendritik
Erosi : Rendah
Cuaca : Mendung
Letak Lintang : LS :
07o 51, 144’
E :
110o 29, 353’
Kode : II
Landform : Perbukitan
Litologi : -
Arah Lereng : 255 Ne
Pertumbuhan : Baik
Jeluk Air Tanah : -
Tingkat Erosi : Rendah
Altitude : 287 mdpl
Tanggal :
26 April 2014
b.
Tabel
2 Morfologi Profil
|
No
|
Pengamatan
|
Lapisan I
|
Lapisan II
|
Lapisan III
|
Lapisan IV
|
|
1
|
Jeluk (cm)
|
0-30
|
30-77
|
77-123
|
123-163
|
|
2
|
Warna Tanah
|
|
|
|
|
|
|
a. Matrik
|
7,5 YR 5/4
|
10 YR 5/4
|
10 YR 5/4
|
10 YR 5/4
|
|
|
b. Karatan
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
|
c. Campuran
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
3
|
Tekstur
|
geluh lempung
|
lempung pasir
|
lempung
|
lempung debuan
|
|
4
|
Struktur
|
|
|
|
|
|
|
a. Tipe
|
Gumpal Membulat
|
Gumpal Membulat
|
Gumpal Membulat
|
Gumpal Membulat
|
|
|
b. Kelas
|
sedang
|
sedang
|
sedang
|
kasar
|
|
|
c. Derajat
|
|
|
|
|
|
5
|
Konsistensi
|
sangat liat
|
sangat liat
|
sangat liat
|
sangat liat
|
|
6
|
Perakaran
|
|
|
|
|
|
|
a. Ukuran
|
Meso
|
Meso
|
Meso
|
-
|
|
|
b. Jumlah
|
sedikit
|
sedikit
|
sedikit
|
-
|
|
7
|
Bahan Kasar
|
|
|
|
|
|
|
a. Jenis
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
|
b. Jumlah
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
|
c. Ukuran
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
8
|
Uji Khemikalia
|
|
|
|
|
|
|
a. BO (H2O2 10%)
|
++
|
++++
|
+++
|
+++++
|
|
|
b. Mn (H2O2 3%)
|
++
|
+++
|
++++
|
+++++
|
|
|
c. Kapur (HCl 2N)
|
|
|
|
|
|
9
|
pH H2O
|
5
|
5
|
5
|
5,5
|
|
10
|
Catatan Khusus
|
Kongres Mn
|
|||
c.
Karakteristik Tanah
a.
PPT :
Mediteran
b.
FAO :
Mediteran
c.
Soil Taxonomy :
Alfisol
d. Pembahasan
Pada
stop site ke dua ini kami melakukan pengamatan tanah di daerah Karang Sari,
Patuk dengan fisiografi Baturagung. Hal pertama yang kami lakukan adalah
membuka profil tanah yang ada di daerah tersebut dengan syarat profil yang
sudah ditetapkan yaitu baru, tidak terkena sinar matahari langsung, dan
bersifat representative atau mewakili sifat tanah yang ada di sekitarnya.
Pembukaan profil tanah dimulai dengan membuat potongan melintang tanah dengan
kedalaman sekitar satu sampai dua meter. Pembukaan tanah menggunakan alat yang
disebut palu pedologi, setelah selesai melakukan pemotongan melintang tanah
tersebut lalu akar-akar tanaman yang ada di bersihkan, hal ini bertujuan agar
memudahkan praktikan dalam menentukan lapisan-lapisan tanah atau
horizon-horizon tanah. Setelah akar dibersihkan selanjutnya adalah menentukan
lapisan tanah atau menentukan tanah tersebut dibagi menjadi berapa lapisan.
Cara menentukan lapisan tanah ada tiga yaitu yang pertama melihat warna tanah,
tanah yang warnanya sudah berbeda menandakan bahwa lapisan tanah tersebut juga
berbeda, namun kalau tidak bisa dilakukan dengan menentukan perbedaan warna
maka cara kedua adalah menentukan kerapatan tanah dengan cara menepuk atau
memukul tanah dari atas ke bawah secara berurutan dan teratur jaraknya lalu
didengarkan bunyinya. Jika terdapat perbedaan bunyi menandakan bahwa terdapat
perbedaan lapisan tanah. Lalu cara yang ketiga adalah dengan penentuan tekstur,
struktur, dan konsistensi tanah. Namun pada pembukaan profil tanah di stopsite
kedua ini kami melakukan penentuan lapisan tanah dengan menguji kerapatan tanah
yaitu dengan cara memukul tanah vertical dari atas ke bawah dengan teratur dan
jarak pukulan yang sama lalu didengarkan perbedaan bunyinya. Setelah didapat
perbedaan bunyinya lalu di beri tanda menggunakan pisau agar dapat membedakan
lapisan-lapisan tadi dengan mudah.
Setelah
menemukan lapisan-lapisan tanah yang didapat dari uji kerapatan tanah tadi,
selanjutnya adalah menentukan panjang dari tiap lapisan yang telah didapat dan
telah ditandai menggunakan pisau tadi. Cara menentukan panjang lapisannya
adalah menarik meteran dari permukaan tanah sampai ke dasar permbukaan profil
yang dibuka. Setelah itu dilihat panjang tiap lapisan yang dihitung dari
permukaan tanah. Dan panjang tiap lapisan yang kami dapatkan pada stopsite
kedua ini adalah sebagai berikut : Lapisan 1 : 0-30cm, Lapisan 2 : 30-77cm,
Lapisan 3 : 77-123cm, dan Lapisan 4 : 123-163cm.
Setelah
didapat profil tanah yang telah dibuka dan ditentukan lapisan-lapisannya, hal
berikutnya yang dilakukan adalah penentuan warna tanah, tekstur tanah, struktur
tanah, dan konsistensi tanah. Cara menentukan warna tanah adalah dengan
menggunakan Soil Munsell Color Charts. Dan kami mendapatkan data warna matrik
yaitu : lapisan 1 : 7,5YR 5/4, lapisan 2 : 10YR 5/4, lapisan 3 : 10YR 5/4, dan
lapisan 4 : 10YR 5/4. Setelah menentukan warna dilanjutkan dengan menentukan
tekstur tanah. Tekstur tanah ditentukan dengan cara dibasahi terlebih dahulu
lalu dipilin. Dari pilinan yang dilakukan akan diketahui dan dapat dirasakan
fraksi apa yag dominan ataupun proporsinya. Pengamatan tekstur ini bersifat
kualitatif dengan menggunakan indra peraba. Dari stopsite kedua ini kami
mendapatkan data bahwa tekstur yang ada di stopsite ini adalah sebagai berikut:
lapisan 1 : geluh lempungan, lapisan 2 : lempung pasiran, lapisan 3 : lempung,
lapisan 4 : lempung debuan. Setelah penentuan tekstur, dilakukan penentuan
struktur dengan melakukan tiga pengamatan yaitu tipe, kelas, dan derajat. Cara
menentukan struktur adalah dengan cara meletakkan tanah yang berbentuk bongkah
di kedua telapak tangan kemudian di goyangkan atau digojok ke atas dan kebawah.
Dari stopsite kedua ini struktur yang kami dapat untuk tipe yaitu lapisan 1 :
gumpal membulat, lapisan 2 : gumpal membulat, lapisan 3 : gumpal membulat,
lapisan 4 : gumpal membulat. Dan untuk kelasnya dari lapisan 1 sampai 3 sama
yaitu sedang, dan lapisan ke 4 adalah kasar.
Setelah
menentukan struktur tanah, langkah selanjutnya adalah menentukan konsistensi
tanah, konsistensi tanah dapat ditentukan dengan cara memijat tanah dengan ibu
jari dan telunjuk dalam tiga keadaan yaitu basah, lembab, dan kering. Keadaan
basah menunjukan keliatan atau kelekatan tanah, kondisi lembab menunjukan
kemudahan untuk dibentuk dan kondisi kering digolongkan menjadi lepas-lepas
atau tidak. Dari hasil yang kami dapatkan di stopsite kedua ini konsistensi
tanah dari lapisan 1 sampai lapisan 4 adalah sama yaitu sangat liat.
Morfologi
tapak pada stopsite 2 yang berlokasi di Karang Sari, Patuk pada tanggal 26
April 2014. Dengan letak lintang LS: 07o51,144’, E: 110o29,353, dan ketinggian
lokasinya adalah 287meter dari permukaan laut. Cara menentukan letak lintang
dan ketinggian adalah dengan menggunakan GPS (Global Positioning System).
Kelerengan atau kemiringan pada stopsite kedua ini adalah 18%. Cara untuk
menghitung kelerengan adalah menggunakan Klinometer. Cara mengukurnya
menggunakan kedua mata, mata kanan untuk melihat angka pada klinometer dan mata
kiri untuk menembak atau melihat objek yang memiliki tinggi yang sama dengan
tinggi badan kita. Landform pada stopsite kedua ini adalah perbukitan dan
landusenya adalah tegalan. Vegetasi yang terdapat di daerah ini adalah ubi
kayu. Pola drainase pada stopsite ini adalah dendritic.
Pada
uji khemikalia ini dilakukan empat pengujian tanah yaitu pengujian kadar bahan
organic (BO) dengan menggunakan H2O2 10%, kadar senyawa
Mn dengan menggunakan H2O2 3%, kadar kapur dalam tanah
dengan menggunakan larutan HCl, dan penentuan pH tanah menggunakan aquadest.
Penentuan keempat hal diatas dilakukan pada empat lapisan tanah. Hasil yang
kami dapatkan untuk kadar BO, lapisan tanah yang memiliki kadar BO tertinggi
adalah lapisan keempat. Seharusnya lapisan yang paling bawah mengandung BO
paling sedikit, namun pada hasil yang kami dapatkan ternyata BO terbanyak ada
di lapisan terbawah, hal ini dikarenakan pada profil yang kami buka tinggi
profilnya lebih tinggi dari tanah disekitarnya dan pada lapisan terbawah atau
lapisan keempat yang kami buka memiliki tinggi sama dengan permukaan tanah
disekitarnya sehingga banyak ditumbuhi oleh tumbuhan dan menyebabkan kadar BO
nya menjadi tinggi. Lalu pH yang kami dapatkan berkisar 5 kecuali lapisan
keempat yaitu sebesar 5,5 tanah ini tergolong tanah yang agak masam.
|
Gambar 2.3
|
|
Gambar 2.1
|
|
Gambar 2.2
|
3.
Stop Site 3
a. Morfologi tapak
|
Nama
pengamat
|
:
Kelompok 3/A4
|
Letak
Lintang
|
: 07o.54.141’
LS
|
|
Lokasi
|
:
Hutan Bunder
|
|
110o.33.153’ LU
|
|
Fisiografi
|
:
Cekungan Merapi
|
Kode
|
: III
|
|
Topografi
|
:
Bergumuk
|
Landform
|
: lipatan dan
angkatan
|
|
Lereng
|
:
18%
|
Litologi
|
: Sedimen
marin
|
|
Landuse
|
:
Hutan sekunder
|
Arah
Lereng
|
: 12 NE
|
|
Vegetasi
|
:
Akasia dan Kayu putih
|
Pertumbuhan
|
: baik, subur
|
|
Pola Drainase
|
:
Dendritik
|
Jeluk
Air Tanah
|
: 7-10m
|
|
Erosi
|
:
Lembar
|
Tingkat
Erosi
|
: rendah
|
|
Cuaca
|
:
Mendung
|
Altitude
|
: 215 mdpl
|
|
|
|
Tanggal
|
: 26 April
2014
|
b. Tabel 3 Karakteristik Profil
|
No.
|
Pengamatan
|
Lapisan I
|
Lapisan II
|
Lapisan III
|
|
1
|
Jeluk
(cm)
|
0-36 cm
|
36-58 cm
|
58-70 cm
|
|
2
|
Warna
Tanah
|
|
|
|
|
|
d.
Matrik
|
7,5 YR 3/2
|
7,5 YR 3/4
|
7,5 YR 3/4
|
|
|
e.
Karatan
|
-
|
-
|
-
|
|
|
f.
Campuran
|
-
|
-
|
-
|
|
3
|
Tekstur
|
Lempung
|
Lempung
|
Lempung
|
|
4
|
Struktur
|
|
|
|
|
|
d.
Tipe
|
Granuler
|
Gumpal Menyudut
|
Gumpal Menyudut
|
|
|
e.
Kelas
|
-
|
-
|
-
|
|
|
f.
Derajat
|
-
|
-
|
-
|
|
5
|
Konsistensi
|
Lembab
|
Lembab
|
Lembab
|
|
6
|
Perakaran
|
|
|
|
|
|
c.
Ukuran
|
Makro
|
meso
|
meso
|
|
|
d.
Jumlah
|
Banyak
|
sedang
|
sedang
|
|
7
|
Bahan
Kasar
|
|
|
|
|
|
d.
Jenis
|
-
|
-
|
-
|
|
|
e.
Jumlah
|
-
|
-
|
-
|
|
|
f.
Ukuran
|
-
|
-
|
-
|
|
8
|
Uji
Khemikalia
|
|
|
|
|
|
d.
BO(H2O2) 10%
|
+++++
|
+++++
|
+++++
|
|
|
e.
Mn(H2O2) 3%
|
+
|
+
|
+
|
|
|
f.
Kapur (HCl 2N)
|
-
|
-
|
-
|
|
9
|
pH
H2O
|
6
|
5,5
|
5,5
|
|
10
|
Catatan
khusus
|
Ciri tanah ada horizon almolik dan tanah berwarna hitam
(gelap)
|
||
c. Klasifikasi Tanah
·
PPT :
Rendzina
·
FAO :
Rendzina
Soil Taxonomy :
Mollisol
d. Pembahasan
Praktikum Lapangan Dasar-dasar
Ilmu Tanah di stopsite 4 ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 26 April 2014,
adapun stopsite 4 ini berlokasi di hutan bunder yang secara fisiografi
merupakan cekungan Merapi. Hutan bunder sendiri secara geografis terletak pada
07o.54.141’ LS dan 110o.33.153’ LU dengan letak
ketinggian 215 mdpl. Keadaan cuaca pada
saat praktikan sedang melakukan pengamatan adalah mendung dan berawan. Topografi
daerah hutan bunder adalah bergumuk dan kemiringan lerengnya 18% dengan arah
lereng 12NE. Lahan hutan bunder merupakan hutan sekunder dengan vegetasi akasia
dan kayu putih yang tumbuh dengan baik dan subur. Pola drainasenya dendritik
dan erosinya lembar. Landform hutan bunder terbentuk atas lipatan dan angkatan.
Litologinya berjenis sedimen marin, tingkat erosinya pun rendah. Jeluk air
tanahnya hanya sekitar 7-10m.
Pada
profil tanah yang dibuat, hanya ada 3 lapisan tanah; lapisan I dengan kedalaman
0-36cm, lapisan II 36-58 cm dan lapisan III sedalam 58-70cm. Untuk warnanya,
lapisan pertama adalah 7,5 YR 3/2 dan untuk kedua lapisan dibawahnya memiliki
warna yang sama yaitu 7,5 YR ¾. Tekstur dari profil tanah yang dibuat ini untuk ketiga lapisan sama, yaitu
lempung. Sedangkan tipe strukturnya adalah granuler pada lapisan I dan gumpal
menyudut pada lapisan II dan III. Untuk konsistensi tanahnya, diketiga lapisan
profil tanah tadi adalah sama yaitu, lembab. Perakaran yang ada pada profil
tanah yang dibuat rata-rata berukuran meso, kecuali pada lapisan pertama adalah
berukuran makro. Jumlah perakaran yang bertipe makro pada lapisan pertama cukup
banyak sedangkan, jumlah perakaran meso
pada lapisan II dan III tidak terlalu banyak (sedang).
Berdasarkan
uji khemikalia, ketiga lapisan tanah menghasilkan banyak buih saat diberikan
BO(H2O2) 10% sedangkan saat ditetesi khemikalia Mn(H2O2)
3% ketiganya hanya menghasilkan sedikit buih. Setelah diuji dengan HCl 2N,
diketahui ketiga lapisan tanah tidak mengandung kapur. Hal ini ditunjukkan
dengan sedikitnya buih saat ditetesi khemikalia HCl 2N. Untuk nilai keasaman
(pH) tanah, pada lapisan I pH-nya adalah 6 lalu untyk lapisan kedua dan ketiga
pH-nya sama-sama 5,5. Tanah ini berciri khusus yaitu memiliki horizon almolik
dan berwarna hitam.
Berdasarakan
hasil pengujian dan pengamatan, secara FAO dan PPT tanah di stopsite 4 ini
dapat diklasifikasikan sebagai tanah rendzina. Sedangkan jika menggunakan dasar
Soil Taxonomy, tanah dapat diklasifikasikan sebagai tanah mollisol.
|
Gambar 3.3
|
|
Gambar 3.2
|
|
Gambar 3.1
|
4.
Stop Site 4
a. Morfologi tapak
|
Nama
pengamat
|
:
Kelompok 3/A4
|
Letak
Lintang
|
: S : 70 56’
810”
|
|
Lokasi
|
:
Playen
|
|
E : 1100 34’ 373”
|
|
Fisiografi
|
:
Cekungan Wonosari
|
Kode
|
: IV
|
|
Topografi
|
:
Datar
|
Landform
|
: Karst
|
|
Lereng
|
:
1%
|
Litologi
|
: Koral
|
|
Landuse
|
:
Kebun Campuran
|
Arah
Lereng
|
: NE 1750
|
|
Vegetasi
|
:
Jati, Rembesi, Bambu
|
Pertumbuhan
|
: Baik
|
|
Pola Drainase
|
:
Dendritik
|
Jeluk
Air Tanah
|
: 10-15 m
|
|
Erosi
|
:
Lembar
|
Tingkat
Erosi
|
: Rendah
|
|
Cuaca
|
:
Hujan
|
Altitude
|
: 218 mdpl
|
|
|
|
Tanggal
|
: 26 April
2014
|
b. Tabel 4 Karakteristik Profil
|
No.
|
Pengamatan
|
Lapisan I
|
|
1
|
Jeluk
(cm)
|
0-67 cm
|
|
2
|
Warna
Tanah
|
|
|
|
g.
Matrik
|
10 YR 3/4
|
|
|
h.
Karatan
|
-
|
|
|
i.
Campuran
|
-
|
|
3
|
Tekstur
|
Lempung
|
|
4
|
Struktur
|
|
|
|
g.
Tipe
|
Gumpal Menyudut
|
|
|
h.
Kelas
|
Halus
|
|
|
i.
Derajat
|
Halus
|
|
5
|
Konsistensi
|
Liat
|
|
6
|
Perakaran
|
|
|
|
e.
Ukuran
|
Mikro, Meso, Makro
|
|
|
f.
Jumlah
|
Banyak
|
|
7
|
Bahan
Kasar
|
|
|
|
g.
Jenis
|
-
|
|
|
h.
Jumlah
|
-
|
|
|
i.
Ukuran
|
-
|
|
8
|
Uji
Khemikalia
|
|
|
|
g.
BO(H2O2) 10%
|
+++++
|
|
|
h.
Mn(H2O2) 3%
|
++++
|
|
|
i.
Kapur (HCl 2N)
|
-
|
|
9
|
pH
H2O
|
6
|
|
10
|
Catatan
khusus
|
1.Sifat mengembang-mengerut (Pedoturbasi)
2.Ada cracking yang saat basah menutup, saat kering
membuka
|
c. Klasifikasi Tanah
·
PPT :
Grumusol
·
FAO :
Vertisol
·
Soil Taxonomy :
Vertisol
d. Pembahasan
Pengamatan
stop site 4 adalah daerah Playen yang berada pada fisiografis Cekungan Wonosari
dan dilaksanakan pada hari Sabtu, 26 April 2014. Playen berada pada letak
lintang S : 70 56’ 810” dan E : 1100 34’ 373” dengan
ketinggian 218 mdpl. Pengamatan di Playen dilakukan ketika turun hujan dengan
intensitas yang tidak terlalu deras. Topografi lahan di Playen adalah datar
dengan kemiringan lereng hanya 1% dan arah lereng NE 1750.
Landuse
dari lahan di Playen adalah kebun campuran untuk berbagai komoditas. Vegetasi
yang mayoritas dijumpai adalah pohon jati, rembesi, dan bambu. Pertumbuhan
tanaman di lokasi playen bersifat baik. Kedalaman jeluk air tanah adalah antara
10 m sampai 15 m. Pola drainase dari lahan yang kami teliti adalah dendritik
dengan tingkat erosi yang rendah. Tipe erosinya lembar.
Morfologi
profil yang kami lakukan hanya menemukan 1 lapisan dengan jeluk sedalam 0-67
cm. Warna tanah pada lapisan 1 ini adalah 10 YR ¾, menunjukkan tanah vertisol
yang memang berwarna gelap hampir hitam pekat. Tidak dijumpai karatan dan
campuran dari warna tanah pada lapisan yang kami uji. Dengan pengujian secara
kualitatif, kami menyimpulkan teksturnya adalah lempung. Sedangkan struktur
tanahnya betipe gumpal menyudut dengan kelas dan derajat halus. Pengujian konsistensi
tanah secara kualitatif menunjukkan sifat liat. Perakaran tanaman di daerah
playen cukup kompleks, kami menemukan ukuran perakaran baik mikro, meso, maupun
makro dalam jumlah yang banyak. Tidak ada bahan kasar yang kami temukan di
tanah tersebut.
Uji
khemikalia menunjukkan kandungan bahan organik pada tanah vertisol Playen
sangat tinggi, ditunjukkan dengan buih yang banyak saat pengujian dengan
larutan H2O2 10%. Kandungan unsur Mn pun cukup tinggi, namun tidak setinggi
kandungan bahan organiknya, diuji dengan larutan H2O2 3%. Pada tanah vertisol
ini kami tidak menemukan kandungan kapur dalam pengujian dengan larutan HCl 2N.
Sementara pH H2O atau pH aktual yang terukur adalah6.
Catatan
khusus untuk pengamatan tanah di lahan Playen adalah adanya proses pedoturbasi,
yaitu sifat mengembang dan mengkerut tanah. adanya rentang kembang-kerut tanah
yang tinggi ini ditunjukkan dengan adanya retakkan (cracking) pada saat tanah
bersifat kering, dan akan menutup pada saat tanah bersifat basah. Sifat ini
terjadi terus menerus seiring waktu dan merupakan karakteristik umum dari tanah
vertisol.
Tanah
yang kami teliti di lahan Playen dalam klasifikasi PPT termasuk tanah Grumusol.
Klasifikasi FAO tanah tersebut termasuk tanah Vertisol. Pada klasifikasi Soil
Taxonomy termasuk tanah Vertisol.
|
Gambar 4.3
|
|
Gambar 4.2
|
|
Gambar 4.1
|
5.
Stop site 5
a.
Morfologi Tapak (Site)
Nama pengamat : Gol. A4 Klp. 3 Letak lintang : S:8o.2.2,18’
Lokasi : Mulo : E:110o
35,971’
Fisiografi : Peg. Seribu Kode : 5
Topografi/Relief : Bergelombang Landform : Kartst (h)
Lereng : 10 % Litologi/Bhn.Indk : Sedimen
koral
Land Use : Hutan Arah Lereng : NE
95o
Vegetasi : Akasia,dan Pertumbuhan : baik
kayu
putih Jeluk air tanah : -
Pola Drainase : Dendritik Tingkat Erosi : Rendah
Erosi : Alur Altitute : 223 m dpl
Cuaca : Cerah Tanggal : 26 April 2014
b.
Tabel 5 Karakteristik Profil
|
No.
|
Pengamatan
|
Lapisan l
|
Lapisan ll
|
Lapisan lll
|
Lapisan lV
|
|
1.
|
Jeluk (cm)
|
0 – 59
|
59 - 85
|
85 - 107
|
107 - 120
|
|
2.
|
Warna tanah
|
|
|
|
|
|
|
a. matrik
|
5 R 3/4
|
5 R 3/4
|
5 R 3/4
|
5 R 3/4
|
|
|
b. kerapatan
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
|
c. Campuran
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
3.
|
Tekstur
|
Lempung pasiran
|
Lempung pasiran
|
lempung
|
Lempung debuan
|
|
4.
|
Struktur
|
|
|
|
|
|
|
a. Tipe
|
Gumpal membulat
|
Granular
|
Remah-remah
|
Gumpal menyudut
|
|
|
b. Kelas
|
Kasar
|
halus
|
halus
|
halus
|
|
|
c. Derajad
|
Sedang
|
sedang
|
sedang
|
sedang
|
|
5.
|
Konsistensi
|
Lemah
|
lemah
|
lemah
|
lemah
|
|
6.
|
Perakaran
|
|
|
|
|
|
|
a. Ukuran
|
Meso
|
mikro
|
mikro
|
mikro
|
|
|
b. Jumlah
|
Banyak
|
banyak
|
Sedikit
|
sedikit
|
|
7.
|
Bahan kasar
|
|
|
|
|
|
|
a. Jenis
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
|
b. Jumlah
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
|
c. Ukuran
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
8.
|
Uji Chemicalia
|
|
|
|
|
|
|
a. BO (H2O2 10 %)
|
+ +
|
+ + + + +
|
+ + +
|
+ + + +
|
|
|
b. Mn (H2O2 3 %)
|
+ + + +
|
+ +
|
+ + + + +
|
+ + +
|
|
|
c. Kapur (HCl 2 N)
|
-
|
+ +
|
-
|
-
|
|
9.
|
pH H2O
|
5
|
5
|
5
|
5
|
|
10.
|
Catatan khusus
|
Horizon B-argilik
|
|
|
|
c.
Klasifikasi Tanah
- PPT : Mediteran
- FAO : Mediteran
3.
Soil Taxonomy : Alvisol
d. Pembahasan
Tanah Mediteran adalah salah satu jenis tanah yang dapat
kita temui di beberapa wilayah Pegunungan Seribu. Pegunungan kaki seribu ini
terbentang dari daerah Gunung Kidul sampai dengan daerah Pacitan sehingga
rentang jarak ini akan dapat kita jumpai lokasi-lokasi yang bertanah Mediteran.
Lokasi yang diambil adalah di dusun Mulo dimana lokasi
inilah salah satu contoh tempat yang memiliki tanah jenis Mediteran. Vegetasi
yang tumbuh di daerah ini adalah jenis tanaman tahunan seperti akasia dan kayu
putih. Namun kebanyakan wilayah ini hanya digunakan sebagai hutan dan hanya
sedikit saja yang digunakan sebagai lahan pertanian mengingat pengairan yang
hanya mengandalkan air hujan karena tidak adanya sungai.
Di tanah ini terdapat lapisan-lapisan yang dijumpai
aktivitas-aktivitas pencucian karbon. Biasanya di daerah gua-gua bawah tanah
yang terdapat stalaktit maupun stalakmitnya. Dilihat dari sisi topografi,
daerah ini adalah daerah berbukit yang cukup kering. Pola drainasenya adalah
pola karstik karena tidak ditemukannya sungai-sungai. Tingkat atau proses erosi
yang terjadi di daerah ini adalah erosi alur dimana terjadi karena
aliran-aliran permukaan saja. Jeluk air tanah adalah 223 m dari permukaan laut.
Selain itu wilayah dusun Mulo ini memiliki arah lereng ke
sebelah Selatan sebesar 10 %. Para penduduknya biasa mengolah lahan ini untuk
pertanian ketela pohon dengan cara melubangi dengan linggis. Soil taxonomy dari
tanah Mediteran adalah Vertikal Alfisol. Dari pengamatan, dulunya tanah ini
adalah dasaran laut yang mengalami pengangkatan. Hal ini terbukti adanya
kapur-kapur batuan. Disebut tanah Mediteran karena tanahnya mirip dengan tanah
yang terdapat di daerah tanah Mediterania Eropa. Mengenai tingkat kesuburannya,
untuk tanaman tahunan cukup karena cenderung kering.
Landform dari tanah ini adalah pengangkatan sehingga
memang dapat menjadi bukti adanya pengangkatan dasar laut di wilayah tersebut.
Namun dari sisi lain terdapat tingkat erosi dari sedang sampai dengan berat
dengan jenis erosi adalah erosi alur. Daerah ini ternyata juga memiliki posisi
atau letak ketinggian 223 m di atas permukaan laut.
Tanah yang teramati terdiri
atas 4 lapisan yaitu dari lapisan I, II, III, dan IV. Warna tanah di keempat
lapisan tersebut yaitu 5 R 3/4. Tekstur tanah pada lapisan
I dan II adalah lempung pasiran, strukturnya lapisan I gumpal membulat, kelas
kasar dal lapisan II granular dan kelas halus. Pada lapisan III dan IV
mempunyai tekstur lempung dan lempung debuan, struktur remah-remah, gumpal
menyudut dan kelas pada lapisan III dan IV halus.
Konsistensinya lemah pada keempat lapisan dengan
perakaran lapisan I meso kemudian lapisan II, III, dan IV perakarannya mikro.
Bahan kasar sedikit sekali hapir tidak ada. Selain itu ketika diadakan uji
khemikalia terhadap masing-masing lapisan ternyata bahan organiknya setiap
lapisan berbeda-beda pada lapisan I merupakan lapisan bahan organik paling
sedikit kemudian lapisan III, lapisan IV dan kandungan bahan organik terbanyak
terdapat pada lapisan II dan Kapur juga terdapat pada lapisan II dalam tanah.
Derajat pH H2O pada lapisan I, II, III, dan IV adalah 5, dengan
catatan khusus horizon B-argilik.
|
Gambar 5.2
|
|
Gambar 5.1
|
|
Gambar 5.3
|
IV.KESIMPULAN
Daerah Piyungan adalah tanah entisol
yang merupakan tanah muda dan belum terbentuk horison, daerah Patuk adalah
tanah ultisol dengan kenampakan yang paling terlihat yaitu tanahnya berwarna
merah dan konsistensinya lunak, daerah Hutan Bunder adalah tanah rendzina
dengan vegetasi yang nampak yaitu kayu putih dan mahoni, daerah Playen adalah
tanah vertisol dengan konsistensi yang agak kuat dan sifat kembang-kerut yang
besar, dan daerah Mulo adalah tanah alfisol
dengan konsistensi yang kuat dan kandungan BO yang tinggi.
Manfaat melakukan praktikum lapangan ini adalah membuat praktikan menjadi
tahu keadaan tanah secara langsung di alam. Selain itu praktikan menjadi lebih
mengetahui cara menentukan sifat fisik dan sifat kimianya. Sehingga praktikan
mampu mengklasifikasikan jenis tanah di suatu lahan.
DAFTAR PUSTAKA
Atmojo,
S.W. 2009. Peranan Bahan Organik terhadap Kesuburan Tanah dan Upaya Pengelolaanya. http://Suntoro.Staff.UNS.ac.id. Diakses senin 29 April 2014
Bailey, H.h., et
all. 1984. Kuliah Ilmu Tanah. Badan Kerjasama Ilmu Tana
: Palembang.
Courchesne, F.S., Sovoie, and A. Dufnesne. 1995. Effects of
air drying on the measurement of soil pH in acidic forest soils of Quebec,
Canada. Soil Science 16:56-57
Hardjowigeno, S. 2003. Ilmu Tanah.
Akademika Pressindo. Jakarta.
Hillel, D. 1980. Fundamental of Soil Physics. Acad Press. New
York.
Islami, T dan W.H.
Utomo. 1995. Hubungan Air, Tanah, dan Tanaman. IKIP Semarang Press: Semarang
Mc. Cullagh, P. and J.A. Nelder. 1989. Generalized Liner Models : Interacting process in soil science.
Lewis publication. Florida.
Nugroho,
S.G dan A. Niswati. 2000. Efikasi pembenah tanah alami dan sintetik terhadap
stabilitas agregat tanah. Jurnal Tanah Tropika.
Onweremadu, E. U
and Uhuegbu. 2007. Pedogenesis of calcium in degmaged tropical mangeland soil.
Journal of America Science 3 : 23-24.
Sosroatmodjo,
Pribadyo, Ir. 2004. Pembukaan
Lahan dan Pengelolaan Tanah. Leppenas, Jakarta.
Siradz,
S. A. 1990. Taksonomi Tanah Bagian 1 : Morfologi dan Kunci Determinasi Tanah.
Yogyakarta.
LAMPIRAN
Stop site 1
|
Gambar 1.3
|
|
Gambar 1.2
|
|
Gambar 1.1
|
Stopsite 2
|
Gambar 2.3
|
|
Gambar 2.1
|
|
Gambar 2.2
|
Stopsite 3
|
Gambar 3.3
|
|
Gambar 3.2
|
|
Gambar 3.1
|
Stopsite 4
|
Gambar 4.3
|
|
Gambar 4.2
|
|
Gambar 4.1
|
Stopsite 5
|
Gambar 5.2
|
|
Gambar 5.1
|
|
Gambar 5.3
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar