Kamis, 23 April 2015

LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM DASAR – DASAR EKOLOGI
ACARA III
DAMPAK HUJAN ASAM TERHADAP
PERKECAMBAHAN TANAMAN BUDIDAYA


Disusun oleh:
Nama                  :  Mahmud ismail
NIM                   :  13169
Gol/Kel              :  B2/IV
Asisten               :  1. Aditya Yasyafa M.
                              2. Diestalia A.
                              3. Yasinta B.

LABORATORIUM  EKOLOGI TANAMAN
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA

2014

ACARA III
DAMPAK HUJAN ASAM TERHADAP
PERKECAMBAHAN TANAMAN BUDIDAYA

I.     TUJUAN
1.    Mengetahui pengaruh lingkungan pH rendah terhadap perkecambahan tanaman budidaya.
2.    Mengetahui perbedaan tanggapan perkecambahan beberapa tanaman budidaya pada kondisi asam.

II. TINJAUAN PUSTAKA
            Perkecambahan adalah munculnya radikel menembus kulit benih dan berkembangnya struktur penting embrio dari dalam benih dan menunjukkan kemampuannya dalam menghasilkan kecambah normal dalam kondisi optimum. Penurunan pH dalam tanah akibat deposisi asam dapat menyebabkan terlepasnya aluminium dari dalam tanah dan menimbulkan keracunan. Akar yang halus akan mengalami nekrosis sehingga penyerapan air dan hara terhambat. Pencemaran udara juga dapat menyebabkan terhambatnya fotosintesis dan immobilisasi hasil fotosintesis dengan pembentukan metabolit sekunder yang memiliki potensial beracun.Sebagai akibatnya akar kekurangan energi, karena hasil fotosintesis tertahan di tajuk. Sebaliknya tajuk mengakumulasikan zat yang berpotensial beracun sehingga pertumbuhan akar dan mikoriza terhambat yang menyebabkan kecambah lemah dan mudah terserang penyakit dan hama (Pramono, 2007).
Salah satu faktor yang mempengaruhi perkecambahan adalah pH/derajat keasaman yang bisa ditransportasikan melalui air dan udara sebagai medianya. Secara nyata, fenomena alam seperti hujan asam mampu membawa pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Hujan pada dasarnya memiliki tingkat keasaman berkisar pH 5—6. Apabila hujan terkontaminasi dengan karbondioksida dan gas klorin yang bereaksi serta bercampur di atmosfer sehingga tingkat keasaman lebih rendah dari pH 5, disebut hujan asam (Cody, 1999).
Pencemaran udara adalah kehadiran satu atau lebih substansi fisik, kimia, atau biologi di atmosfer dalam jumlah yang dapat membahayakan kesehatan mahkluk hidup terjadinya kerusakan lingkungan, serta menurunkan kualitas lingkungan. Klasifikasi pencemar udara ada 2, yaitu pencemar primer dan pencemar sekunder. Pencemar primer adalah pencemar yang di timbulkan langsung dari sumber pencemaran udara, sedangkan pencemar sekunder adalah pencemar yang terbentuk dari reaksi pencemar-pencemar primer di atmosfer, contohnya sulfur dioksida, sulfur monoksida dan uap air akan menghasilkan asam sulfurik (Wang,L., X.Huang,Q.Zhou, 2011).
Pada dasarnya hujan asam disebabkan oleh dua polutan udara, oksida sulfur (SO2) dan nitrogen oksida (NOx) yang keduanya dihasilkan melalui pembakaran. Akan tetapi, sekitar 50% SO2 yang ada di atmosfer di seluruh dunia terjadi secara alami. Sumber alamiah tersebut antara lain dari letusan gunung berapi dan kebakaran hutan yang alami, sedangkan 50% lainnya berasal dari aktivitas manusia, terutama dari pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara yang digunakan pada kegiatan industri. Aktivitas lain yaitu pada proses peleburan logam di mana sulfur yang terkandung pada logam harus dihilangkan karena dapat mengotori logam sehingga terbentuk oksida sulfur yang masuk ke udara. Oksida sulfur yang dimaksud adalah SO2 dan SO3. Keduanya berbau sangat tajam, tidak mudah terbakar, sangat reaktif, dan mudah berikatan dengan uap air membentuk H2SO4 yang merupakan salah satu penyebab timbulnya hujan asam (Sant’Anna-Santosetal., 2006).
Zat pencemar lain yang dapat membentuk disposisi asam adalah nitrogen oksida (NOx) yang terdapat di atmosfer, 50% terbentuk secara alami dan sisanya terbentuk akibat kegiatan manusia terutama pembakaran bahan bakar fosil. Semakin tinggi suhu pembakaran, semakin banyak NOx yang terbentuk. Selain itu, NOx juga berasal dari aktivitas jasad renik yang menggunakan senyawa organik yang mengandung N. di dalam tanah, pupuk N yang tidak terserap juga mengalami proses kimia, fisik, dan biologi sehingga menghasilkan oksida N. Oleh karena itu, semakin banyak menggunakan pupuk N, semakin tinggi pula produksi oksida tersebut. Ketika gas tersebut di udara bebas, maka akan berikatan dengan uap air membentuk asam nitrat (Fardiaz, 2008).
Hujan asam akan berdampak pada lingkungan. Pada komponen abiotik, hujan asam dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan gangguan kesehatan karena tercemarnya air dan kontak langsung dengan kulit. Pada komponen abiotik, hujan asam dapat menyababkan pelapukan pada bahan dan merusak kadar pH dari sumber air (Lin, 2011).






















III. METODE PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Praktikum Dasar-Dasar Ekologi Acara 3 yang berjudul “Dampak Hujan Asam Terhadap Perkecambahan Tanaman Budidaya“ dilaksanakan di Laboratorium Ekologi Tanaman, Jurusan Budidaya Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada hari Selasa, 30 April 2014. Alat yang digunakan  yaitu petridish, sprayer plastik, gelas ukur, erlenmeyer, pipet dan pH tester. Kemudian bahan-bahan yang digunakan dalam  praktikum ini antara lain benih padi (Oryza sativa), kacang hijau (Vigna radiata), jagung (Zea mays), aquades dan kertas filter.
Pertama-tama dibuat larutan asam dengan menggunakan aquades sebanyak 500 mililiter yang ditetesi dengan H2SO4 sampai mencapai keasaman tertentu, dapat diketahui dengan menggunakan pH tester. Dicatat banyaknya larutan H2SO4 yang digunakan untuk mempermudah pembuatan larutan tersebut selanjutnya. Dengan cara tersebut dibuat larutan asam dengan keasaman yang berbeda-beda yaitu: pH 4; pH 5; pH 6; dan pH 7. Masing-masing larutan dengan kadar asam berbeda dimasukkan dalam sprayer plastic yang berlainan yang telah ditempeli label. Disiapkan 12 petridish, untuk empat perlakuan keasaman dari tiga jenis tanaman budidaya. Biji yang telah disiapkan diatur dalam cawan petridish yang telah dilapisi kertas filter. Masing-masing petridish untuk seluruh benih tanaman. Benih yang telah diatur dalam petridish disiram dengan larutan dari sprayer sesuai perlakuan dengan jumlah semprotan yang sama untuk tiap-tiap petridish. Pengamatan dilakuakn selama tujuh hari, meliputi: jumlah biji berkecambah, panjang batang, dan panjang akar. Pada hari ketujuh, diamati: kecepatan perkecambahan, gaya berkecambah, dan rasio akar atau batang. Terakhir, dibuat grafik perkecambahan dalam berbagai perlakuan. Rumus yang digunakan pada percobaan ini adalah:
   
                       


 



IV. HASIL PENGAMATAN
Tabel 1.1 Gaya Berkecambah Tanaman Padi (Oryza sativa)
pH
GB
pH 3
100%
pH 4
100%
pH 5
100%
pH 7
100%

1.2 Panjang Batang Tanaman Padi (Oryza sativa)
Perlakuan
Hari ke-
1
2
3
4
5
6
7
pH 3
0.00
0.50
3.40
8.00
11.43
14.26
15.31
pH 4
0.00
0.70
1.25
7.30
10.70
16.20
16.60
pH 5
0.00
0.80
2.70
8.21
12.16
15.76
16.60
pH 7
0.00
0.90
1.55
4.85
15.70
14.16
15.14

Tabel 1.3 Panjang Akar Tanaman Panjang Akar Padi (Oryza sativa)
Perlakuan
Hari ke-
1
2
3
4
5
6
7
pH 3
0.67
1.86
5.16
8.50
11.18
11.35
12.05
pH 4
0.00
1.78
4.00
7.67
9.58
9.86
12.00
pH 5
0.10
2.21
3.75
7.72
9.80
10.20
14.35
pH 7
0.00
2.28
4.00
6.48
8.13
9.44
10.32






Tabel 1.3 Ratio Akar/Batang
Ratio Akar/Batang Tanaman Padi (Oryza sativa)
Perlakuan
Hari ke-
1
2
3
4
5
6
7
pH 3
0.00
3.72
1.52
1.06
0.98
0.80
0.79
pH 4
0.00
2.54
3.20
1.05
0.90
0.61
0.72
pH 5
0.00
2.76
1.39
0.94
0.81
0.65
0.86
pH 7
0.00
2.53
2.58
1.34
0.52
0.67
0.68

Tabel 1.4 Indek Vigor Tanaman Padi (Oryza sativa)
Perlakuan
Hari ke-
1
2
3
4
5
6
7
pH 3
3.00
3.50
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
pH 4
0.00
5.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
pH 5
1.00
4.50
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
pH 7
0.00
3.50
1.00
0.00
0.00
0.00
0.00











V. PEMBAHASAN
            Hujan asam merupakan fenomena yang terjadi akibat banyaknya kandungan SOx dan NOx yang berada pada atmosfer bumi dan tercampur oleh awan yang mengandung air serta turun kebagian permukaan bumi dalam bentuk huajan yang bersifat asam.Hujan asam adalah hujan yang memiliki nilai pH kurang dari 5,6 sehingga bersifat asam.  Gas-gas yang penyebab hujan asam secara alami dapat berupa gunung meletus dan daur biologis tanah, sedangkan penyebab yang bersumber buatan adalah dari kegiatan manusia seperti asap kendaraan dan industri-industri tekstik.
            Proses terjadinya hujan asam melibatkan proses kimiawi. Kandungan gas-gas yang dilepaskan seperti Sulfur dioksida (SO2) dan Nitrogen oksida (NO) akan bercampur dengan udara sekitar dan bergerak bersama angin ke tempat lain. Air hujan membawa serta gas-gas SO2 dan NO masuk ke dalam tanah atau saluran air. Di udara gas NO dan SO2 dapat teroksidasi dan bereaksi dengan air membentuk asam nitrat dan asam sulfat atau amonium sulfat. Air hujan yang membawa asam sulfat atau amonium sulfat dan asam nitrat turun dan meresap ke dalam tanah atau aliran sungai, dan menyebabkan derajat keasaman air atau tanah menjadi tinggi.
            Hujan yang mengandung pH kurang dari 5,6 mempunyai dampak yang buruk bagi pertumbuhan tanaman. Pencemaran SO2 dan NO pada tanaman akan mengakibatkan kerusakan internal karena gas tersebut terbawa masuk ke dalam daun pada tumbuhan dan mengakibatkan kerusakan pada klorofil sehingga dapat mematikan daun, mengganggu proses fotosintesis yang berakibat distribusi dari hasil fotosintesi berkurang dan tanaman dapat rentan terserang hama dan terserang penyakit. Dampak lain dari hujan asam dapat memacu proses pencucian hara dan tajuk tanaman dan tanah serta dapat mengubah laju mineralitas tanah, baik secara fisik maupun secara hayati. Pengaruh lain yaitu terdapat peningkatan konsentarsi proton dalam larutan tanah sampai pada suatu keadaan dimana ion-ion hara tidak pada konsentrasi yang efektif untuk diserap akar tumbuhan. Sehingga tanah yang mempunyai kandungan logam tukar yang rendah akan lebih cepat menjadi tanah yang masam.
Dalam hal pertanian, keasaaman sangatlah berpengaruh, terutama bagi kelangsungan hidup tanaman. Contoh dari sumber polutan asam adalah berasal dari hujan asam. Akibat yang ditimbulkan adalah dapat mereduksi unsur hara dari tanah yang subur sehingga akan terjadi degradasi kualitas tanah. Keadaan yang sangat asam dapat melepaskan logam berat yang dapat meracuni tanaman yang semula terikat dalam garam (Miller, 1985). Ketoleranan tanaman terhadap asam atau basa artinya bukan berarti toleran terhadap sesuatu yang ekstrem, misalnya toleran terhadap kondisi yang asam sekali atau basa sekali, tapi toleran terhadap keadaan yang mendekati ke asam atau mendekati ke basa. Apabila lingkungan amat sangat asam/basa biji, akar, tunas dapat busuk dan tidak lagi dapat berkecambah, serta tumbuh, karena pada dasarnya perkecambahan membutuhkan keadaan yang medium.
            Biji dalam berkecambah memerlukan kondisi tertentu yang mendukung proses berkecambahnya biji diantaranya kondisi lingkungan yang sesuai. Kadar keasaman tanah sangat mempengaruhi mudah tidaknya suatu biji berkecambah. Tanaman satu dengan yang lain berbeda dalam keperluan pH. Bahkan dalam satu tanaman untuk proses pertumbuhan (perkecambahan, pertumbuhan panjang akar, pertumbuhan panjang akar dan lain-lain) memiliki kebutuhan pH yang berbeda. Benih yang paling toleran dan cocok pada lingkungan pH tertentu yaitu benih yang memiliki gaya berkecambah lebih dari 80%, biji yang digunakan hampir atau bahkan tumbuh semua.
Grafik 1.2 Panjang Akar Tanaman Padi (Oryza sativa)
            Berdasarkan grafik panjang akar tamanan padi (Oryza sativa) diatas menunjukkan bahwa pertumbuhan padi lebih baik pada pH 3, 4, 5 dan 7. Pada pengamantan ke-7 dapat dilihat bahwa pada pertumbuhan panjang akar pada perlakuan pH 5 lebih panjang yaitu 14.35 cm,pada perlakuan pH 3 yaitu 12.05 cm, pada perlakuan pH 4 yaitu 12.00 cm dan pertumbuhan panjang yang terakhir pada  perlakuan pH 7 yaitu 10.32 cm. Bila dilihat dari grafik pertumbuhan panjang akar padi diatas hal ini sesuai dengan teori pertumbuhan yang baik terjadi pada pH 5 -6, karena pH dalam keadaan tersebut merupakan keadaan optimum dimana tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, kemudian pada pH 7 pertumbuhan akar kurang baik hal ini di karena dalam keadaan terlalu netral dan kandungan hara yang tersedia dalam tanah dalam jumlah yang sedikit. Faktor lain yang mempengaruhi juga selian pH juga terdapat faktor genetis pada benih yang di uji. Karena faktor tersebut maka dapat mempengaruhi pertumbuhan yang baik bila pH mendekati netral.
Grafik 1.2 Panjang Batang Tanaman Padi (Oryza sativa)
            Berdasarkan grafik panjang batang tanaman padi (Oryza sativa) diatas pada pengamatan ke-7 menunjukkan pertumbuhan panjang batang tanaman padi yang paling baik pada perlakuan pH 5 yaitu 16.60 cm, pada perlakuan pH 4 yaitu 16.60 cm, pada perlakuan pH 3 yaitu 15.31 cm dan pada perlakuan pH 7 yaitu 15.14 cm. Pada pertumbuhan panjang batang yang paling baik dari pengamatan pertama hingga ketujuh adalah pH 5 bila dibandingkan dengan perlakuan pH lainnya.Hal ini sesuai dengan teori , pada pertumbuhan batang akan terganggu apabila terjadi pada lingkungan tempat tumbuhan tersebut bersifat asam dan pertumbuhan pada pH 5 pertumbuhan pada tanaman cukup baik bila dilihat dari grafik dan faktor yang mendukung pertumbuhan tanaman seperti nutrisi dan intensitas cahaya matahari yang cukup kemudian lingkungan dengan pH yang mendekati netral merupakan pH yang ideal untuk pertumbuhan tanaman dengan baik.
            Pada percobaan pengamatan kali ini diamati juga vigor benih padi (Oryza sativa) selama 7 hari. Vigor benih merupakan kemampuan benih untuk tumbuh secara normal pada keadaan lingkungan yang optimal. Dalam bidang pertanian vigor benih mencirikan kemampuan produksi suatu tanaman. Jika benih yang bervigor tinggi maka akan dicapai tingkat produksi yang tinggi. Vigor benih yang tinggi dicirikan antara lain tahan disimpan lama, tahan terhadap serangan hama penyakit, cepat dan merata tumbuhnya, serta mampu menghasilkan tanaman dewasa yang normal dan berproduksi baik dalam keadaan lingkungan tumbuh yang sub optimal. Rendahnya vigor pada benih dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain faktor genetis, fisiologis, morfologis, sitologis, mekanis dan mikrobia.
Grafik 1.3 Indeks Vigor Tanaman Padi (Oryza sativa)

            Berdasarkan grafik indeks vigor tanaman padi (Oryza sativa) diatas terdapat pada perlakuan menggunakan pH 3, 4, 5 dan 7. Indeks vigor tanaman padi paling tinggi terdapat pada perlakuan pH 4 yaitu 5.00, indeks vigor pada pH 5 yaitu 4.50, sedangkan indeks vigor pada pH 3 dan 7 yaitu 3.50. pada pH 4 puncak pertumbuhannya pada hari kedua. Hal ini menunjukkan padi dapat tumbuh dengan baik dengan pH 4 sampai pH 7. Akan tetapi hasil ini tidak sesuai dengan teori dimana pertumbuhan yang baik terjadi pada pH 7 atau mendekati netral . Faktor lain yang mempengaruhi ada pertumbuhan hama seperti jamur, baik secara langsung dan tidak langsung mempengaruhi pertumbuhan benih. Pertumbuhan terhenti pada hari keempat mungkin diakibatkan kompetisi dalam memperoleh air untuk kebutuhannya.
Histogram 1.1 Gaya Berkecambah Tanaman Padi (Oryza sativa)
            Berdasarkan grafik berkecambah tanaman padi (Oryza sativa) di atas hasil  gaya berkecambah pada masing-masing perlakuan kondisi pH3, 4, 5, dan 7 menunjukkan pada dapat berkecambah pada kondisi yang baik karena gaya berkecambag tanaman padi berada diatas 80 %, hal ini berarti menandakan benih padi tersebut cocok pada kondisi pH 3, 4, 5,dan 7. Akan tetapi menurut teori tidak sesuai karena percambahan yang baik pada tananam adalah pada saat kondisi pH 7 atau mendekati netral jika pada kondisi lingkungan yang asam maka akan memperlambat proses perkecambahaan benih.
Grafik 1.4 Rasio Panjang Akar/Panjang Batang Tanaman Tanaman Padi (Oryza sativa)
            Berdasarkan histogram rasio panjang akar atau panjang batang tanaman padi (Oryza sativa) diatas menunjukan bahwa tanaman padi (Oryza sativa) memilki rasio panjang akar atau batang paling baik pada perlakuan pH 3 pada pengamantan hari ke-2 yaitu 3.72 cm, pada rasio panjang akar atau batang paling baik perlakuan pH 4 pada pengamantan hari ke-3 yaitu 3.20 cm hari. Dimana pertumbuhan terbaik tanaman padi terdapat pada pH 3 pada kondisi asam. Hal ini tidak sesuai dengan teori karena tanaman padi (Oryza sativa) pada pertumbuhannya kurang menyukai pH yang asam dalam pertumbuhannya, selain itu pada kondisi asam dapat menghambat pertumbuhan batang dan akar pada benih.








VI. KESIMPULAN
1.      Lingkungan pH berpengaruh terhadap perkecambahan tanaman padi (Oryzasativa). Hal ini dapat dibuktikan pada pertumbuhan tanaman padi pada pH rendah tanaman padi dapat berkecambah, serta pertumbuhan optimal tanaman padi pada pH tertentu tepatnya pada pH 5 sampai pH 7.
2.      Tanaman Padi (Oryzasativa) merupakan tanaman yang toleran terhadap asam, hal ini dibuktikan dengan pertumbuhan padi yang cukup baik pada pH 5 hingga pH 7 pada indeks vigor.





















DAFTAR PUSTAKA
Cody. 1999. WhataretheEffects of Acid Rain on Germination. The National Academy Press,       Washington.
Fardiaz, S. 2008. Polusi Air dan Udara. Kanisius, Yogyakarta.
 Lin, Cui. 2011. Effect of acid rain corrosion behavior of mild steel. Jorunal of Iran and Steek Research 23:18-23
Miller, T. 1985. Evironmental Science. Wadsworth Incorporation, California.
Pramono, E. 2007.Pengaruh pH tanah pada perkecambahan benih. Jurnal Ilmu Pengetahuan          13: 246-247.
Wang, L., X. Huang, Q.Zhuo. 2011. Response of perioxidase and Catalase to acid rain stress during seed germinination of rice and rape. Frontiers of Environmen science Journal 3: 364-468.
Sant’Anna-Santos, B.F., L.C. da Silva, A.A. Azevedo, and R. Aguiar. 2006. Effects of stimulatedacidrain on leafanatomyandmicromorphology of Genipa American L. BrazillianArcheives of Biologyand Technology 49:313—321.















10341724_643136132422302_6225616311216953663_n.jpgLAMPIRAN
10363904_643136972422218_6937492497629740332_n.jpg


10382977_643136332422282_8255913360671507728_n.jpg